Jumat, 31 Juli 2009

QUANTUM ASMA'UL HUSNA

“Menjadi orang-orang rabbani” merupakan khazanah Tuhan yang tersembunyi dalam diri setiap manusia yang harus dieksplorasi dengan arif sehingga dapat berperan penting dalam dua aspek kehidupan: kecerdasanan spiritual dalam menggapai prestasi duniawi dan ukhrawi; cerdas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ‘abdullâh (cerdas melangit) dan khalîfatullâh (cerdas membumikan pesan-pesan ketuhanan-Nya) dalam seluruh bidang kehidupan.

Mulailah dengan Menghafal Nama-Nama Allah Yang Terindah
Mungkin dari sekian banyak orang yang mengaku beragama islam hanya ada beberapa orang saja yang telah benar-benar menghafal lafadz dan bilangan secara runtut serta memahami makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa keimanan kita kepada Allah masih dalam taraf baru percaya dan belum menjangkau pengenalan (makrifat) secara lebih dekat. Sabda Nabi Saw. yang menegaskan,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghafalnya (menghimpun, memahami dan mengamalkannya) masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil dan senantiasa menyenangi yang ganjil”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurayrah Ra. )

Sabda Nabi Saw. ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam tetapi mengapa banyak di antara kita yang tidak atau belum mengenal-Nya dengan baik? Apa yang membuat sebagian besar umat ini tidak menghafal dan memahami makna yang diindikasikannya? Mungkin banyak di antara kita yang lebih hafal dengan baik rumus-rumus fisika, matematika dan kimia, hafal lagu-lagu hits baik produk lokal maupun internasional, lebih hafal nama-nama tokoh legendaris dunia atau selebritis yang ada di seantero dunia daripada menghafal nama-nama Allah yang teramat indah itu. Tanyakanlah hal ini kepada diri Anda sendiri, kemudian kepada keluarga Anda, tetangga Anda, teman di pengajian Anda, rekan kerja/organisasi Anda, sahabat Anda atau orang lain baik yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal. Bila jawabannya belum atau tidak maka paculah kemampuan diri Anda untuk mulai menghafal nama-nama-Nya yang indah itu, mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan kemudahan bagi Anda untuk dapat menghafal dan memahami nama-nama-Nya dengan baik, serulah Dia dengan nama-nama-Nya itu di setiap waktu dan kesempatan dalam aktifitas Anda niscaya akan Dia hadirkan surga Rahmân-Nya, surga Rahîm-Nya hingga surga Shabûr-Nya dalam kehidupan Anda saat ini, dan pancaran cahaya nama-nama-Nya akan senantiasa mengiringi seluruh aktifitas Anda baik vertikal maupun horizontal. Inilah puncak keberuntungan dan keselamatan bagi seorang hamba di dunia hingga akhirat.

Agama Islam akhir-akhir ini sering dijadikan obyek perdebatan di forum-forum diskusi atau seminar-seminar saja. Banyak pelaku dzikir hanya menikmati saat-saat paling sakral dalam hidupnya hanya ketika pelaksanaan ritual sedang berlangsung saja. Setelah itu, ketakutan, kegelisahan, kekalutan dan kemarahan kembali menyelimuti jiwa dan merasuki pelakunya. Kenapa demikian? Bukankah Allah Swt. melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. telah mengajarkan cara-cara untuk mendekati, mengenal dan meneladani-Nya? Dalam al-Qur’an difirmankan,

“Hanya milik Allah Asmâ al-Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmâ al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’râf [7]: 180)

Nama-nama Allah Yang Terindah (Asmâ al-Husna) itulah yang seharusnya dijadikan dzikir, wirid dan doa untuk melakukan pengenalan, pendekatan, dan pertemuan dengan wajah-Nya. Upaya itu merupakan suatu keniscayaan disertai dengan pemahaman makna, penghayatan tauhid, dan mengekpresikannya dalam kehidupan sebagai wujud peneladanan terhadap sifat-sifat-Nya yang terkandung dalam Asmâ al-Husna itu. Sungguh hal ini bukanlah proses yang dapat diakses secara instant, karena untuk dapat mendekati pada pemahaman yang sesungguhnya dibutuhkan proses dan waktu yang panjang. Dan bagi siapa pun yang ingin memperoleh pemahaman yang baik dan benar hendaknya mereka siap untuk berproses dan meninggalkan cara-cara yang instant.

Seharusnya seorang dapat mengembangkan kepribadiannya dengan baik dan benar serta sempurna melalui pemahaman, pengenalan, penghayatan, pengamalan, peneladanan dan pengalamannya tentang Asmâ’ul Husnâ dalam berbagai aspek kehidupannya, sehingga dari sana akan terjadi lompatan besar (quantum) untuk mengevolusi dan mentransformasi dirinya dari setetes air yang hina menjadi segumpal darah dan dari segumpal darah menjadi insân kamîl (manusia sempurna); dari akhlak madzmûmah (kepribadian tercela) kepada akhlak mahmûdah (kepribadian terpuji); dan dari akhlak insani kepada akhlak rabbani (kepribadian ketuhanan). Dengan kepribadian itu, maka akan lahir pula “etos kerja dan kinerja ketuhanan” yang akan membawa kepada rahmat bagi seluruh aspek kehidupan di permukaan bumi ini. Insyâ Allah individu atau kelompok akan terhindar dari “etos kerja dan kinerja kesetanan” yang dapat membawa hidup dan kehidupan ini kepada kehancuran, kenistaan dan kehinaan yang berkepanjangan di dunia hingga di akhirat.

Pemahaman dan pengalaman tentang Asmâ’ul Husnâ sangat berarti bagi mereka yang aktif di dunia pendidikan, politik, sosial, ekonomi, budaya, di dunia pemerintahan maupun swasta, dan berbagai bidang kehidupan lainnya, serta mereka yang mulai merasa bahwa ada hal yang hilang dalam kehidupan dan pekerjaan atau profesi mereka, betapa pun berhasilnya. Mereka mungkin mulai merasa tertekan dengan berbagai problematika kehidupan, berbagai perasaan kecewa, atau sedang menemukan diri mereka kelelahan mengikuti hasrat yang terus-menerus akan dunia, serta hal-hal yang memabukkan dari aktifitas kehidupan mereka yang tidak seimbang antara pemenuhan ruhani dan ragawi serta ukhrawi dan duniawi.

Asmâ’ul Husnâ dapat menjelaskan bagaimana kita aktif di dunia yang serba-materi sembari tetap fokus dengan cita-cita ukhrawi atau spiritual kita dan menyesuaikan diri dengan spirit ketuhanan yang terdapat dalam nama-nama atau sifat-sifat-Nya yang terindah. Dapatkah kita melakukan lompatan besar dengan menghadirkan sifat-sifat ketuhanan dalam diri tanpa berpaling dari dunia fana ini? Ilmu Tasawuf Islam menunjukkan bagaimana hal ini mungkin terjadi dalam kehidupan pribadi kita, dan bagaimana pekerjaan serta berbagai aktifitas kita menjadikan kita sebagai hamba yang beruntung (al-muflihûn). Islam memandang bahwa semakin banyak orang yang memulai bekerja atau aktifitasnya dengan Asmâ’ul Husnâ dan spirit ketuhanan, maka eksistensi diri pelakunya akan dipenuhi keberkahan dan kasih sayang Allah. Sehingga banyak karakteristik yang tidak sehat, tidak adil dan tidak baik yang terbit dari diri manusia perlahan-lahan akan lebur oleh kekuatan Asmâ’ul Husnâ-Nya.

Asmâ’ul Husnâ ini juga sangat penting bagi perkembangan kepribadian manusia, yang sering kali terperangkap antara nilai-nilai dogmatis agama dan spiritual mereka serta dampak pola pikir yang sektarian dan jumud. Hal ini membawa kepada stadium konflik yang sangat akut antara individu dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan keluarganya, dengan lingkungan kerja/organisasinya, dengan lingkungan sosial/masyarakatnya, dan dengan lingkungan alam semestanya, yang dapat memicu berbagai macam reaksi negatif dan ekstrem. Semoga perspektif “Quantum Asmâ’ul Husnâ” ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi kepada siapa pun yang ingin melakukan lompatan besar kepribadiannya menuju akhlak ketuhanan di era ‘akhir zaman’ yang penuh kekalutan, kebingungan, dan berada di ambang kehancuran dunia ini.

Para Nabi dan Rasul, juga para auliya’ serta ulama Allah telah mencontohkan bagaimana memahami, memaknai, dan menguraikan hikmah-hikmah Asmâ’ul Husnâ-Nya ini, sehingga dapat mengevolusi dan mentransformasi dirinya dari segumpal daging menjadi insan rabbani atau insan kamil, hal yang demikian sebagai teladan bagi seluruh umat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar