Rabu, 19 Agustus 2009

Mencari Kenikmatan Shalat.

Saya diminta untuk berbicara tentang nikmat shalat. Terlebih dahulu kita akan bertanya, “di mana letak kenikmatan shalat itu?

Ada kawan saya yang telah mendatangi beberapa guru, belajar beberapa aliran tarekat, dengan maksud ingin merasakan kenikmatan shalat. Dia pernah hadir dalam sebuah pengajian. Dari gurunya, dia diberi bermacam macam bacaan yang harus diucapkan sebelum shalat; agar shalatnya memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan

Dia shalat bersama kawannya yang lain. Semua orang menangis terisak isak waktu shalat. Dia sendiri tidak biasa menangis. Dia memandang kenikmatan shalat itu berasal dari tangisan. Makin keras menangis diwaktu shalat, makin banyak air mata keluar, makin terasa shalat itu nikmat baginya.

Kawan saya ini, seorang purnawirawan, sukar sekali menangis kalau shalat. Tetapi dia bercerita kepada saya bahwa dia mudah menangis, kalau dia melihat dalam televisi atau mendengar radio seorang anak manusia yang menderita karena dianiaya atau disakiti hatinya. Dia memperoleh kenikmatan dalam menangis itu, tetapi tangisan yang sama tidak bias dia keluarkan ketika dia shalat.

Kawan saya itu bertanya bagaimana caranya menangis dengan keras dalam shalat. Dia ingin merasakan kenikmatan shalatnya. Pada saat itu saya katakan kepadanya, “bapak lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang lain ketimbang menangis pada waktu shalat. Menangis yang pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua. Menangis di waktu shalat mungkin hanya menguntungkan diri anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu.

Kawan saya lalu bercerita “betul saya pernah menyaksikan seseorang dalam rombongan jamaah haji. Ketika dia shalat di masjidil haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari masjid! Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak bekas tangisan itu di luar masjidil haram itu.”

Buat saya, kenikmatan shalat tidak diukur dengan kemempuan menangis. Memang tidak ada jeleknya menangis ketika shalat. Nabi sendiri mengajarkan kepada kita untuk menangis. Beliau bersabda: “kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu dapat menangis”.

Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di tengah malam, pernah Rasulullah saw bangun. Dia menemuinya dan mengatakan :”hai Aisyah, izinkanlah saya beribadah pada Tuhanku”. Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada Tuhanmu.” Lalu Rasulullah mengambil wadah air satu satunya perkakas rumah tangga di rumahnya untuk berwudu dan melakukan salat.

Siti Aisyah bercerita, baru saja Rasulullah mengangkat tangannya, ketika dia memasuki surah yang dibacanya, Rasulullah terisak - isak menangis. Bilal bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa - dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” waktu itu Rasulullah menjawab, “bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”

Kemudian Rasulullah bersabda:”pada malam ini turun satu ayat al-Quran. Celakalah orang yang membaca ayat al-Quran ini, tapi tidak merenungkan maknanya. Kemudian Rasulullah membacakan ayat:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS 3:190)

Rasulullah Saww shalat dalam keadaan menangis. Para awliya’, orang orang shaleh juga menangis pada waktu shalat. Kita juga dianjurkan, kalau bisa, shalat dalam keadaan menangis.

Karena orang melihat contoh dari Rasulullah Saww, sahabat, dan para kekasih Allah, maka mereka menduga bahwa kenikmatan shalat hanya terletak pada tangisan. Kalau dia tidak bisa menangis pada waktu shalat, maka orang membuat cara bagaimana membuat suasana agar bisa menangis ketika berdoa. Sehingga ada yang kita sebut rekayasa spiritual

Dahulu dan mungkin belakangan ini ada anak - anak muda yang dididik dalam training - training; apakah itu pesantren kilat, atau studi islam intensif, atau apa saja namanya. Pada hari terakhir acara biasanya, pada tengah malam, diadakanlah apa yang disebut renungan suci. Renungan suci ini dinilai berhasil apabila semua peserta menangis terisak-isak. Lebih berhasil lagi kalau dia menangis histeris dan sesudah itu dia dirawat di rumah sakit jiwa.

Mereka berkata bahwa dengan tangisan itu orang merasakan kenikmatan shalat. Sekali lagi, itu tidak salah. Kalau bisa menangislah ketika shalat itu. Sadari segala dosa-dosa dan perbuatan yang tercela. Mohonkan ampunan di waktu shalat.

Akan tetapi, biasanya dari pengalaman banyak orang dan juga dicontohkan oleh Rasulullah Saww, shalat dengan menangis itu umumnya hanya bisa dilakukan kalau kita sedang melakukan shalat malam. Saya belum membaca keterangan hadis Rasulullah Saww bahwa beliau menangis pada waktu shalat fardhu. Kita hanya mendengar riwayat tangisan Rasulullah itu ketika beliau melakukan shalat sunat, terutama sekali shalat malam.

Nabi mengajarkan kepada kita bagaimana cara menangis ketika Shalat malam. Akan saya sampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dan lakukanlah apa yang diajarkan oleh Rasulullah itu. Saya menjamin bahwa saudara akan terisak-isak menangis ketika melakukannya.

Pertama, ketika shalat malam, shalatlah dua rakaat, dua rakaat, karena Rasulullah Saww paling sering melakukan shalat malam dua rakaat. Sesudah empat kali dua rakaat, anda lakukan lagi shalat dua rakaat lagi yang disebut dengan shalat syafa’. Pada rakaat pertama, anda baca surah al-fatihah dengan al-kafirun; dan pada rakaat yang kedua, anda baca surah al-fathihah dengan al-ikhlas. Kemudian lakukanlah shalat witir.bacalah surah al-fathihah, surah al-falaq dan surah an-nas. Kemudian bacalah istighfar tujuh puluh kali. Aku memohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

Memohon ampunan di waktu dini hari, pada saat shalat malam ditegaskan di dalam al-Quran sebagai salah satu tanda orang-orang yang bertakwa.

Dan di akhir-akhir malam mereka memohon kepada Allah (QS 51:18)

Setelah istighfar, sebelum ruku’, bacalah doa:”hadza maqamul aidzi bika minannar” yang artinya, “Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka,” sebanyak 7 kali



Sesudah itu, doakan kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang. Kemudian kita berdoa untuk diri kita sendiri. Lalu kita ruku, iktidal, sujud, tahyat kemudian salam.

Insya Allah, anda akan merasakan kenikmatan menangis pada waktu dini hari. Menangis di hadapan Allah SWT.

Mengapa? Pada waktu shalat fardhu kita malah dianjurkan untuk memperpendek bacaan shalat, karena boleh jadi ada orang yang hendak melakukan keperluannya di tempat lain. Mungkin juga ada orang yang sangat tua, atau ada di antara pengikut shalat yang sedang sakit. Karena itu Rasulullah hanya memperpanjang shalatnya pada saat beliau melakukan salat malam. Pada shalat fardhu Rasulullah tidak melazimkan melakukan shalat yang panjang.

Saya kira bahwa menangis yang tulus, tanpa rekayasa, adalah menangis pada waktu kita menangis dalam keadaan ramai-ramai, padahal boleh jadi sebab tangisan itu adalah sugesti kelompok; karena kita mendengar orang lain sesenggukan, kita ikut menangis juga.

Mungkin ada orang yang tulus juga dalam menangis pada shalat bersamaan itu, tetapi saya kira lebih tulus lagi kalau anda menangis pada waktu sendirian, ketika kita berduaan dengan Allah SWT. Tangisan yang keluar spontan. Tangisan yang ikhlas. Dan mata yang menangis karena Allah SWT. Artinya, kalau seseorang menemukan tanda-tanda seperti yang diungkapkan oleh hadis tersebut dalam shalatnya, maka insyaAllah dia akan menemukan kenikmatan shalat dalam bentuk yang lain. Dia akan merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari shalatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis saja, tetapi juga kenimatan yang lain.

Kalau selama ini shalat kita belum mendatangkan kenikmatan, maka besar kemungkinan shalat kita belum diterima oleh Allah SWT. Rasulullah Saww yang mulia bersabda:”pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah SWT. Bahkan ada yang celaka dengan shalatnya. Allah SWT berfirman:

Celakalah orang-orang yang shalat. yaitu orang orang yang melalaikan shalatnya (QS 107:4-5)


"Bundel al-Tanwir" Yayasan Muthahhari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar