Jumat, 31 Juli 2009

KABUT YANG BERCAHAYA

Butiran-butiran peluh yang tadi membasahi tubuhnya dan kini telah kering terhisap oleh kegelisahan akan hari esok, dimana mentari akan tetap setia menyinari saparuh demi separuh jagad ini, al faqir berkata pada diri yang tak tahu, dan al faqir pun tak mengenal dirinya lagi.

Pulang dari pekerjaan masyarakat, belum letih, ia masih segar badan! Langit tampaknya cemerlang, bunga-bunga tampaknya indah, sebab pekerjaan masyarakat yang kolektif bukan penghisapan dan penindasan, tidak meletihkan jasmani dan rohani, melainkan membahagiakan dan menggembirakan.

Ah, keadaan bahagia! Disinilah pekerjaan masyarakat, pekerjaan masyarakat yang untuk kepentingan masyarakat dan bukan lagi pekerjaan masyarakat untuk keuntungan perseorangan. Pekerjaan masyarakat kolektivistis dan bukan lagi pekerjaan masyarakat kapitalistis.

Tapi, ketika ia terjaga dari mimpi yang beberapa saat lalu membahagiakan dan menggembirakan, tersenyum penuh guratan al faqir menghadapi alam nyata yang didalamnya tak dapat ia berkesempatan menarik nafas dan melepaskan lelah.

Didalam masyarakat yang nyata ini, hanya kepahitan dan kesukaran yang dijumpainya, di luar itu taufan-prahara perjuangan mencari sesuap nasi memenuhi angkasa. Ia diburu, dicambuk, dilabrak, digiring, diseret oleh hantu ketidakadilan-sosial, dengan tiada maaf dan tiada ampun, tiada tempo untuknya beristirahat dan tiada kesempatan menarik nafas. Di alam nyata, tempat bersarangnya individualisme, satu “tempat keramat” yang tak boleh dimasuki oleh apa saja yang dapat mengurangi kepribadiaan individualisme, dimana kemasyarakatan, kolektivisme, berperan sebagai kuda-kuda penarik pedati yang selalu dicambuk saat menghirup udara segar.

Kenyataan yang di rasakan di alam nyata, memaksa memasuki sistem masyarakat kapitalis yang tiap detiknya selalu memeras keringat laksana ia memeras kain basah dalam pekerjaan budak-budak sepanjang hari. Berangsur-angsur keringat yang kini tak produktif mengeluarkan getahnya lagi, tulang-tulang penyangga yang kini tak dapat menahan tubuh yang telah penuh dengan deraan dan kemunafikan zaman, jiwa yang tak lagi setia bermukim pada dirinya, ia mengiklaskan diri terlepas dari hidup nyatanya yang tak pernah menghirup udara segar.

al faqir pun merelakan untuk tidak merelakannya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar