Kamis, 30 Juli 2009

4 Wasiat Tentang Waktu

Dari 114 surah di dalam Al Quran, ada 4 surah yang dinamakan dengan waktu. Empat surah itu adalah QS Al Fajr [89], QS Al Lail [92], QS Adh Dhuhaa [93] dan Al ‘Ashr [103]. Al Fajr sendiri berarti waktu shubuh, Al Lail adalah waktu malam, Adh Dhuha adalah waktu dhuha, dan Al ‘Ashr yang berarti waktu ashar (menjelang matahari terbenam).

Pada keempat surah ini Allah ‘Azza Wa Jalla bersumpah dengan keempat waktu tersebut untuk mengingatkan manusia bahwa betapa pentingnya keempat waktu itu bagi sebuah rangkaian kehidupan manusia. Waktu adalah sebuah modal utama bagi seorang hamba Allah untuk menjalankan segala rangkaian kehidupannya dan tak dapat kembali jika sudah terlampaui. Begitu banyak orang yang akhirnya menyesal karena ia telah menyiakan waktunya yang tak dapat kembali itu. Keempat waktu tersebut memiliki keutamaan baik dari segi hikmah maupun ibadah yang menyertainya.

QS Al Fajr
Pada QS Al Fajr yang berarti waktu shubuh, Allah bersumpah dengan waktu shubuh untuk mengingatkan bahwa manusia itu tidaklah dipandang mulia atau hina dari harta yang Allah SWT anugerahkan kepadanya. Allah berfirman:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dengan memberi kepadanya kelapangan (harta), maka ia berkata: ‘Tuhanku memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka ia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak mengajurkan (saling mengajak) untuk memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan jalan mencampuradukkan (yang halal dan yang bathil) dan kamu mencintai harta benda (dunia) dengan kecintaan yang luar biasa” (Q.S. Al Fajr [89]:15-20)

Ini untuk menjawab kekeliruan pemahaman manusia tentang struktur sosial seseorang selalu dipandang dari apakah ia berpunya atau tidak. Allah memakai kata-kata “menguji” dengan memuliakan hamba-Nya melalui rezeki yang lapang tetapi Allah juga memakai kata-kata “menguji” tidak untuk menghinakan hamba-Nya dengan membatasi rezeki nya.

Allah SWT membantah pemahaman manusia tersebut dengan kalimat ‘Sekali-kali tidak demikian’. Dalam membina kehidupan, seorang manusia selalu lalai atau tidak peduli akan keadaan sekelilingnya (anak yatim dan orang miskin). Demikian juga sumber konflik manusia modern selalu tertumpu pada harta (Dalam ayat ini adalah harta warisan). Ayat ini juga menyampaikan kepada kita bahwa kecintaan pada harta benda (baca Dunia) akan menyebabkan seseorang menjadi hina dihadapan Allah.

Ternyata kemuliaan seorang hamba itu di sisi Allah adalah orang-orang yang selalu peduli pada anak yatim, orang miskin, tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya dan tidak mencintai dunia secara berlebihan.

Keutamaan dari waktu fajr ini adalah dengan diwajibkannya sholat fardhu shubuh (Fajr). Allah SWT menyatakan keutamaannya di QS Al Israa’ [17]:78, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (dhuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya’) dan (dirikanlah pula shalat) shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh para malaikat).”


QS Al Lail
Pada QS Al Lail, Allah SWT bersumpah dengan waktu malam untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang kemuliaan seorang mukmin dan keutamaan amal shaleh mereka. Waktu malam adalah suatu waktu yang amat penting untuk beribadah kepada Allah SWT terlebih di sepertiga malam yang terakhir di saat Allah SWT sangat memperhatikan setiap hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya. Hal ini terdapat di dalam sebuah hadish Qudsi. Rasulullah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit bumi yang paling bawah setiap sepertiga malam terakhir dan berkata: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Ku-kabulkan doanya, siapa yang memohon kepada-Ku, pasti Ku-perkenankan permohonannya, dan siapa yang memohon ampun, pasti Ku-ampuni dosanya.’” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ahmad)

Pada QS Al Lail Allah SWT menyampaikan bahwa kemulian seorang hamba-Nya itu terletak pada keikhlasannya dalam menafkahkan hartanya untuk membantu sesama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al Lail [92]:4-11)

Allah menjanjikan sebuah jalan yang mudah bagi hamba-Nya dalam kehidupan akhiratnya kelak. Sebuah kemudahan dalam menghadapi sakratul maut, ketika terjadi kiamat, ketika bangkit dari kubur, ketika waktu berhisab di padang mahsyar dan akhirnya mendapat surga yang penuh dengan kenikmatan.

Mayoritas ulama menyebutkan surah ini turun sebagai penghargaan Allah SWT kepada Syaidina Abu Bakr ra, ketika Beliau membebaskan Bilal bin Rabbah ra dari siksaan majikannya Umayyah Ibn Khalaf. Pada saat itu Abu Bakr ra harus membayar mahal tebusannya untuk membebaskan Bilal ra. Ini termaktub dalam ayat-ayat akhir dari QS Al Lail:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertaqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhan nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS Al Lail [92]:17-21)


Dari 114 surah di dalam Al Quran, ada 4 surah yang dinamakan dengan waktu. Empat surah itu adalah QS Al Fajr [89], QS Al Lail [92], QS Adh Dhuhaa [93] dan Al ‘Ashr [103]. Al Fajr sendiri berarti waktu shubuh, Al Lail adalah waktu malam, Adh Dhuha adalah waktu dhuha, dan Al ‘Ashr yang berarti waktu ashar (menjelang matahari terbenam).

Pada keempat surah ini Allah ‘Azza Wa Jalla bersumpah dengan keempat waktu tersebut untuk mengingatkan manusia bahwa betapa pentingnya keempat waktu itu bagi sebuah rangkaian kehidupan manusia. Waktu adalah sebuah modal utama bagi seorang hamba Allah untuk menjalankan segala rangkaian kehidupannya dan tak dapat kembali jika sudah terlampaui. Begitu banyak orang yang akhirnya menyesal karena ia telah menyiakan waktunya yang tak dapat kembali itu. Keempat waktu tersebut memiliki keutamaan baik dari segi hikmah maupun ibadah yang menyertainya.

QS Al Fajr
Pada QS Al Fajr yang berarti waktu shubuh, Allah bersumpah dengan waktu shubuh untuk mengingatkan bahwa manusia itu tidaklah dipandang mulia atau hina dari harta yang Allah SWT anugerahkan kepadanya. Allah berfirman:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dengan memberi kepadanya kelapangan (harta), maka ia berkata: ‘Tuhanku memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka ia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak mengajurkan (saling mengajak) untuk memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan jalan mencampuradukkan (yang halal dan yang bathil) dan kamu mencintai harta benda (dunia) dengan kecintaan yang luar biasa” (Q.S. Al Fajr [89]:15-20)

Ini untuk menjawab kekeliruan pemahaman manusia tentang struktur sosial seseorang selalu dipandang dari apakah ia berpunya atau tidak. Allah memakai kata-kata “menguji” dengan memuliakan hamba-Nya melalui rezeki yang lapang tetapi Allah juga memakai kata-kata “menguji” tidak untuk menghinakan hamba-Nya dengan membatasi rezeki nya.

Allah SWT membantah pemahaman manusia tersebut dengan kalimat ‘Sekali-kali tidak demikian’. Dalam membina kehidupan, seorang manusia selalu lalai atau tidak peduli akan keadaan sekelilingnya (anak yatim dan orang miskin). Demikian juga sumber konflik manusia modern selalu tertumpu pada harta (Dalam ayat ini adalah harta warisan). Ayat ini juga menyampaikan kepada kita bahwa kecintaan pada harta benda (baca Dunia) akan menyebabkan seseorang menjadi hina dihadapan Allah.

Ternyata kemuliaan seorang hamba itu di sisi Allah adalah orang-orang yang selalu peduli pada anak yatim, orang miskin, tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya dan tidak mencintai dunia secara berlebihan.

Keutamaan dari waktu fajr ini adalah dengan diwajibkannya sholat fardhu shubuh (Fajr). Allah SWT menyatakan keutamaannya di QS Al Israa’ [17]:78, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (dhuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya’) dan (dirikanlah pula shalat) shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh para malaikat).”


QS Al Lail
Pada QS Al Lail, Allah SWT bersumpah dengan waktu malam untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang kemuliaan seorang mukmin dan keutamaan amal shaleh mereka. Waktu malam adalah suatu waktu yang amat penting untuk beribadah kepada Allah SWT terlebih di sepertiga malam yang terakhir di saat Allah SWT sangat memperhatikan setiap hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya. Hal ini terdapat di dalam sebuah hadish Qudsi. Rasulullah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit bumi yang paling bawah setiap sepertiga malam terakhir dan berkata: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Ku-kabulkan doanya, siapa yang memohon kepada-Ku, pasti Ku-perkenankan permohonannya, dan siapa yang memohon ampun, pasti Ku-ampuni dosanya.’” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ahmad)

Pada QS Al Lail Allah SWT menyampaikan bahwa kemulian seorang hamba-Nya itu terletak pada keikhlasannya dalam menafkahkan hartanya untuk membantu sesama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al Lail [92]:4-11)

Allah menjanjikan sebuah jalan yang mudah bagi hamba-Nya dalam kehidupan akhiratnya kelak. Sebuah kemudahan dalam menghadapi sakratul maut, ketika terjadi kiamat, ketika bangkit dari kubur, ketika waktu berhisab di padang mahsyar dan akhirnya mendapat surga yang penuh dengan kenikmatan.

Mayoritas ulama menyebutkan surah ini turun sebagai penghargaan Allah SWT kepada Syaidina Abu Bakr ra, ketika Beliau membebaskan Bilal bin Rabbah ra dari siksaan majikannya Umayyah Ibn Khalaf. Pada saat itu Abu Bakr ra harus membayar mahal tebusannya untuk membebaskan Bilal ra. Ini termaktub dalam ayat-ayat akhir dari QS Al Lail:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertaqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhan nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS Al Lail [92]:17-21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar