Jumat, 31 Juli 2009

IBRAHIM-NABI YANG MENYATAKAN KEBENARAN DAN KEADILAN

"Hai Ahli Kitab! Kenapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim padahal Taurat dan Injil diturunkan baru sesudah dia? Tiadakah kamu mengerti? Ah! Kamu saling berbantah tentang sesuatu yang kamu ketahui, tetapi kenapa kamu masih ber¬bantah-bantahan juga tentang yang tidak kamu ketahui? Hanya Allah Yang mengetahui, kamu tidak tahu! Ibrahim bukan orang Yahudi dan bukan orang Nasrani, tetapi dia orang yang beriman teguh dan tunduk kepada kehendak Allah (yakni Islam) dan tidak termasuk golongan musyrik" (Q.S. 3: 65-67).

1. Hamba Allah yang Sejati
Ibrahim adalah seorang hamba Allah, Nabi-revolusi¬oner yang memberontak terhadap seorang raja yang me¬nuhankan diri. Sepanjang hidupnya ia berjuang untuk membela kebenaran dan keadilan. Dia menderita di tangan para penindasnya. Dia meninggalkan rumahnya demi mencapai tujuannya dan berpindah ke negeri lain di mana dia berhasil membangun sebuah komunitas kebenaran dan keadilan, cinta kasih dan kesetaraan.
Selama berabad-abad, ajaran-ajaran, perjuangan, dan pengorbanan Ibrahim, seorang Nabi-revolusioner yang besar, untuk tujuan kebenaran, keadilan, dan keselamat¬an manusia yang menderita serta untuk mengangkat harkat kaum lemah dari kepalsuan dan penindasan, telah menduduki tempat utama dalam sejarah sosial dan agama umat manusia.
Ibrahim adalah seorang Nabi besar, seorang pejuang yang berani menerima inspirasi Ilahi yang melawan ke¬kuatan-kekuatan kejahatan, kegelapan, dan tahyul. Dia adalah seorang yang teguh, kawan yang baik hati, pen¬cinta kaum lemah, kepala keluarga yang mulia, pejuang yang teguh, jujur, dan selalu berkata benar yang melawan para tiran, para penindas, dan para pengeksploitasi kaum miskin. Dia tidak pernah berkompromi pada prinsip¬prinsipnya dan selalu tegak berdiri seperti sebuah batu me¬nentang kekuatan-kekuatan kejahatan.
Menurut Al-Qur'an, Ibrahim adalah hamba kebenar¬an yang mengikuti jalan lurus keadilan (hanif) dan kesetara¬an sosial, cinta kasih dan persaudaraan. Dia mengikuti Islam (yang secara harfiah berarti ketundukan seorang yang jujur kepada kehendak Allah, yaitu kebenaran, kesetaraan, dan keadilan) karena semua Nabi adalah Muslim sepanjang mereka tetap membela kebenaran dan berjuang melawan para penindas kaum lemah. Firman Al-Qur'an kepada para revolusioner yang mengikuti Nabi Muhammad Saw.:
"Sudah ada bagimu teladan yang baik (untuk diikuti) pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka ber¬kata kepada kaumnya: Kami berlepas tangan dari apa yang kamu sembah selain Allah; kami mengingkari kamu; dan antara kami dengan kamu timbul permusuhan dan kebencian untuk selamanya, - kecuali kamu beriman kepada Allah semata..." (Q.S. 60: 4).

Peradaban-peradaban besar berkembang dan runtuh di dataran dua sungai besar, Eufrat dan Tigris. Hampir tiga belas abad lamanya sebelum lahirnya Isa al-Masih, di tanah-tanah Kaldea memerintah bagian dari suku-suku Semit yang telah beralih dari suku-suku nomad menjadi suku-suku menetap petani, membangun kota-kota, benteng-benteng, dan kuil-kuil. Negeri Kaldea mem¬bentang dari Teluk hingga ke perbatasan gurun Arab. Ke¬rajaan ini kemudian mengalami kemunduran dan jatuh ke dalam kekacaubalauan kejahatan moral, korupsi, tirani sosial dan agama. Seluruh penduduk tersesat dan me¬nyembah benda-benda langit, seperti matahari, bintang¬bintang, dan api. Ada begitu banyak tuhan - manusia, benda-benda alam, berhala-berhala, yang di atas kepala¬nya berdiri raja yang mengaku tuhan, yang kata-katanya adalah hukum dan putusan-putusannya final, dan yang menganggap dirinya maha kuasa.
Kekerasan di tanah itu menjadi hukum. Orang-orang yang lemah dan miskin diperlakukan sebagai budak dan pekerja-pekerja kasar. Perasaan takut dan tidak aman yang akut, upacara-upacara, dan ritual-ritual yang penuh tahyul telah membuat semua orang harus bersujud di hadapan orang kaya, para pemuka, dan bangsawan¬bangsawan yang berkuasa. Hal ini telah menghancurkan jalinan sosial dan moral serta melepaskan tali kekang peme¬rintahan teror.
Menurut riwayat Injil, Abram (kemudian berganti menjadi Abraham atau Ibrahim), Nahur dan Haran adalah tiga anak lelaki Terah (Azar). Mungkin Azar adalah se¬orang pendeta tinggi negara yang membuat dan menjual berhala-berhala, dan karenanya menggantungkan kekuat¬an dan hak-hak ekonomi istimewanya pada ideologi agama negara. Rumah mereka terletak di kota Ur (yang dalam bahasa Yahudi berarti api) di Kaldea. Ketika kemu¬dian Abram menjadi seorang Nabi, memberontak terhadap para penindas dan menyatukan suku-suku yang saling ber¬perang ke dalam sebuah komunitas yang bersatu, dia mulai dipanggil Ibrahim (Abraham). Dalam bahasa Aramaik, abir berarti seorang pemimpin dan ham berarti orang banyak, jadi artinya seorang pemimpin atau bapak masyarakat.
Kisah terinci tentang kelahiran dan masa kanak-kanak lbrahim tidak diketahui tetapi sebuah legenda mengatakan bahwa ketika ia dilahirkan, raja-tuhan Namrud meme¬rintahkan pada ayahnya untuk menyerahkan bayi itu ke¬padanya untuk dibunuh. Dia berhasil diselamatkan dan sebagai gantinya seorang anak lelaki dari seorang wanita budak dibunuh. Mungkin Ibrahim dibesarkan di sebuah gua atau desa yang jauh dari kota tempat sang raja-tuhan itu. Masa kanak-kanak dan masa muda Ibrahim tetap aman dari pengaruh-pengaruh dan cara-cara orang-orang Kaldea yang amoral dan penuh dosa. Dia membenci cara¬cara korup orang-orang itu, lembaga-lembaga mereka yang opresif dan upacara-upacara serta agama yang penuh takhayul.
2. Ibrahim Menemukan Kebenaran
Ibrahim tumbuh di antara orang-orang Kaldea yang memiliki banyak pengetahuan tentang astronomi dan astrologi karena mereka menyembah bintang-bintang dan benda-benda langit. Sejak zaman dahulu kala orang-orang Kaldea dikenal sebagai 'orang-orang bijak' karena pe ngetahuannya tentang benda-benda langit dan pergerak¬annya. Setelah ia menerima panggilan keNabian dan sesudah inspirasi ilahiyahnya diterapkan pada faktor¬faktor riil dan sebab-sebab kemunduran moral dan sosial¬ekonomi umatnya, dia mengeksplorasi apa yang ada di belakang fenomena fisik-sosial itu. Dia menolak upacara¬upacara dan ritual-ritual negara; dan ini berarti sebuah pemberontakan terhadap raja-tuhan dan lembaga-lem¬baga, ide-ide, dan praktek-praktek sosial-ekonomi yang korup. Ibrahim menemukan hukum-hukum dan dalil-dalil yang mengatur jagat raya ini. Dia menemukan sebab-sebab kebusukan sosial dan kematian moral umatnya. Baginya, akar-sebab dari korupsi, tirani, dan penindasan terhadap manusia, kelompok dan kelas-kelas yang lemah adalah rasa takut terhadap sang raja-tuhan dan para penindas yang berkuasa, yang menanamkan kepalsuan dan kejahatan dalam pikiran dan hati masyarakat. Bersujud di hadapan manusia, di hadapan patung-patung pahlawan, berhala-berhala hawa nafsu dan birahi, keinginan dan ketamakan¬ketamakan, kepalsuan dan dorongan-dorongan, ke¬angkuhan dan cinta pada diri sendiri adalah jalan pasti menuju kehancuran dan kebinasaan karerta perilaku mem¬perbudak dan kejam seperti itu praktis telah menjauhkan umatnya dari keberanian, kebenaran, kejujuran, kesetara¬an, dan cinta kasih. Ibrahim menemukan kebenaran ini sebagai seorang ilmuwan-Nabi. Secara bertahap kesadaran ini terbit di dalam pikirannya. Dia menemukan kebenaran dalam penderitaan dan penganiayaan, dalam sebuah proses gradual. Dia telah melihat bahwa korupsi, kejahat¬an, dan penindasan telah menggelapkan dan mengeras¬kan pikiran dan hati umatnya. Mereka tidak dapat mem-bedakan yang baik dari yang buruk, dan yang sejati dengan yang palsu. Penemuan kebenaran utama ini di¬gambarkan oleh Al-Qur'an dalam gaya alegorisnya yang indah:
"Tatkala malam yang gelap tiba ia melihat sebuah bintang; ia berkata: 'Inilah Tuhanku'. Tetapi setelah bintang terbenam, ia berkata: 'Aku tidak menyukai segala yang terbenam'. Tatkala ia melihat bulan timbul ia berkata: 'Inilah Tuhanku'. Tetapi setelah bulan terbenam, ia berkata: 'Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk pastilah aku jadi orang yang sesat'. Tatkala ia melihat matahari terbit ia berkata: 'Inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar'. Tetapi setelah matahari terbenam, ia berkata: 'Hai masyarakatku, aku lepas tangan dari segala yang kamu persekutukan. Kuhadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi sebagai penganut agama hanif - yang jauh dari syirik dan aku bukanlah golongan musyrik'. Dan golongannya membantahnya. la berkata: 'Kamu hendak membantahku mengenai Allah padahal la sudah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut apa yang kamu persekutukan kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhan meliputi segalanya. Tidak jugakah kamu mau menerima sebagai peringatan". (QS.6:76-80)

Ibrahim dengan gamblang menyatakan kebenaran yang telah ditemukannya. Dengan tegas ia mengatakan bahwa ia menolak raja-tuhan, para pemuka dan bangsa¬wan-para penindas rakyat jelata yang miskin; dan bahwa dia memberontak terhadap cara-cara hidup mereka yang amoral, sistem sosial mereka yang korup, lembaga-lembaga mereka yang tidak adil, agama mereka yang penuh tahyul yang telah dengan keliru menisbahkan kekuatan-kekuatan kepada manusia-manusia korup, dan dengan demikian menyesatkan masyarakat.

3. Perang Melawan Ketidakadilan
Sebenarnya ini adalah pernyataan perang melawan kekuatan-kekuatan kejahatan dan korupsi, melawan dis¬kriminasi dan ketidakadilan, melawan kekuatan ekonomi dan politik para penguasa dan hukum mereka yang palsu. Dia coba dibujuk, tetapi ia tidak pernah goyah di jalan kebenaran. Dia keras hati dan tetap sabar dalam meng¬hadapi penganiayaan. Semua orang meninggalkannya.
Para penguasa yang korup menghinakannya. Bahkan ayah dan keluarganya serta kaumnya membiarkannya dianiaya dan akan dibunuh. Hanya istrinya, Sarah, dan keponakan-nya, Luth, yang memihak padanya pada saat-saat ber¬bahaya. Karena dia berbeda pendapat dengan kaum pe¬nindas, mereka mengancam akan membunuhnya. Tetapi dia tidak peduli.
Dia telah menemukan kebenaran dan benar-benar yakin bahwa dia berada di jalan yang benar. Dia bebas dari tahyul-tahyul, keinginan-keinginan, harapan-harap¬an, dan milik-milik palsu. Sekarang dia mengundang mereka untuk memeluk kebenaran yang dibawanya, untuk menjadi jujur dan berani, serta tunduk dan patuh kepada satu Tuhan Yang Maha Tinggi (yaitu Kebenaran dan Kesetaraan sosial). Dia menunjukkan kepada mereka bahwa dia benar-benar diberi petunjuk dan bahwa tidak ada dasar bagi penindasan dan diskriminasi.
Ibrahim adalah seorang Nabi-revolusioner yang penuh dedikasi. Dia mengabdi kepada kebenaran dan keadilan. Masyarakat Kaldea dengan teguh tetap berpegang pada lembaga-lembaga sosial dan ekonomi yang sudah bobrok itu dan dengan membabi buta mengikuti adat-istiadat dan tradisi-tradisi amoral dari para leluhurnya. Ketika pecah perang antara dia dengan para peninda.s itu, dia diancam dengan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan karena dia menyerang tuhan-tuhan dan agama palsu mereka. Tetapi dia tidak gentar dan tidak takut. Tidak ada yang ditakutinya selain Allah. Dia bijaksana, berani, dan rendah hati.
Ibrahim dihadapkan ke muka Pengadilan Tinggi, Jalu diadili dan dijatuhi hukuman mati. Dia dinyatakan ber¬salah atas usahanya menghancurkan tatanan sosial yang sudah mapan dan atas tindakannya membahayakan agama negara, tuhan-tuhan mereka, stabilitas sosial, dan ketenangan. Dia adalah seorang pemberontak yang men¬dorong orang-orang yang tertindas untuk menggulingkan tatanan sosial yang korup.
Dia dinyatakan sebagai seorang pemberontak dan di¬siksa, serta dilemparkan ke dalam tumpukan kayu api yang menyala, tetapi dia tetap segar bugar. Mereka tidak dapat membunuhnya. Kemudian mereka mengatur ber¬bagai strategi untuk menyingkirkannya dari tengah¬tengah mereka. Penghinaan dan penyiksaan yang di¬terimanya kian meningkat dan musuh-musuhnya mulai menghabiskan semua energi mereka untuk dapat bebas darinya. Dia memutuskan untuk pindah ke barat, ke negeri Aram atau Syria yang subur, dan kemudian ke selatan, ke negeri Kanaan di Palestina. Pada saat itu Palestina adalah sebuah propinsi bagian dari Mesir.
Perjuangannya melawan para penindas dan keputusannya untuk pindah itu, dengan indah digambarkan dalam ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an berikut ini:
"(Juga) ceritakanlah dalam Kitab (kisah tentang) Ibrahim; dia mencintai kebenaran, dan seorang Nabi. Ingatlah, ketika ia berkata kepada ayahnya: 'Ayah, kenapa Ayah menyembah sesuatu yang tidak mendengar dan tidak melihat, dan sedikit pun tidak memberi manfaat kepada Ayah? Ayah, saya sudah memperoleh ilmu yang tidak diperoleh Ayah; maka ikutlah saya, saya akan menunjukkan kepada Ayah jalan yang rata dan lurus. Ayah, jangan mengabdi kepada setan, karena setan berbuat durhaka kepada (Allah) Maha Pemurah. Ayah, saya khawatir azab dari (Allah) Maha Pemurah akan menimpa Ayah, maka setan yang menjadi teman Ayah'. (Ayahnya) berkata: 'Bencikah engkau pada dewa-dewaku, hai Ibrahim? Jika kau belum berhenti juga, akan kurajam kau. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama'. (Ibrahim) berkata: 'Salam sejahtera bagi Ayah: saya akan memohonkan pengampunan bagi Ayah dari Tuhanku; karena Dia penuh rahmat kepadaku. Dan aku akan memisahkan diri dari kalian dan dari yang kalian seru selain Allah; aku akan berdoa kepada Tuhanku; semoga dengan doaku kepada Tuhanku aku tidak menjadi orang durhaka'. Setelah ia meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Kami karuniakan Ishak dan Yakub kepadanya, dan keduanya masing-masing Kami jadikan seorang Nabi. Dan Kami anugerahi mereka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia". (Q.S.19: 41-50).

4. Migrasi Besar
Demikianlah, Ibrahim meninggalkan ayahnya, kaumnya dan rumahnya di Ur, di Kaldea, demi kebaikan, demi tujuan kebenaran yang tengah diperjuangkannya. Dia tidak berkompromi dengan para penguasa, dengan raja-tuhan dan dengan ayahnya. Tujuan kebenaran ada¬lah hal yang paling berharga di dunia. Berjuang membela kebenaran, kesetaraan manusia, cinta kasih, dan per¬saudaraan adalah berjuang untuk 'jalan Allah', dan dalam bahasa Al-Qur'an:
"Dan sekiranya kamu terbunuh atau mati di jalan Allah, pengampunan dan rahmat dari Allah pasti lebih baik daripada segala yang mereka kumpulkan". (Q.S. 3:157).

Ini adalah migrasi, hi,jrah, besar-besaran Ibrahim demi menegakkan tujuan kebenaran. Hijrah adalah sesuatu yang umum dilakukan dalam perjuangan-perjuangan para Nabi-revolusioner yang melawan kepalsuan dan korupsi dan yang tidak pernah mau berkompromi (Q.S. 19: 30-40, 41-50, 51-53, 54-55, dan 56-65).
Istrinya, Sarah, dan keponakannya, Luth, mendam¬pinginya selama dalam pengadilan. Mereka yakin akan kebenarannya dan tetap bersamanya dalam penderitaan dan kesengsaraan. Di Palestina, dia tinggal di daerah pantai Kanaan bersama dengan kawanan-kawanan domba dan kambingnya, berkelana dari padang rumput yang satu ke padang rumput yang lain dan berjuang melawan tiran dan raja-tuhan berbagai tempat.
Ibrahim menjadi seorang Nabi-revolusioner, pemimpin, pejuang kebenaran dan keadilan yang baik hati, searang hamba kebenaran (hani, kekasih Allah (Khalil Allah) yang tidak menyembah apapun dan tidak takut pada apapun selain Allah. Waktu itu ia tidak memiliki anak, dan Sarah mendesaknya untuk mengawini Hajar, wanita-budak Mesirnya, karena khawatir tentang penerusnya.
Sepuluh tahun setelah masuk ke Kanaan, ketika ia ber¬umur sekitar delapan puluh enam tahun, seorang anak laki-laki dari Hajar lahir, dan diberinya nama Ismail. Ketika Ibrahim berumur seratus tahun, seorang anak laki-Jaki, Ishaq, lahir dari rahim Sarah. Menurut riwayat Injili, Sarah berlaku kasar terhadap Hajar dan anaknya.
Setelah melewati masa paceklik yang panjang, Ibrahim berkelana mencari padang-padang rumput yang masih hijau dan pergi ke Mesir di mana ia harus menghadapi masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan yang akut di tangan raja dan para bangsawan Mesir. Tetapi pada akhirnya dia menang atas mereka dengan menegaskan ke¬imanan, kesabaran, dan keteguhan hatinya.
Akhirnya, Ibrahim dan keponakannya, Luth, yang juga diangkat menjadi seorang Nabi-revolusioner, kembali dari Mesir, ke distrik Bethel. Kabilah dan kawanan gem¬balaannya bertambah banyak dan mereka menjadi kuat. Dengan bertambah banyaknya populasi, kekayaan, dan gembalaannya, komunitas ini dipecah menjadi dua ke¬lompok besar, yang satu mengikuti Ibrahim, dan yang lain berkumpul bersama Luth. Kedua pemimpin kabilah itu sepakat untuk berpisah dan menempuh jalannya masing¬masing.
Luth pergi menuju padang rumput subur di lembah Yordan, dan Ibrahim menetap di sebuah daerah yang kurang subur. Belakangan Luth dimusuhi oleh suku Sodom dan Gomorrah yang korup. Negeri orang-orang yang bejat akhlaknya ini kemudian diserang oleh Raja EJam dan raja¬raja taklukannya, dan Luth ditangkap dan dibawa sebagai seorang tawanan perang. Ibrahim mengorganisir kembali tentaranya dan mengalahkan musuhnya di sebelah utara Kanaan dan membebaskan Luth. Kemudian Ibrahim sen¬diri menetap di selatan Kanaan, di Hebron dan Beersheba, dan kemudian membentuk konfederasi-konfederasi dengan suku-suku setempat. Di sini, dia menyatukan ber¬bagai suku di bawah panji-panji kebenaran, kesetaraan, dan persaudaraan.
Menurut Al-Qur'an, Sang Bapak itu kemudian mem¬bawa Hajar dan Ismail ke Arab dan tiba di lembah Mekah yang tandus. Di Mekahlah terletak tempat suci Ka'bah:
"Ku bagi mereka yang bertawaf, yang berdiri, yang rukuk dan yang sujud. Dan umumkanlah kepada orang untuk mengerjakan haji; mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan (menunggang) berbagai macam unta yang kurus, karena datang dari segenap penjuru dari tempat yang jauh; supaya menyaksikan manfaat (yang diberikan) kepada mereka, dan berzikir menyebut nama Allah pada hari-hari yang sudah ditentukan, atas rezeki yang diberikan kepada mereka berupa binatang ternak; makanlah olehmu sebagian dari padanya dan berikanlah untuk dimakan orang tak mampu dan orang miskin". (Q.S. 22: 26-28).

Mekah saat itu merupakan sebuah dataran tandus di mana tidak ada tumbuhan sedikitpun. Hati, pikiran, dan jiwa penduduknya juga tandus dan ternoda oleh segala bentuk kejahatan, perang-perang yang kejam, kepalsuan, dan tahyul-tahyul. Dia mempersatukan suku-suku tersebut dalam kebenaran tauhid, kesetaraan, dan persaudaraan yang diproklamasikannya. Mereka mereformasi suku-suku itu, membangun sebuah tatanan sosial yang egaliter.
"Ingatlah tatkala Ibrahim berkata: "Tuhanku! Jadikanlah kota ini kota yang aman dan damai; dan jauhkan aku dan anak¬anakku dari penyembahan berhala-berhala. Tuhanku! Mereka sungguh menyesatkan kebanyakan manusia; barang siapa mengikuti aku, maka ia dari aku dan barang siapa berdurhaka kepadaku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Pengasih. Tuhan kami! Aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah tanpa tanaman, dekat rumah-Mu yang suci, supaya mereka, ya Tuhan kami, dapat mendirikan shalat: Jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki buah-buahan, supaya mereka berterima kasih" (Q.S. 14: 35-37).

Sepanjang hidup dan perjuangannya membela ke¬benaran, Ibrahim tetap tegar. Dia tidak pernah mengendor¬kan usaha-usahanya, dan tidak pernah pula kehilangan nyali dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan cobaan¬cobaan. Dia adalah seorang yang penyantun dan toleran terhadap kekurangan-kekurangan orang lain. Dia adalah seorang Nabi-revolusioner besar dan dengan dijadikan teladan oleh Nabi Muhammad Saw. (Q.S. 16: 120-123).
"Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah tertentu, lalu ia menunaikannya: la berfirman: `Akan kujadikan engkau seorang Imam umat manusia'. la bermohon: 'Dan juga (Imam-imam) dari keturunanku?' la berfirman: 'Janji-Ku tak berlaku bagi orang yang z.alim'. Ingatlah! Kami jadikan Rumah tempat berhimpun bagi sekalian manusia dan tempat yang aman; dan jadikanlah tempat Ibrahim sebagai tempat shalat dan Kami perintahkan Ibrahim dan Ismail, agar mereka membersihkan Rumah-Ku bagi mereka yang bertawaf, mereka yang itikaf, mereka yang ruku' dan yang sujud. Dan ingatlah, Ibrahim berkata: 'Tuhan, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian'. la berfirman: 'Dan kepada yang ingkar pun akan Kuberi kesenangan sementara, kemudian Kupaksa ia ke dalam api neraka, itulah tujuan yang sungguh celaka!" (Q.S. 2: 124-126).

Kebenaran yang ditemukan Ibrahim dan yang kemu¬dian diajarkannya sepanjang hidupnya adalah bahwa ke¬kuatan yang sesungguhnya adalah milik Allah; Dialah sumber semua pengetahuan, kebijaksanaan, rereki, ke¬kuatan, kebaikan, dan kasih sayang; milik-Nyalah segala yang ada di jagat raya ini. Manusia harus tunduk kepada kehendak dan rencana Tuhan karena segala sesuatu tunduk kepada-Nya menurut hukum-hukum yang telah menjadi sifatnya. Orang yang tunduk kepada berhala-ber¬hala, pahlawan-pahlawan yang kuat, manusia, raja-raja, dan para bangsawan; atau kepada perbuatan-perbuatan, keinginan-keinginan, gairah-gairah, ketamakan, dan hawa nafsunya sendiri menyimpang dari jalan kebenaran. Orang yang tidak takut kepada Allah justru takut kepada segala hal.
Nabi-revolusioner besar dan hamba kebenaran dan ke¬adilan ini menjadi teladan yang sempurna bagi Nabi-Nabi, orang-orang suci, dan hamba-hamba Tuhan berikutnya yang berusaha keras untuk rnembangun komunitas¬komunitas yang adil dan egaliter. Ketabahannya, ke¬yakinannya kepada Penciptanya dan imannya yang kokoh kepada kebersatuan dan kesetaraan umat manusia mem¬buat kepribadiannya yang mulia itu menjadi teladan bagi generasi-generasi. Para revolusioner Muslim awal bangga menjadi pengikut Ibrahim, Sang Bapak.
Dialah suri teladan yang bersinar, dan cahaya suar bagi mereka serta seorang tokoh yang harus dicontoh, baik dalam kekurangan maupun dalam kemakmuran, dalam revolusi maupun dalam keadaan damai. Al-Qur'an ber¬firman kepada kaum revolusioner di zaman Nabi:
"Sudah ada bagimu teladan yang baik (untuk diikuti) pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada kaumnya: 'Kami berlepas tangan dari apa yang kamu sembah selain Allah; kami mengingkari kamu; dan antara kami dengan kamu timbul permusuhan dan kebencian untuk selamanya, - kecuali kamu beriman kepada Allah semata..." (Q.S. 60: 4).

Sebuah riwayat mengatakan bahwa Ibrahim menolak tunduk kepada perintah-perintah Raja Namrud yang mengharuskannya menyembah api dan mengikuti agama negara serta lembaga-lembaga dan adat-istiadat yang telah mapan. Hal itu terjadi di Kaldea yang kemudian ditinggal kan Ibrahim untuk selama-lamanya. Riwayat ini juga me¬ngatakan bahwa Ibrahim telah menaklukkan Damaskus dan bahwa dia mempopulerkan pengetahuan tentang aritmatika yang telah dipelajarinya di Kaldea, dan astrologi yang dipelajarinya di Mesir. Dia adalah seorang cendekia¬wan besar, Nabi-revolusioner, pemimpin, hakim, dan 'seorang bapak' yang mengubah sejarah sosial dan kultural di Timur Tengah. Konon, dia wafat pada usia seratus tujuh puluh lima tahun dan dimakamkan di Gua Machpelah.
Anaknya, Ismail, adalah juga seorang Nabi-revolusi¬oner, seorang hamba Allah, yang menurut Al-Qur'an ada¬lah "...orang yang berpegang teguh pada janji; dia seorang rasul dan seorang Nabi" (Q.S. 19: 54). Ibrahim mencintai Allah lebih dari apapun dan dia melakukan segalanya demi mendapatkan keridhaan-Nya; inilah Islam yang se¬sungguhnya. Ismail adalah seorang anak yang patuh dan sabar. Sifat-sifat mulia mereka telah dijelaskan secara alegoris oleh Al-Qur'an. Ibrahim tidak ragu-ragu untuk mengorbankan miliknya yang berharga demi mencapai tujuannya.
Ketika Ibrahim tengah berjuang keras melawan kekuatan-kekuatan kejahatan di sekitarnya, para penindas berkomplot untuk membunuhnya. Kemudian ia pindah, demi kebenaran dan keadilan. Ketika Ismail di¬lahirkan dan mencapai usia sanggup (aqil baligh), bersama dengan bapaknya, Ibrahim berkata:
"...Hai anakku! Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku me¬nyembelihmu sebagai kurban, maka bagaimana pendapatmu? (Anaknya) berkata: 'Wahai ayahku! laksanakanlah apa yang di¬perintahkan kepadamu; insya Allah akan kaulihat aku termasuk golongan orang yang sabar dan tabah" (Q.S. 37: 102).
"Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan amal kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang murni dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kawan" (Q.S. 4:125).

lbrahim adalah sebuah suri teladan bagi orang-orang yang mengikuti kebenaran dan menjalani kehidupan yang murni yang dipersembahkan untuk membebaskan manusia-manusia yang tertindas dari perbudakan para tiram, majikan-majikan, bangsawan-bangsawan, dan raja-raja yang menuhankan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar