Kamis, 30 Juli 2009

Kitab-kitab Hadis Standar Sunni Dalam Bahaya!

Tidak syak lagi bahwa ajaran Islam dibangun di atas dua pilar utama; Al Qur’an dan Sunnah! Al Qur’an adalah qath’iul wurûd (sudah pasti dan terbukti datangnya dari sisi Allah SWT), kendati dalam dalâlah/petunjuknya bersifat dzanni (masih terbukanya beberapa penafsiran tentangnya). Sedangkan Sunnah Nabiwiyah kita terima dalam kualitas dzanniyah, yang rawan pemalsuan, kekeliruan dan penyelewengan. Sebagaimana dari sisi dalâlah-nya juga banyak yang bersifat dzanniyah.[1]

Berangkat dari kenyataan ini, adalah tidak keharusan atas para ulama untuk menyeleksi dengan teliti semua riwayat yang memuat klaim Sunnah agar kita dapat menemukan Sunnah yang shahihah dari tumpukan riwayat-riwayat yang mengklaim memuat Sunnah!

Dan karena produk-produk palsu atas nama Sunnah Nabi saw. telah membanjiri ‘Pasar Hadis’ maka tidaklah heran jika banyak ‘Ahli Hadis’ yang tertipu dan kemudian menganggapnya sebagai Sunnah yang sedang mereka cari![2] Mereka mengoleksinya dalam kitab-kitab kebanggaan mereka dan generasi berikutnya menganggap produk palsu itu sebagai Sunnah Nabi Muhammad saw.; sumber kedua ajaran Islam yang murni! Kitab-kitab hadis yang diyakini penulisnya sebagai hanya memuat hadis-hadis shahih sekali pun ternyata tidak selamat dari rembesan hadis-hadis palsu atau hadis-hadis bermasalah!

Namun demikian sebagian pihak mengklaim dengan nada menantang bahwa apa yang dilakukan para Muhaddis Sunni telah mencapai puncak ketelitian dalam menyeleksi hadis-hadis, dan puncak dari usaha itu adalah dibukukannya enam kitab hadis Shahih, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim!

Dalam kesempatan ini saya tidak sedang meragukan “kerja ngotot” mereka dalam menyaring hadis, akan tetapi sekedar mempertanyakan sejauh mana kesuksesan usaha tersebut! Sebab pada kenyataannya masih terlalu banyak hadis bermasalah yang lolos seleksi dan masuk dalam kategori hadis sehat, sementara ia mengandung penyakit!

Mungkin hal itu diakibatkan oleh dahsyatnya produk-produk palsu yang diikemas dengan kemasan menarik dan menipu sehingga bukan hal mudah membedakannya dari Sunnah yang Shahihah! Atau diakibatkan ketidak akuratan alat seleksi yang mereka pergunakan! Atau karena sebab lain! Wallahu A’lam.

Hadis-hadis bermasalah itu menyebar hamper dalam semua bab dan tema agama, dari tema akidah, syari’at (fikih), akhlak, sejarah para nabi as., sejarah Nabi Muhammad saw. dll.

Di bawah ini saya berharap ada jawaban memuaskan dari mereka yang membanggakan hasil usaha slektif para Ahli Hadis Sunni, yang dianggapnya telah mencapai puncaknya! Berbeda dengan dunia hadis Syi’ah yang masih amboradul, serba tidak matang, tak mengenal liku-liku sanad riwayat dan rentang kepalsuan! Saya berharap teman-teman tersebut mmeberikan jawaban ilmiah tentang hadis-hadis bermasalah riwayat Bukhari dean Muslim atau salah satu dari keduanya di bawah ini. Dan sengaja saya batasi telaah saya pada dua kitab tershahih setelah Al Qur’an itu mengingat:

A) Kedua kitab tersebut adalah telah mendapat kepercayaan luas di kalangan tokoh-tokoh Ahlusunnah sebagai Ashahhu kutubi ba’da itabillah/kitab tershahih setelah Kitabullah!

B) Dengan melibatkan kitab-kitab hadis level dua dikhawatirkan akan makin mempermarah keadaan. Sebab dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak hadis yang mengerikan untuk diungkap, walaupun dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga banyak hadis yang tidak kalah bermasalahnya!

* Postur Nabi Adam as. Sama dengan Postur Allah SWT!

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

حدثنا يحيى بن جعفر حدثنا عبد الرزاق عن معمر عن همام عن أبي هريرة
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خلق الله آدم على صورته طوله ستون ذراعا فلما خلقه قال اذهب فسلم على أولئك النفر من الملائكة جلوس فاستمع ما يحيونك فإنها تحيتك وتحية ذريتك فقال السلام عليكم فقالوا السلام عليك ورحمة الله فزادوه ورحمة الله فكل من يدخل الجنة على صورة آدم فلم يزل الخلق ينقص بعد حتى الآن [3]

“Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya, panjangnya enam puluh hasta. Dan ketika Dia menciptakannya, Dia berfiman, ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu dan dengarkan jawaban mereka, karena ia adalah ucapan salammu dan salam keturunmu. Maka Adam mengucapkan: “Salam atas kalian.” Lalu mereka menjwab: “Salam dan rahmat Allah atasmu.” Para malaikat itu menambah kata rahmat Allah. Maka setiap orang yang masuk surga akan berpostur seperti Adam. Dan setelahnya ciptaan berkurang (mengecil) ukurannya sehingga seperti sekarang ini.”

(HR. Shahih Bukhari, Kitab al Isti’dân, Bab Bad’u as Salâm dan Shahih Muslim, Kitab al Jannah wa Shifatu Na’îmiha, Bab Yadkhulul Jannah Aqwâmun…)

Hadis di ataas dengan redaksi lain, dari Abu Hurairah dari Nabi saw. :

“Jika seorang dari kalian memukul saudaranya hendaknya ia menghindari memukul wajah, sebab sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya.”

(HR Shahih Muslim, Bab an Nahyu ‘An Dharbil Wajhi/larangan memukul wajah)

Ibnu Jakfari Berkata:

Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Ada kekhawatiran bahwa Abu Hurairah menimba ucapan itu dari Guru Besar yang bernama Ka’ab al Ahbâr; seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan kemudian menyebarkan ajaran yahudiyah di tengah-tengah kaum Muslimin dan sempat memikat kekaguman sebagian sahabat, seperti Abu Hurairah yang kemudian menjadi murid setia yang rajin menjajahkan kepalsuan bualannya!

Sebab bulalan palsu seperti itu termuat dengan kentalnya dalam Al Kitab; Penjanjian Lama, Kitab Kejadian:1:27:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarann-Nya, menurut gambaran Allah diciptakan-Nya dia.”[4]

Dan pada Kitab Kejadian 5:1:

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah.”

Para penafsir Al Kitab kebingungan dalam mengahadapi ayat-ayat di atas, dan akhirnya mereka terpaksa mempelesetkan maknanya agar tidak memberi makna materistis bagi Dzat Allah. Mereka mengartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa Allah menciptakan manusia menyerupai Allah dalam kesucian/kekudusannya.[5]

Sepereti Anda ketahui bahwa tasfir yang dipilih dalam kamus tersebut adalah demi menghindar dari tajsîs/meyakini Allah berpostru seperti makhluk-Nya. Tetapi anehnya mereka yang mengadopsi tekas Al Kitab dan kemudian menamakannya sebagai sabda Nabi sauci Muhammad saw. letah melangkah lebih jauh dengan menutup semua pintu usaha untuk menakwilkannya dengan selain makna posturisasi Allah. Maha suci Allah dari pensifatan mereka, seperti yang dapat Anda saksikan dalam riwayat kedua yang saya sebutkan dari riwayat Imam Muslim!

Jika Tinggi Ada 60 Hasta, Berapa Lebar Badannya?

Saranya sah-saha saja jika ada yang usil dan ingin tahu berapa sebenarnya lebar badan Nabi Adam as. sebab beliau addalah ayah kita semua. Di sini al ‘Aini –pensyarah Shahih Bukhari- memberikan jawaban pasti bahwa lebar badan Adam; ayah umat manusia adalah tujuh hasta! Hanya tujuh hasta! Tidak lebih dan tidak kurang![6]

Edialkah prawakan seperti itu? Panjang 60 hasta, lebar 7 hasta!

Jika panjang/tinggi Adam itun 60 hasta itu mkeniscayakan tulang tengkoraknya sepanjang 2 hasta. Tapi anehnya sepanjang penemuan vosil dan kerangka manusia pra sejarah sekalipunn tidak pernah ditemukan tengkorak manusia seperti itu! Apa yang ditemukan para iilmuan tidak jauh beda besarnya dengan tengkorak manusia sekarang/modern. Tidak pula ternah ditemukan ada kerangka manusia setinggi 60 hasta!

Selain itu, jika benar apa yang dikatakan Abu Hurairah bahwa tinggi Adam as. adalah 60 hasta maka sermestinya tebal badannya mencapai 17,7 hasta. Sebab manusia normal, lebar badan mestinya adalah 2/7 dari tinggi badannya!

Jika benar bahwa lebar badan Adam as. itu 7 hasta maka semestinya tingginya adalah 24,5 hasta bukan 69 hasta!

Jadi di hadapan ucapan Abu Hurairah itu hanya ada dua plihan;

A) Abu Hurairah salah dalam memberikan gambaran postur Nabi Adam as.!

B) Adam as. memang diciptakan tidak Fi Ahsani taqwîm/sebaik-baik bentuk penciptaan. Postus Adam as. terlalu ramping, tidak serasi antara tinggi dan lebar!

* Allah SWT Memamerkan Betis Indah-Nya

Di antara hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim terkait dengan masalah tauhid dan sifat Allah SWT yang perlu mendapat sorotan adalah hadis yang mengatakan bahwa: “Kelak di hari kiamat ketika para pengyembah selain Allah telah dipertemukan dengan sesembahan mereka…. Sehingga setelah selesai dan tidak tersisa melainkan mereka yang menyembah Allah; baik yang shaleh maupun yang durja. Datanglah Allah Rabbul ‘Alâmin daalam tampilan lain yang lebih rendah dari tampilan yang pernah mereka kenal di dunia dahulu, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Apa yang kalian nanti? Semua telah mengikuti sesembahan yang dahulu mereka sembah.” Maka mereka menjawab, “Orang-orang telah meninggalkan kami di dunia di saat kami sangat membutuhkan mereka, kami tidak menemani mereka. Kami sedang menanti Tuhan yang dahulu kami sembah.” Lalu Allah berfirman, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, ‘Kami tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dua atau tiga kali mereka ucapkan.

Dalam riwayat lain: “Maka datanglah Dzat Yang Maha Perkasa dalam bentuk selain bentuk yang dahulu mereka saksikan pertama kali, lalu Dia berkata, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, “Engkau Tuhan kami?”…

Dalam riwayat lain, mereka berkata menolak, “Kami berlindung darimu!.”

Maka Allah berfiman, “Adakah tanda antara kalian dan Dia dengannya kalian mengenal-Nya?” Mereka berkata, “Ya, ada. Betis.” Maka Allah menyingkap betis-Nya. Maka bersujudlah semua orang Mukmin, adapun orang yang dahulu menyembah-Nya karena riya’ dan mencari pamor tidak bias bersujud, setiap kali mereka hendak bersujud punggung mereka menajdi seperti papan dan mereka tertelungkup… “

(Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid, Bab Qaulullah –Ta’ala- Wujûhun Yaumaidzin Nâdzirah, hadsi no.7439 dan beberapa tempat lainnya di antaranya: Kitab at Tafsîr, Bab Qaulihi Innallaha Lâ Yadzlimu Mitsqâla Dzarratin, hadis no.4581 dan baca juga Shahih Muslim Bab Ma’rifah Tharîq ar Ru’yah).

Di antara redaksri riwayat Bukhari adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ زَيْدٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ :قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا قُلْنَا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ لَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَتِهِمَا ثُمَّ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيبِ مَعَ صَلِيبِهِمْ وَأَصْحَابُ الْأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ وَغُبَّرَاتٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ فَيُقَالُ لِلْيَهُودِ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ ثُمَّ يُقَالُ لِلنَّصَارَى مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ فَيَقُولُونَ كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ فَيَقُولُونَ نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ فَيَقُولُونَ فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ الْيَوْمَ وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا قَالَ فَيَأْتِيهِمْ الْجَبَّارُ فِي صُورَةٍ غَيْرِ صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَلَا يُكَلِّمُهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ السَّاقُ فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ ……

*****

Dalam riwayat-riwayat tersebut dikatakan bahwa (1) Umat manusia kelak di hari kiamat akan melihat Allah dengan mata telanjang! Sebagiamana sebelumnya nmereka juga pernah melihat-Nya hanya saja dalam tampilan dan bentuk lain yang berbeda dengan bentuk di hari kiamat. Dan hal itu tentunya meniscayakan adanya cahaya yang menyambung antara mata dan Dzat Allah! (2) Memandang Allah SWT drngan mata telanjang ternyata tidak terbatas hanya bagi kaum Mukminin saja, akan tetapi Allah juga akan dilihat oleh kaum munafikin! (3) Allah memiliki bentuk yang terdiri dari bagian-bagian dan berlaku padanya apa yang berlaku atas meteri seperti berpindah tempat, bergerak dan menempati ruang, serta akan tampil untuk di permukaan dan diliaht mata telanjang! (4) Allah tampil daalam rupa dan bentuk yang bermacam-macam. (5) Dan ketika Allah tampil di hari kiamat dalam bentuk dan rupa lain yang tidak mereka kelal sebelumnya, maka mereka meminta agar Allah menampakkan tanda pengenal yaitu betis! Akhirnya Allah menyingkap betis-Nya dan mereka pun mengenali-Nya lalu merreka bersujud!

Itu artinya, andai Allah tidak memperkenalkan jati diri-Nya dengan menyingkap betis-Nya pastilah kaum Mukminin di hari kiamat itu tidak akan mengenal-Nya. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Betis Allah!

Masalah penetapan adanya betis Allah SWT. yang Allah singkap itu terkait dengan ayat 42 surah Nûn, karena itu, Bukhari menyebutkan hadis ini pada tafsir surah Nûn Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, sebagai tafsir dari ayat tersebut! Oleh sebab itu kami akan menelaah maksud ayat tersebut walau secara ringkas.

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقٍ….

“Pada hari betis disngkapkan…. “

Ayat tersebut dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang kedahsyatan kejadian di hari kiamat. Kaum kafir diminta untuk mendatangkan sesembahan mereka untuk menolong dan menyelamatkan mereka! Kapan? “Pada hari betis disngkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” Yang dimaksud dengan betis disingkapkan adalah menggambarkan keadaan yang sedang ketakutan dan kedahsyatan yang sangat!

Tafsir ini telah dinukil dari para pembesa Salaf, seperti Ibnu Abbas, hasan al Basrhi, Mujahid, Qatadah dan Sa’id ibn Jubair. Baca ketarangan mereka dalam: Fathu al Bâri,18/307.

Akan tetapi, Bukhari memaknai kata sâqin dengan arti betis dan dikaitan dengan Dzat Allah SWT.; betis Allah!!

Dan akibat menerima tanpa seleksi hadis Bukhari di atas, sebagian orang berkeyakinan bahwa Allah SWT punya betis yang kelak pada hari kiamat akan disingkap sebagai tanda pengenal kepada kaum Mukminin!!

Mengepa terjadi penyelewengan dalam memahami makna ayat di atas? Jawabnya jelas! Karena Bukhari; Imam Ahli Hadis telah meriwayatkannya demikian!

Sementara salah satu pangkal kesalahan itu terletak pada adanya kesalahan pada penukilan teks sebenarnya! Imam Bukhari meriwayatkannya dengan redaksi demikian:

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقِهِ….

“Tuhan kami menyingkap betis-Nya, maka bersujudlah semua orang mukmin dan mukminah….” (HR. Bukari, Kitab at Tafsîr, Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, hadis no.4919)

Sepertinya terjadi kesalahan dalam redaksi itu yang kemudian menyebabkan kekacauan akidah tentang sifat Allah SWT.

Coba Anda perhatikan redaksi dalam ayat Al Qur’an di atas! Ia hanya menyebutkan kata: ساقٍdan dalam bentuk nakirah. Ia berkata, “Pada hari betis disngkapkan.” Tidak ada sebutan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, sehingga ia sama sekali tidak terkait dengan sifat Allah! Akan tetapi, ketika kita memerhatikan riwayat Bukhari kita temukan bahwa Allah yang menyingkap betis-Nya! Betis Allah!!

Karenanya salah seorang tokoh agung Ahli Hadis Sunni bernama Isma’ili menegaskan bahwa pada redaksi riwayat Bukhari di atas terjadi kesalahan! Yang shahih adalah tanpa kata ganti orang ketiga: هِ pada kata: ساقِهِ, sebab redaksi terakhir ini sesuai dengan redaksi Al Qur’an. Dan tidak lah terbayangtkan bahwa Allah punya organ badan sebab yang demikian itu menyerupkan-Nya dengan makhluk-Nya, sementara Allah tidak menyerupai makhlu-Nya! Demikian ditegaskan al Isma’ili.[7]

Jadi dalam hemat al Isma’ili, Bukhari salah dalam menukil atau meriwayatkan redaksi hadis yang salah!

Akankah para ulama Sunni lainnya berbesar hati seperti al Isma’il?

Penutup:

Selain dua contoh kasus di atas, masih banyak lainnya! Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kapada saya untuk membeberkan kasud-kasus lainnya dalam kesempatan mendatang. Amîn.

Dan semoga kenyataan ini menjadi bahan renungan bagi para pecinta Sunnah Nabi saw. dan kami menanti sikap ilmiah (bukan ocehan kosong) dari para pemerhati!

Dan jika kitab tershahih Ahlusunnah sedemikian rentangnya dari kepalsuan, maka apa bayakan kita terhadap kitab-kitab hadis lainnya yang dari sisi kualitas jauh di bawah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim?!

(Bersambung, Insya Allah)
[1] Tentunya tidak menutup kenyataan bahwa di antara ayat-ayat Al Qur’an ada yang qathi petunjuknya sebagaimana di antara Sunnah ada yang qathi juga wurûd-nya.

[2] Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”

[3] http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=9299.

[4] Al Kitab,diterbitankan OLEH LEMBAGA AL KITAB INDONESIA – JAKARTA 1985.

[5] Baca Kamus al Kitab al Muqaddas, pada kata Adam.

[6] ‘Umdah al Qâri,22/229.

[7] Baca Fathu al Bâri,18/308.

Sumber: http://jakfari.wordpress.com/2009/06/20/kitab-kitab-hadis-standar-sunni-dalam-bahaya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar