Kamis, 30 Juli 2009

:: KARENA LAJANG, AKU DISAYANG ::

Karena Lajang Aku Disayang



Kau yang pernah mengalami masa-masa lajang, pasti pernah mendapat pertanyaan seperti berikut ini:

1. Kapan mau nikah?

2. Kapan nyusul kita? (pertanyaan ini terlontar ketika kau menghadiri pesta pernikahan temanmu)

3. Kapan nyebar undangan?

4. Kapan rencana melanjutkan kehidupan, masa depan yang lebih cerah bla bla bla (pertanyaan berbelok-belok, ribet, padahal pokok kalimatnya, ya sama aja dengan nomor 1,2 dan 3

Bagaimana peraasaanmu saat mendapat pertanyaan ini? Apakah engkau… (beri tanda silang pada pilihan yang paling tepat)

a. Pasang tampang BT

b. Mendadak ada lem menempel di bibirmu

c. Salah tingkah; garuk-garuk kepala

d. Berusaha mengalihkan pembicaraan

e. Semua jawaban salah

Beberapa pertanyaan di atas memang selalu diawali dengan kata kapan (when) yang selanjutnya diikuti dengan who dan where. Melupakan what, why, dan how. Padahal ketiga unsur terakhir yang lebih penting, yang seringkali menjadi kendala bagi si lajang untuk mengambil Keputusan-Besar itu.

Awalnya saya males banget mendengar pertanyaan ini. Tidak konkrit. Kesannya saya (atau siapapun yang ditanya) tidak ingin menikah, sengaja menunda pernikahan. Padahal belum tentu. Banyak hal yang membuat si lajang belum menikah juga. Bukan hanya masalah materi atau kecukupan finansial. Banyak hal yang lebih bersifat psikologis yang menjadi penghambat si lajang menuju pelaminan. Di kelas saya, Psikologi Ekstensi 2007, beberapa teman usianya sudah merangkak ke kepala empat. Dan mereka tetap adem-ayem, tanpa tanda-tanda akan menikah.

Meskipun males banget mendengar pertanyaan "kapan nikah?" orang-orang -terutama mereka yang dekat dengan saya- sering menanyakan hal itu, baik keluarga, sahabat maupun teman (kayaknya lebih banyak sahabat dekat, deh) Bahkan beberapa orang yang baru saya kenal, sering menanyakan status, "Sudah nikah, Mas? Kapan nikahnya?" Lagi-lagi saya pamer gigi "Status masih TERDAFTAR, sedang mengurus supaya segera bisa DISAMAKAN." Habis perkara. Lama-lama telinga ini jadi kebal dan terbiasa menjawab dan menyikapi pertanyaan-pertanyaan itu.

Namun setelah saya telaah lebih dalam. Ternyata pertanyaan itu tak dilontarkan oleh sembarang orang, lho. Yang menanyakan hal itu hanya orang-orang terdekat. Atau orang-orang yang secara psikologis merasa dekat dengan saya.

Akhirnya saya memaknakan pertanyaan itu bukan lagi sebagai panah penusuk telinga. Bukan palu hakim yang menuduh dengan berbagai sangka. Bukan tikaman, prasangka buruk dan sebagainya. Pertanyaan itu adalah bentuk perhatian, kasih sayang; tanda cinta!

Mereka menanyakan hal itu mungkin saja karena :

1. Khawatir dengan masa depan saya
2. Menginginkan saya segera menikmati cinta sesungguhnya, seperti yang sudah mereka rasakan.
3. Berharap saya lebih optimal dalam berkarya; bermanfaat bagi ummat setelah menikah
4. Kasihan dengan saya yang pontang-panting mengurus kebutuhan sendirian
5. Tak ingin saya terlalu pilah-pilih calon pendamping hingga susah mencari yang sesuai.
6. Sekarang bikin kriteria tinggi-tinggi, tapi ketika usia sudah masuk tahap emergency, banting harga juga
7. Punya calon untuk saya J
8. Apa lagi, ya?

Kalau poin di atas benar adanya (saya yakin pasti benar) bukankah itu sebuah tanda cinta istimewa. Hari gini, tak banyak orang yang mau pusing-pusing memikirkan urusan orang lain. Sedang mereka sempat-sempatnya mengkhawatirkan, mengharapkan saya jadi lebih baik setelah menikah. Bukankah itu luar biasa? Sangat luar biasa!

Maka dari itulah, sekarang, saya asyik-asyik aja jika mendapat pertanyaan klasik seperti itu. Saya berikan senyum terindah untuk si penanya dan sebuah kalimat, Insya Allah secepat mungkin. Do'ain ya. Saya akan lebih respect lagi ketika mereka mengajak saya bicara empat mata dan mulai kasak-kusuk. "Begini lho, ada bla… bla… bla… Berminat?" Senyum saya akan makin lebar untuknya. Saya akan menyempatkan diri untuk membicarakan Hal-Itu. Saya percaya, maksud mereka baik hingga repot-repot menyiapkan Hal-Itu untuk saya. Kongkrit. Tentu saja, sebelum Hal-Itu terlaksana, saya akan menyampaikan beberapa hal. Semoga saja, kalau Hal-Itu tidak berlangsung seperti saya dan mereka kehendaki, persaundaraan, ikatan cinta saya dan mereka tak pupus begitu saja.

Jadi, jika kau mengalami nasib seperti saya; ditanya kapan mau nikah, santai sajalah. Berikan senyum terindah untuk mereka, berprasangka baik saja. Mereka bertanya begitu karena sayang, karena cinta. Karena lajang, kita di sayang. Bagi Anda yang suka menanyakan "kapan nikah?" Mungkin sekarang mulai harus mengubah kalimatnya dengan, "butuh bantuan apa, nih?" atau bicara dari hati ke hati sehingga tahu, kenapa si lajang belum menikah.

Menikah adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Kedewasaan seseorang akan ditempa oleh pernikahan. Selamat bagi Anda yang sudah menikah, sebuah pelayaran baru dimulai. Pesisir pantai masih tenang, ombak belum besar. Cepat atau lambat badai akan datang, di situlah visi misi Anda tentang pernikahan akan diuji. Bagi Anda yang masih sendiri, bersabarlah. Mungkin DIA sengaja menyimpan dulu sang jodoh, sampai waktu yang tepat bagi kita untuk menerimanya. Perbaiki diri, ikhlaskan hati. Apapun yang terjadi pada kita, mungkin itulah yang terbaik menurut-Nya. Wallahu'alam



Pernah dipublikasikan di:
http://kokonata.multiply.com/journal/item/180

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar