Jumat, 31 Juli 2009

Konfrontasi atau Mati

“Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta”
[Henry Martyn]

Demikian pendapat seorang Misionaris legendaris pada masa klasik. Ia berpendapat bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu ia membawa amunisi baru: “kata, logika dan cinta”. Siapa yang tidak akan terpikat dan terjerat??

Ghozwul Fikri atau perang pemikiran sudah mafhum diketahui oleh para aktifis Islam. Semenjak kekalahan tentara kufar di perang salib, mereka putar haluan. Mereka sadar bahwa selama masih ada risalah Jihad dan Syahid, maka umat Islam akan tetap eksis di muka bumi. Beralihlah strategi perang! Perang yang biasa kita kenal dengan perang dingin atau perang urat saraf ini benar-benar memiliki bahaya laten. Dimana sang korban tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diperangi. Hasilnya??? Memang tidak ada darah yang bercucuran secara langsung, tidak pula harta kekayaan yang tergadai atau dirampas. Tapi mungkin, sang korban akan mengalirkan darahnya sendiri dan menyerahkan hartanya untuk sang pemenang secara ‘sadar’.

Dalam peperangan niscaya akan jatuh korban. Tapi bagaimana jika korban tak mengetahui bahwa dia berada dalam posisi perang?! Inilah yang kami maksud dengan kejahatan/bahaya laten perang pemikiran (atau lebih tepatnya “invasi pemikiran”). Membodohi lawan. Menipu dan membuainya dalam ‘kemapanan’. Jika dalam pertarungan fisik genderang perang ditabuh keras, komando untuk menyerang dikumandangkan lantang hingga masing-masing pihak sadar dengan kekuatannya (posisinya). Masing-masing saling mengancam, meneror dan membuat ketakutan pada lawannya. Maka ghozwul fikri tidaklah demikian! Dalam perang ini justru, sang penggagas perang, menyerang lebih ‘kejam’ lagi. Tidak ada genderang perang, yang ada adalah tarian kesenangan, orasi pembangunan, dan teriakan-teriakan kemerdekaan/kebebasan. Musuh di perdaya sedemikian rupa hingga tidak mengetahui manuver-manuvernya. Dan keberhasilan dari setiap serangan di ukur dari sejauh mana musuh merasa dirinya aman, damai dan tidak mengetahui peperangan ini.

Kini lihatlah! Berapa banyak mujahid yang terlena, terpesona dan terdusta oleh amunisi baru tersebut. Berapa banyak pemuda melepas peluncur pundaknya. Berapa banyak kelompok militan yang melakukan gencatan senjata. Hitunglah berapa banyak! Semua seolah terperangah. Perang yang tengah berkecamuk ini benar-benar menakjubkan. Tidak ada lagi darah dan air mata kisah-kisah syahadah. Tidak ada lagi patriotisme yang romantik ditengah lelah dan letih. Tidak tercium lagi bau mesiu yang semerbak. Tidak terdengar lagi desing peluru yang melodic.

Fahmul Marokah
Para pemuda berbadan tegap kini bersiaga untuk menyandang pena. Ia bergegas menuju meja kerja. Tidak lupa ia selalu minta restu kepada bunda, “Do`akan Nanda pergi berjihad!”. Innalillahi. Berapa banyak yang syahid tanpa darah jika begini, Saudaraku!

Ruang-ruang kelas kini diandaikan sebagai medan pertempuran. Tapi permisalan ini tidak dianggap sama sekali oleh sebagian pihak. Mungkin mereka non-combatant. Tapi mengapa mereka harus hadir ditengah hilir-mudik amunisi?

Kemarin dulu, kita menang dimedan laga. Kita bisa menghitung jumlah syuhada. Kita bisa meraup ghonimah dengan bangga. Dihadapan barisan musuh, kita bisa membusung dada. Karena apa? JIHAD! Doktrin inilah yang selalu memompa darah pemuda kita, untuk kemudian berubah menjadi ‘gas air mata’ bagi siapa pun yang memperlakukan kita dengan hina.

Hari ini kita dipecundangi di medan tempur yang baru. Di ruang-ruang seminar, di gedung lobi, di simposium, kongres dan sidang-sidang pertemuan. Lantas setelah kalah kita berkesimpulan perang hanya dengan senjata dan martyr. Sementara tunas-tunas baru generasi yang hendak belajar, malah pergi ke ruang pembantaian ideologi. Mereka lupa bahwa ini semua monolog pendiktean, bukan dialog peradaban.

Menguatkan Ingatan
Astagfirulloh! Sesungguhnya bumi ini senantiasa subur dengan darah dan airmata. Jika bukan milik para pejuang, ia akan mengalir dari kaum tertindas. Tidak jauh berbeda memang, tapi kemuliaan dapat dimengerti oleh orang-orang yang berakal.

Seperti inikah kita dididik dan diajarkan tentang kehidupan?! Atau mungkin kasih-sayang mereka begitu besar hingga tak rela melepas kami dari gendongan. Dimana tangis kami ayah-bunda..? Sebentar lagi kalian para orangtua, akan melihat kami “layu sebelum berkembang”. Sementara kalian membusuk disudut pasar globalisasi. Di kota, di desa-dunia (global village) tempat kalian lahir dan melahirkan kami. Lihatlah pistol-pistol sudah terkokang dijidat tetangga kita. Tengoklah ke layar ruang kontrol nuklir mereka, kearah mana titik ordinat menuju?!.

Hari ini kita mengalami dua kekalahan. Kalah karena tak tahu. Dan kalah karena sok tahu. Tidak tahu termanisfestasikan pada ketidaktahuan medan, senjata musuh dan kawan. Sok tahu dalam segala rumusan yang merupakan kebodohan. Sok tahu karena menganggap perang hanya satu. Sok tahu karena berpendapat perang telah usai, atau belum dimulai sama sekali.

Kita dilupakan oleh kenyataan dihadapan. Sementara ingatan kita hanya pada kejayaan masa silam. Kita lupa bahwa dulu mereka lemah. Kita lupa bahwa sekarang rezim ini milik mereka. Lantas kita masih saja berharap pada islah politik dan taghyir budaya. Sementara mereka melakukan yang sebaliknya.

Akhirnya, pertanyaan untuk Anda: Siapa rezim yang bertahta? Lalu bagaimana merebut tahta dari rezim yang bersenjata? Tidak dapat mengelak lagi, doktrin Armagedon, Perang Dunia Ketiga –atau apapun sebutannya—harus benar-benar disambut dengan persiapan yang kaafah! Di lapangan, sekolah, dan ruang-ruangan perkuliahan...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar