Sabtu, 22 Agustus 2009

PUASA RAMHADAN : AYO … BELAJAR “MAKAN SEJATI”

PUASA RAMHADAN :
AYO … BELAJAR “MAKAN SEJATI”

(Rangkuman bebas dari tulisan Emha Ainun Najib)

Ilmu dari Rasulullah Muhammad SAW : Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Hampir seluruh ummat Islam mengetahui ilmu ini… ya mengetahui… memiliki ilmunya … tetapi belum “Ngelmu”… termasuk diri saya sendiri…

Ya.. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang… adalah sebuah formula tentang kesehatan hidup… tidak hanya menyangkut tubuh… tetapi juga mental. Ilmu ini adalah sebuah contoh soal … yang lebih dari sekedar teori keilmuan… tentang keefektifan dan efisiensi…

Beralih ke hal lain… selama ini pemahaman budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang “Profesional” dan hanya mencari uang..uang..dan uang dikatakan sebagai “budak perut”. Para koruptor dijuluki “Hamba perut” yang mengorbankan kepentingan rakyat demi perutnya sendiri…

Salah… mereka itu bukan hamba perut. Sebab kebutuhan perut amatlah terbatas dan sederhana. Ia hanyalah penampung dan distributor zat yang diperlukan tubuh… sisanya dibuang. Perut nggak pernah ngambek… apakah kita makan pecel… gorengan… atau pizza.

Sebenarnya … yang terlalu menuntut adalah Lidah. Perut ndak pernah nolak untuk dimasuki makanan yang harganya Cuma 500 rupiah… tetapi lidah akan mendorong kita … harus mengeluarkan uang … sepuluh ribu… seratus ribu… bahkan jutaan…

Lidah… bagian tubuh kita yang satu ini hidup di antara dua alam… separuh tubuhnya masuk dialam Jasmani… separuh tubuhnya lagi masuk kea lam rohani… Tubuh yang masuk ke Dunia Jasmani… menuntut kita untuk memanggul hal-hal komplek mengenai Rasa dan selera… tidak cukup hanya sekedar 4 sehat 5 sempurna yang semestinya bisa kita dapatkan di warung tegal… ia membutuhkan “variasi dan kemewahan”. Bagian lidah yang masuk ke alam rohani… memikul penyakit yang berasal dari “dunia misterius”… yang bernama “mentalitas”, “nafsu”, “kecenderungan2 aneh yang menyifati budaya manusia”

Sebetulnya Perut hanya butuh 4 sehat 5 sempurna… oleh lidah …manusia diperdaya untuk menciptakan budaya “Status Sosial”, gengsi, feodalisme, orang kaya… serta penyakit2 jiwa manusia lainnya.

Ya…lidah mempunyai kemampuan untuk menipu otak… hai otak!!! Perut butuh pasokan makanan yang enak-enak… yang mewah… yang berkelas. Dan manusia pun diperintah otaknya sesuai dengan informasi dari “lidah” bukan dari “perut”…

Makan tidak lagi sejati… sudah dipalsukan… dimanipulasi… menjadi urusan “kultur kebudayaan”… yang biayanya sangat mahal!... sebab bagi lidah makan itu tidak sekedar makan… tempat makannya harus bagus… pelayannanya memuaskan… ada musiknya… ada karaokenya….

Gara-gara “manipulasi urusan perut” ini … manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, korupsi, bahkan berperang… membunuh satu sama lain…. Padahal perut hanya butuh “makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang”

Kembali lagi…. Apakah “makan sejati” itu… makan yang sungguh-sungguh untuk perut… karena kita cenderung “memberi makan pada nafsu”…

Kita butuh “Makan sejati”… karena volume perut itu sangat terbatas… Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri… sementara nafsu… ia adalah api…yang selalu membesar dan membesar… yang mampu membakar “filosofi makan” sampai hangus… dan pada saatnya dia menjadi salah satu factor… beribu-ribu konflik dan ketidakadilan dalam sejarah manusia.


Puasa = belajar mengenal “makan sejati” = belajar mengenal “kebutuhan sejati”

Puasa selalu diartikan “peperangan melawan hawa nafsu”… hal itu betul… mungkin barangkali… pengetahuan dan ilmu kita tentang “musuh” yang harus diperangi kita tidak bertambah… akhirnya strategi dan tektik perang melawan “musuh” kita kurang berkembang… dan akhirnya setelah puasa (bahkan ketika puasa)… kita dikalahkan “musuh” kita.

Sering kita mendengar “nafsu makan”… pikiran kita langsung menunjuk ke “makan”… bukan ke “nafsu”nya. Kalau istri/ibu kita ke pasar… maka yang dibeli adalah “pesanan-pesanan” nafsu… bukan “kapasitas kebutuhan makan”. Setiap kita khususnya “para pelaku puasa” punya pengalaman cenderung mendambakan dan menumpuk berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari… kemudian ketika berbuka…kita semua baru tahu… perut sama sekali tidak membutuhkan makanan sebanyak… dan semewah itu

Dari hal itu, semestinya kita petik pelajaran… kesanggupan kita memilah “kebutuhan makan” dan “dorongan nafsu”… jadi puasa bukanlah pertempuran “tidak boleh makan/minum”… tetapi melawan nafsu itu sendiri yang menuntut “pengadaan lebih” dari sekedar makanan.

Untuk tidak makan mulai subuh sampai magrib itu jauh lebih gampang dan lebih ringan … bila dibandigkan “tidak bernafsu makan”…terutama bagi para “PENGHAYAT MAKAN SEJATI”

Seorang “Sufi/Penghayat/Kejawen sejati”… makan hanyalah berkonteks “kesehatan tubuh”… dalam hidupnya pernah ingat lagi sama “makan”… kecuali ketika perutnya lapar… bukan nafsunya yang lapar… Ia bukan lagi “menipu dirinya” untuk “makan ketika lapar”… ia betul-betul tidak ingat… sampai perut mengingatkannya bahwa ia lapar.
Untuk ingat lapar… cukup perut yang mengingatkanya… untuk “berhenti sebelum kenyang” manusia memerlukan dimensi-dimensi kerohanian yang tinggi untuk mengingatkannya… memerlukan nalar ilmu kesehatan tentang “makan yang sehat”, yang “tidak kurang dan tidak lebih”… memerlukan ilmu dan kearifan yang lebih tinggi untuk melatih “ketepatan kapasitas makan” … agar ia memperoleh ketepatan “makan” di bidang-bidang lainnya dalam kehidupan yang luas ini.

Percayalah …”makan sejati”nya Rasulullah… juga berlaku untuk “makan” disegala bidang lainnya

Renungkan…Bermilyar-milyar…bahkan trilyunan rupiah dihambur-hamburkan untuk “pelayanan nafsu” bukan “pelayanan kebutuhan”… bahkan orang sudah tidak peduli lagi akan rasa enak…sehat..bermanfaat dengan harga murah… tetapi banyak orang yang “makan merk”… yang terjadi justru bukan “efektif dan efisien”… justru kedholiman dan ketidak adilan dikehidupan ini… yang kita takutkan adalah hadirnya azab.. yang terkait dengan “Firman Allah” … barang siapa yang berbuat kerusakan di muka bumi ini… tunggulah azab-Ku”….

Puasa mengajarkan dan melatih pelaku-pelakuknya untuk makan (baca : memiliki) sejumlah uang dan kekayaan… untuk bersedia menggenggam kekuasaan … atau apa sajalah… hanya ketika benar-benar dalam keadaan “lapar sejati”… bukan dalam keadaan “merasa lapar karena nafsu”

Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, Cinta, dan ketaqwaan… ia akan terlatih untuk mengambil jarak dengan nafsu. Terlatih untuk tidak menumpuk kekuasaan dan milik, tidak melakukan monopoli, ketidakadilan, penindasan… karena si pelaku “makan sejati” akan tahu bahwa itu…”makanan semu”

Tetapi apa kenyataannya sekarang… banyak orang makan… bahkan makan manusia tak henti-hentinya makan…padahal dia tidak lapar… sudah kenyang… kenyang sekali… Astagfirullah…

Untung…untung…, bagi para pelaku “puasa sejati”, kesabaran untuk menyaksikan keburaman hidup semacam itu… justru dapat meningkatkan perolehan kemuliaan dan kesejatianntya … menuju insane kamil…. Amin…

(Iwan Agung Prasetyo, 21 Agustus 2009, 16.00…. lagi nglantur dan pingin ngoceh… setelah baca bukunya Emha Ainun Najib : Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiayi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar