Rabu, 19 Agustus 2009

Shalat Yang Diterima Tuhan.

Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang ada hubunganya dengan salat dan ada pula hubungannya dengan kemasyarakatan.

Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Rasulullah Saww. Pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman, orang-orangnya berkumpul di masjid berjamaah tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mukmin.”

Dalam hadis lain, yang dimuat didalam kitab Kanzul ‘Ummal, Rasulullah saw. Juga bersabda: “ nanti akan datang suatu zaman; seorang muadzin beradzan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi diantara mereka tidak ada yang mukmin”.(hadis no.3110)

Sabda-sabda Rasulullah yang mulia di atas menarik bagi kita karena ada sekelompok orang berjamaah melakukan shalat tetapi tak ada seorangpun di antara mereka yang mukmin.

Pada gilirannya muncul sebuah pertanyaan di benak kita, “mengapa shalat yang mereka lakukan tidak di anggap sebagai tanda seorang yang mukmin? Dan mengapa orang yang shalat di masjid itu tidak dihitung sebagai orang yang mukmin?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukan tanda-tanda orang mukmin itu. Shalat bukanlah tanda bahwa seseorang dianggap mukmin, tetapi shalat merupakan tanda bahwa dia sebagai orang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah shalat ditambah dengan yang lain-lain.

Saya ingin menyebutkan karakteristik orang mukmin yang dimuat dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah yang mulia bersabda:

1. Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.

2. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.

3. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia berbicara yang benar, dan kalau tidak mampu bicara dengan baik, maka lebih baik ia berdiam diri.

4. Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu.

Dengan hanya mengambil empat buah hadis itu anda melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya.

Kalau dia menghormati tetangganya, kalau dia menyambungkan tali persaudaraan, dan kalau dia berbicara benar atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan yang dirasakan oleh saudara di sekitarnya, maka baru boleh dikatakan bahwa dia adalah seorang mukmin.

Jadi, dengan kata lain, Rasulullah saw. Menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman yang orang-orangnya berkumpul di masjid untuk mendirikan shalat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan tali persaudaraan di antara kaum muslim. Dia menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap kaum muslim. Mereka melaksanakn shalat tetapi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan salat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang melakukan shalat, akan tetapi tidak diterima shalatnya.


Rasulullah Saww. Juga pernah bersabda: “ada dua orang umatku melakukan shalat, yang rukuk dan sujudnya sama, akan tetapi nilai salat kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”?

Dalam hadis qudsi, juga disebutkan tentang orang yang diterima shalatnya oleh Allah SWT:

Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hanya akan menerima shalat dari orang yang dengan shalatnya ia merendahkan diri ke hadapan-Ku. Ia tidak sombong dengan makhluk-ku yang lain. Ia tidak menulangi maksiat kepada-ku. Ia menyayangi orang-orang yang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup shalat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh malaikat untuk menjaganya; orang itu akan memperkenankanya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima shalatnya oleh Allah SWT. Pertama, dia datang untuk melaksanakan shalat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan istilah khusyu’. Dan shalat yang khusyu’ adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan shalat khusyu’ itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena yang tidak apapun itu disebut pingsan

Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as. kalau beliau hendak melakukan shalat tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya,”mengapa anda ya amirul mukminin?”

Imam Ali menjawab,”engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah.” Kemudian Imam Ali membacakan sebuat ayat Al-Qur’an:

Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh menusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS 33;72)

Kemudian Imam Ali melanjutkan ucapannya, “shalat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya, tetapi mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat mengabdi kepada-Nya.

Kedua, dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, anda orang yang diterima shalatnya ialah tidak takabur. Takabur, menurut Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar dari pada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi karena ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak-buah dan kecantikannya.

Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan shalat anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ”tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja”.

Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur menghinggapi para aktivis masjid atau akitvis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan menganggap dirinya yang paling benar.

Ketiga, tanda orang yang diterima shalatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah SWT. Nabi yang mulia bersabda: “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka shalatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah SWT.”Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. Mengatakan: “nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah. Kemudian shalatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dibantingkan ke wajahnya.”

Allah tidak menerima shalat itu karena shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan maksiatnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah al-Qur’an telah mengatakan

… sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar…. (QS 29:45)

Keempat, orang yang diterima shalatnya ialah orang yang menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern ialah orang yang mempunyai solidaritas social. Dia bukan hanya melakukan ruku’ dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rizkinya untuk membahagiakan orang lain.

Kalau dalam shalat anda, anda sudah merasakan kebesaran Allah dan tidak takabur, dan kalau anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah shalat; dan kalau anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejateraan orang lain, maka Allah akan melindungi anda dengan jubah kebesaran-Nya Allah akan memberikan kepada anda kemulian dengan kemuliaan-Nya, dan akan membungkus anda dengan busana kebesaran-Nya. Di samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu mempreoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS 41:31)

"Bundel al-Tanwir" Yayasan Muthahhari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar