Jumat, 31 Juli 2009

Tawhid Pembebasan

“Muhammad SAW datang untuk mengukuhkan pandangan universal Tawhid dan bahkan membawanya ke dalam sejarah manusia, kepada semua ras, bangsa, kelompok, keluarga dan kelas sosial serta mengikis habis pertentangan yang ditimbulkan agama-agama politheis. Slogan Tawhid adalah KEMERDEKAAN”.

SEBAGAI KONTRAK SOSIAL
Inti yang terkandung dalam kalimat Tawhid merupakan Kontrak Sosial manusia dengan Alloh Azza wa Jalla yang melegitimasi seluruh daya gerak manusia dalam berinteraksi sosial di dunia. Ini dapat disebut juga inti terdalam ajaran Islam, karena esensi Tawhid yakni menafikan segala bentuk Ilah selain Alloh SWT. Dan juga Tawhid memiliki satu laju dekontruksi, yakni menolak segala bentuk penindasan, baik itu ruhaniah--batiniah ataupun jasmaniah.

Di antara agama-agama besar lainnya, Islam-lah yang paling ketat dalam keyakinan terhadap ke-Esa-an Tuhan. Alloh Azza wa Jalla adalah Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengagungan terhadap sesuatu selain Alloh merupakan bentuk-bentuk kemusyrikan yang dikecam keras dalam Al-Qur’an. Dalam Islam, perbuatan syirik termasuk kategori dosa besar yang tak terampuni.

Apa sesungguhnya makna Tawhid sehingga pelanggaran terhadapnya berarti pengingkaran terhadap keseluruhan ajaran Islam? Pengesaan Alloh adalah langkah untuk membebaskan manusia dari belenggu Thogut. Ketika zaman Jahiliyah, manusia diperbudak oleh keyakinan untuk menyembah berhala. Manusia, makhluk paling kreatif di antara ciptaan Alloh SWT lainnya di muka bumi, menyembah hasil karyanya sendiri! Bukankah itu merupakan kebodohan yang senyata-nyatanya?!

Nabi Ibrahim dalam sikap kritisismenya terhadap keyakinan masyarakat negerinya, bertanya kepada bapaknya, “Ayah, mengapa ayah menyembah patung yang ayah ciptakan sendiri?” Rosulullah Muhammad SAW mengulang kembali semangat revolusioner bapak para nabi, dengan menyatakan penentangan terbuka terhadap penyembahan berhala. Rosul mengingatkan kembali kaumnya akan kepercayaan nenek moyang mereka (bangsa Arab) yaitu Ibrahim dan Ismail, ketika Ibrahim dalam perenungannya menemukan Alloh Yang Esa.

TAWHID DAN KEPEDULIAN SOSIAL
Namun Tawhid tidak sekadar menyangkut keimanan spiritual, tetapi mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial. Menuhankan Alloh SWT berarti menolak segala macam Thogut, yang secara sederhana dapat kita definisikan sebagai segala sesuatu yang berusaha menyaingi posisi Alloh. Thogut bisa berupa patung-patung berhala, kediktatoran penguasa dan sistem ekonomi yang kapitalistik. Dalam sejarah nabi-nabi, ketiga-tiganya saling berpadu, membentuk kesatuan sistem. Ibrahim as yang menentang penguasa paganis rezim Namrud, Musa as yang menetang tirani Fir’aun dan antek-anteknya, Isa as yang menentang imperialis Romawi dan Muhammad saw yang menentang dominasi berjouis-kapitalis Musyrikin Makkah.

Rosulullah pernah mengomentari seorang sahabat yang rajin berdiam di masjid mengerjakan berbagai ibadah, dari yang wajib hingga yang sunnah, tetapi makannya sehari-hari disuplai oleh saudaranya. “Bukan untuknya surga, tapi untuk saudaranya,” ujar Rosul. Hubungan vertikal harus diseimbangkan dengan hubungan horizontal. Rosul pernah mengecam seorang perempuan yang rajin mengerjakan ibadah tetapi rajin pula menyakiti hati tetangganya.

Jadi sungguh merupakan kesia-siaan jika kita hanya berusaha mengerjakan amalan-amalan ritual tanpa diikuti dengan kerja nyata untuk membebaskan masyarakat dari belenggu ketertindasan. Bukan berarti kita kemudian melalaikan ibadah ritual, tetapi ibadah ritual harus termanifestasi dalam konteks sosial.

Sungguh ironis ketika jutaan rakyat masih bergelimang kemiskinan, kita berenak-enakan pergi ke Tanah Suci, mengejar pahala untuk diri sendiri. Ketika bocah-bocah kecil bergulat dengan panas terik dan guyuran hujan demi mengais-ngais rupiah, kita bisa shalat dengan khusyuk dan air mata berlinang, hanya untuk mendemonstrasikan kepada Alloh bahwa kita adalah hamba yang taat. Di saat banyak orang membutuhkan uang, panitia-panitia pembangunan masjid berlomba-lomba memperindah rumah ibadah, dihias marmer, dengan kubah megah dan ukiran-ukiran kaligrafi yang indah… Betapa egoisnya kita ! Betapa tidak solidernya kita !

Solidaritas, ya solidaritas… ! Bukankah selain sholat dan berdoa, kita juga menyisihkan sebagian harta untuk disedekahkan dan untuk membayar zakat ? Tapi pernahkah kita berpikir sejenak, ke mana larinya sedekah kita, ke mana perginya zakat ? Efektifkah “kedermawanan” kita dalam mengentaskan si lemah dari jerat kemiskinan struktural ? Pernahkah kita mendengar tentang mafia pengemis, tentang pengamen jalanan yang tak sanggup sekolah untuk bekal mencari lapangan kerja, tentang pelajar yang tak punya biaya untuk meneruskan kuliah di saat para petinggi negeri bergelimang gaji ratusan dan puluhan juta ? Atau mungkin sesekali anda perlu jalan-jalan ke kawasan industri, melihat derap langkah kaum pekerja mencari upah yang rendah, yang sengaja ditekan pemerintah demi mengundang para pemodal dari luar negeri (yang sudah kaya-raya) ? Atau petani miskin yang tanahnya diserobot perkebunan, yang sawahnya dipaksa untuk ditanami tebu demi produksi gula sementara gula impor masuk dengan derasnya dengan harga jauh lebih rendah ?

Ya, di mana keadilan? Ketika kita tenang-tenang kuliah, mungkin bapak ibu kita harus bergulat dengan pekerjaannya, dihisap oleh majikan mereka. Di Mal kita asyik cuci mata sementara anak-anak kecil seusia balita tersengat panas terik dengan kaleng sedekah di sampingnya ? Kita mengaku sebagai hamba yang beriman, shalat di masjid, puasa di bulan suci, tapi tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekeliling kita. Sia-sialah kesalehan ritual dan kedermawanan sosial kita, karena tidak memberikan efek pembebasan kepada masyarakat.

TAWHID YANG MEMBEBASKAN
Sebagaimana Tawhidullah membebaskan masyarakat jazirah Arabia dari jerat perbudakan, demikian pula Tawhidullah harus bisa membebaskan kaum miskin dari persoalan struktural. Dakwah Rosul harus kita pahami bukan semata-mata mengajarkan ke-Tuhan-an, tetapi juga perlawanan terhadap mereka yang memiskinkan orang lain. Para pemilik budak, rentenir, penjual gadis-gadis, penipu dalam berdagang, pejabat yang korupsi dll. Nabi menyerukan kemerdekaan budak-budak, karena dalam Islam semua manusia adalah sederajat, tidak boleh ada tuan yang menindas dan budak yang ditindas. Dalam Islam, tidak ada perbedaan rasial dan kesukuan, tidak ada diskriminasi minoritas. Islam adalah kekuatan pembebas !

Saat ini kita menyaksikan kemiskinan struktural yang membutuhkan tindakan secara sistemik pula. Aksi-aksi parsial hanya membuahkan reformasi tambal sulam belaka, menambal lubang-lubang kapal tanpa sanggup mencegahnya untuk karam ke dasar. Rosulullah pada zamannya telah mengobarkan perang terhadap kaum penindas, perlawanan tanpa kompromi namun tetap dengan perhitungan strategi politik yang jitu. Rosul adalah teladan agung dalam perjuangan menentang struktur penindasan, alias syirik sosial !

Islam, harus dikembalikan kepada makna revolusionernya; pembebasan masyarakat dari syirik sosial. Agama harus dibersihkan dari anasir-anasir konservatif yang memanipulasi dalil-dalil Kitab Suci demi ambisi pribadi, harta dan tahta. Betapa banyak ulama yang merunduk-runduk kepada penguasa dzalim dan mengeluarkan fatwa-fatwa pesanan demi kedudukan empuk. Tawhid adalah seruan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan !!!

SAATNYA KITA MENGATAKAN TIDAK, TERHADAP REZIM PENINDAS!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar