Jumat, 31 Juli 2009

Tugas Mendesak

“(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. (Q.S. Ibrahim: 52)

SEBUAH PARADOKS
Suatu adegan yang menjadi rutinitas sejarah: pemujaan manusia terhadap berhala dan pembajakan kemanusiaan. Merupakan konfrontasi awal pada masyarakat disaat berhala-berhala ini menjelma pada setiap pribadi menjadi; nafsu-syahwat, bintang jasa, jabatan, gelar sarjana, harta kekayaan, ambisi buta, mental oportunis, dan watak hedonistis. Dalam pemujaannya terhadap berhala mengalami pertarungan yang menuntut; KEMENANGAN! Manakala kekuatan berhala lebih besar menguasainya, lebih dicintainya, dipujanya, mereka akan bersujud, takluk dalam penghambaannya terhadap berhala, benar-salah bukan menjadi standar nilai atau norma, sehingga naluri-naluri hewani dalam dirinya beraksi—praktis segala jalan dilaluinya dan penentangan terhadap dirinya adalah lawan yang patut disingkirkan.

“Laa Ilaaha iIlaallaah” merupakan kontrak sosial manusia dengan Dzat Yang Maha Esa adalah Tawhid, yakni manifestasi yang tidak mengakui adanya tuhan selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Adapun “Laa” dan “iIlaa” atau antara pengingkaran dan penegasan terletaklah inti dasar Aqidah Islam. “Laa” adalah pengingkaran terhadap ketuhanan apapun. Baik yang kita cintai-sayangi seperti: harta benda, kedudukan, pangkat, kekuasaan, kemewahan maupun wanita yang cantik-molek dan sanak-keluarga. Pada semua itu kita katakan TIDAK! Umumnya manusia menyembah dirinya sendiri, menyembah hawa nafsu dan ketenarannya, menyembah akal dan fikirannya. Ia menganggap dirinya berkuasa atas sesama manusia, pada nafsu yang demikian ini, kita nyatakan TIDAK! Kepada rezim penguasa dan kepada siapa pun kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembahmu! Adapun “Ilaah” berarti Tuhan adalah Subyek. Selain Dia, hanyalah sarana-sarana belaka, baik presiden, menteri, jenderal, anggota dewan, pemilik pabrik atau siapa saja, maupun harta benda, kedudukan, kekuasaan, nafsu, akal dengan segala bakat dan kecerdasannya yang luar biasa sekalipun. Kepada semua itu, kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembah mereka! Mereka bukan Tuhan! Kecuali (illaa) satu. Satu itulah yang bagi-Nya kita kukuhkan kesubyekan itu. Yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla. Penguasa Tunggal. Pemilik alam raya dan jagad mayapada.

Perseteruan hujjah berlangsung hingga terkobarkan perang antara Tawhid melawan Syirik; Tawhid melawan penguasa tiran; terapresiasi melalui tampilnya Nabi Ibrahim as yang menentang penguasa paganis Namrud, Musa as yang menentang tirani-fascism Fir’aun, Isa as yang menentang imperialis Romawi dan Muhammad Saw yang menentang dominasi berjouis-kapitalis Musyrikin Makkah. Kesemua mereka, para Nabi agung ini adalah para penolak penghambaan atau pemujaan terhadap berhala-berhala, dan mereka berjuang untuk merombak tatanan masyarakatnya yang menyimpang dari kehendak Sang Pencipta yang menghendaki terbentuknya masyarakat ideal yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, sebuah masyarakat Tawhid, masyarakat yang menjadikan Alloh Sang Pencipta sebagai sumber segala kehidupan, menyemai persamaan dan persaudaraan dan menegakkan keadilan, kedamaian serta kemakmuran. Penentangan dan perjuangan mereka telah menyulut peperangan demi penentangan yang menjadi konsekuensi logis sebuah penolakkan mutlak terhadap berhala-berhala.

Keharmonisan berinteraksi dengan Tawhid sebagai ruh kehidupan bermasyarakat, merupakan tolok ukur dan dasar kecenderungan manusia mengakui eksistensi (keberadaan) Alloh ‘Azza wa Jalla. Daya nalar, pola pemikiran, daya inovasi, daya kreasi dan berbagai idea serta konsep hanya akan mewujudkan kearogansian dan angkaramurka, jika tidak ada muatan Tawhid di dalamnya.

MAZHAB GENERASI PERTAMA: REVOLUSI!

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Alloh sedikitpun; dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali ‘Imran: 144)

Misi ini menolak Plato dan para filusuf spritual lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina dengan membagi masyarakat kedalam kelas-kelas sosial. Misi ini pun menentang Marxisme-Komunisme yang dengan gegap gempitanya mengelukan ‘pembebasan’, tetapi seiring dengan itu telah mencampakkan kemanusiaan dengan menisbatkan manusia sebagai ‘benda’ atau seonggok daging yang kehilangan hak asali. ‘Logika Marx’ telah menjustifikasi (memvonis) manusia menjadi ‘alat-alat produksi’ dari sebuah ‘dialektika-materialisme’, dimana hak-hak substansial manusia direnggut bagi kepentingan mesin raksasa, diktator-proletariat. Adalah bohong belaka dan telah gagal dalam sejarah! Keadilan pada masyarakat Marxisme, pembebasan hak-hak manusia pada ajaran Komunisme, dan serangan gencarnya kepada agama hakikatnya merupakan propaganda dan intrik-politik dari seorang Marx terhadap kaum geraja, rahib-rahib dan borjuasi-kapitalisme ketika itu. Adapun dalam prakteknya, ajaran Marxis-Komunisme begitu jauh kepada apa yang telah digembar-gemborkannya. Cuba, Uni Sovyet, RRC atau di Indonesia sekalipun merupakan kenihilan atau kebohongan! Provokasi dialektika-nya Hegel yang menjelmakan ‘Tuhan sebagai produk sejarah’ menjadi senjata ampuh Marx guna merajam kaum borjuasi-gereja dikalangan kaum proletar dengan jargon nya “agama adalah candu masyarakat”. Berbanding terbalik dengan realita, cuma propaganda muluk belaka. Komunisme adalah satu bentuk penindasan baru. Penindasan baru yang diproduksi dari mesin-mesin Kapitalis yang frustasi. Penindasan dimana rakyat, masyarakat atau komunitas manusia terkurung-sesak didalam mesin-mesin industri yang dikuasai atas nama ‘kepentingan kolektif’. Kepentingan dimana manusia menjadi ‘binatang ekonomi’.

Sejarah mencatat dengan tinta emas dan mengingatnya dalam kitab samawi yang mutlak suci (Al Qur’an), manakala Nabi, Rosul, dan para pengikutnya menderita siksaan demi menegakkan misi estafeta kenabian. Misi yang menyeru masyarakat manusia untuk ber-Tawhid, yakni satu gugus tugas mengenyahkan pemujaan terhadap berhala-berhala; satu perlawanan terhadap seseorang, atau sekelompok orang yang berkuasa demi perbudakan; satu pemberontakan terhadap sistem yang didalamnya sesak oleh kaum oportunis, koruptor, konglomerat hitam, hukum yang dapat dibeli, kebohongan publik, sikap kapitalistik, diskriminasi gender, kemiskinan moral, kebobrokan mental, privatisasi aset bangsa dan negara, penghisapan pemerintahan pusat terhadap daerah, penjahat kemanusiaan berbintang jasa; satu gerakan penyadaran, keadilan dan pembebasan dari anasir-anasir konservatif yang menindas.

Mereka para Nabi, para Rosul dan pengikutnya tahu benar bahwa keteguhan hati dan kemauan mereka menjadikan dirinya tetap sebagai pelita yang menerangi jalan kehidupan. Dikarenakan mereka tidak meragukan lagi eksistensi Alloh Azza wa Jalla sebagai PENGUASA TUNGGAL di jagad raya ini. Sebelum Isa diangkat sebagai Rosul, Alloh telah menunjuk Musa sebagai pembawa berita kebenaran. Musa tunduk atas segala perintah Alloh, sehingga ia pada zaman-nya melakukan perlawanan terhadap; QARUN, sang kapitalis; BAL’AAM, ulama tersohor yang menyokong status quo; dan FIR’AUN, diktator—penguasa-- yang otoriter. Al Qur’an yang mutlak benar mengisahkan dalam surat Thaha 43-44:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Musa pun menyampaikan ayat-ayat Alloh dengan perkataan lemah lembut, tetapi Fir’aun menolak ajakan itu malahan berusaha menentang dan membunuh Musa. Bahkan Fir’aun berusaha mengumpulkan massa dan ia berorasi: ”…akulah tuhanmu...akulah penguasamu...“ Inilah satu bentuk status quo; satu bentuk pemerintahan dibangun melalui sistem perekonomian yang kapitalistik, yakni sistem penghisapan --sistem ekonomi yang berdiri dengan riba, penguasaan pribadi atas alat-alat produksi; satu kebohongan publik dimana atas nama agama--atas seruan yang keluar dari mulut ulama, rakyat dipaksa menerima situasi penindasan. Situasi dan kondisi di mana kedaulatan rakyat, kebenaran, keadilan, tergenggam ditangan rezim, terkuasai oleh kedigdayaan tiran. Sedang ulama dengan legitimasi ‘ulama’-nya dibentuk sebagai cooler --alat pendingin--, sebagai alat untuk menyimpangkan kebenaran Firman Alloh Azza wa Jalla, dan sebagai alat guna meredam perlawanan terhadap penindasan tirani.

Jauh sebelum Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib diangkat menjadi Nabi, ketika ia masih seorang penggembala domba, seorang yatim-piatu miskin, hidup sehari-harinya terjerembab oleh ekses dominasi kekuasaan terpusat, satu kondisi kemiskinan struktural yang diproduksi oleh elit penguasa, satu kondisi kebodohan yang diciptakan oleh para tiran, satu kenyataan dimana intelektual telah merekayasa diri menjadi mesin-mesin penggilas kemanusiaan. Yang nampak di Jazirah Arab hanyalah kepincangan ekonomi, sosial, politik, budaya. Perbudakan manusia atas manusia; pembunuhan terhadap perempuan dengan dikubur hidup-hidup; sistem kelas berdasarkan strata sosial, darah biru, intelektual akademis, diskriminasi sosial terhadap rakyat mustadh’afin, pemerkosaan hak asasi manusia dengan pembunuhan massal mengatasnamakan suku-bangsa dan eksploitasi kehormatan wanita, penjualan budak belian; kebangkrutan moralitas dan mentalitas dengan dihiasi gaya hidup mewah, kumpul kebo (freesex), pelacuran; perampokan secara konvensional dan moderen sudah mewabah ditengah masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat. Bahkan kebusukan perilaku penguasa dibungkus dengan bintang jasa. Padahal, anugerah dibalik bintang jasa itu luber dengan air mata rakyat jelata, ada darahnya ummat proletar dan penuh dengan nyawa anak negeri tak berdosa.

IQRA’! BACALAH! Apa yang harus dibaca? Dengan apa manusia membaca? Apa tujuan membaca? Bagaimana pula cara membacanya? Kapan dan dimana ruang dan waktu membaca? Pertanyaan demi pertanyaan melingkari dan mengurung manusia dengan berbagai untaian pertanyaan. Jikalau bukanlah karunia Alloh Azza wa Jalla niscaya manusia itu mati dalam lilitan kebingungan.

Iqra’ adalah bentuk perintah. Hukumnya perintah; WAJIB. Jadi setiap manusia wajib Iqra’. Obyek Iqra’ pada penggal ayat pertama surat Al Alaq, surat pertama yang diturunkan Alloh ‘Azza wa Jalla tidaklah jelas, sehingga yang di Iqra’ adalah yang tersurat dan tersirat. Kemudian Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan celah pemahaman bahwa membaca segala sesuatu itu harus diawali Bismi Robbik, yaitu dengan Nama Tuhanmu atau dengan ajaran Rabb-mu, dalam artian apabila manusia membaca sesuatu tanpa menggunakan nama Alloh ‘Azza wa Jalla atau tidak dengan ajaran Alloh ‘Azza wa Jalla, maka hasilnya hanyalah ketimpangan dan kehancuran. Mengapa Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan membaca dengan atas nama-Nya. Tidak dengan nama lain. Dan mengapa Alloh ‘Azza wa Jalla menggunakan ‘Rabb’. Mengapa Dia tidak eksplisit menyebut nama Alloh dengan menyebut Bismillaah. Alloh ‘Azza Wa Jalla mengenalkan diri-Nya Rabb yang mengandung makna fungsi eksistensi. Skala obyek Iqra’ sangatlah luas yaitu membaca ciptaan Alloh ‘Azza wa Jalla berupa segala yang ada di bumi dan di langit. Hal ini diinformasikan Alloh melalui firman-Nya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21). Relevan dengan alur pemikiran yang terkandung dalam wahyu pertama, bahwa obyek Iqra’ lebih difokuskan kepada manusia. Kemudian pada surah Adz-Dzaariyat ayat 21 bahwa dalam diri manusia itu penuh ‘misteri’ yang harus dieksplorasi.

Rabb yang mencipta segala sesuatu itu adalah bahasa tentang ke-Tuhan-an yang sifatnya umum. Arab jahiliyah menyembah berhala la’ata-‘uzza-manaat akan tetapi mereka juga menyebutnya tuhan. Karena masyarakat jahiliyah menganggap bahwa menyembah berhala itu mendapatkan perlindungan, ketenangan, rizki dan lain-lain. Oleh karena itu Alloh ‘Azza wa Jalla secara diplomatis menggunakan kata Rabb yang diakhiri dengan ‘aI-Ladzii Khalaq, yang bermakna yang menciptakan, YANG MAHA PENCIPTA. Mengandung artian bahwa berhala yang dipertuhankan masyarakat jahiliyah itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang termaktub dalam QS. An-Nahl: 20: ”Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Alloh, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) di buat orang”.

Ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang difirmankan Alloh Azza wa Jalla kepada Muhammad melalui perantara Jibril, memberikan pencerahan alam pemikiran manusia akan betapa hinanya manusia sebagai budak nafsu dan bukan sebagai hamba Alloh yang taat. Kata Rabb yang berarti; pencipta (alam), pengatur (hukum), perumus (kebijakan), memelihara, atau mendidik, akan melekat dalam lubuk hati manusia dikala manusia itu mencari dan menapaki risalah dengan satu renungan: Alloh ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan hakiki hidup.

Iqra’, berarti bacalah. Konotasi dan interpretasinya; analisislah, lakukanlah riset, selidikilah, pikirkanlah, pelajarilah dan proklamasikanlah. “Apa yang harus diselidiki? Apa yang harus dipikirkan? Dan apa yang harus diproklamasikan?”

Sasaran Iqra’ adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM yang merupakan benteng sistem ketatanegaraan. Suatu negara ini akan makmur gemah ripah loh jinawi, apabila landasan idiilnya mengacu kepada kebenaran mutlak (Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Saw.). Pemerintah Arab Jahiliyyah sebelum turunnya Al ‘Alaq, kondisi sistem ekonomi, sosial, budaya dan politiknya sangat berantakan, sehingga keutuhan nasional Hijaz terancam disintegrasi. Apalagi ketakutan atas adanya dua adikuasa, Roma dan Persia, cukup mengompori semangat disintegrasi itu. Disintegrasi terjadi karena keadilan tidak berkeadilan. Seluruh kekayaan rakyat di daerah disentralisasikan dan segalanya harus menunggu kebijakan sentral. Daerah hanya mendapat percikan anggaran yang tidak berimbang dengan pendapatan. Dikarenakan mengacu kepada asas ‘keseimbangan’ dan ‘stabilitas nasional’.

Merupakan adegan iman yang indah sekali. Ketika Bilal bin Rabah disiksa majikannya, dia tidak mengaduh kesakitan, tapi apa yang terucap ?…”AHAD !” suatu jawaban mantap yang menggetarkan para penyiksa dan majikannya. Ini menunjukkan bahwa pelindung dirinya hanyalah Alloh Yang Ahad. Dialah yang memiliki asma ‘ul husna, Dialah yang menguasai alam semesta termasuk diri majikannya, Dialah yang mendengar rintihan ummat proletar dalam ketertindasan. Bilal tak gentar menghadapi ancaman maut dari boss yang berlaku kasar dan sadis. Inilah buah Iqra’ yang menghasilkan ma‘rifat kepada Alloh Azza wa Jalla. Dibalik adegan penyiksaan yang tidak memudarkan iman Bilal bin Rabbah itu, hati kecil bossnya terusik. “Gerangan doktrin apakah yang menjadikan Bilal setegar itu? Muatan apa yang disampaikan Muhammad sehingga para pengikutnya memiliki militansi tinggi”. Akan tetapi karena gengsinya para penggede kaum kuffar tidak ingin menyatakan salut dan ikut serta beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Jelas dan terbukti, al-‘Alaq ayat pertama menyajikan konsep perubahan sistematis; satu penyembahan mutlak terhadap Alloh Azza wa Jalla, satu penolakan mutlak terhadap berhala-berhala, satu paradigma progresif menentang bentuk-bentuk berhalaisme, dan merupakan satu gerakan revolusioner, yakni gerakan REVOLUSI IDEOLOGI. Gerakan yang terlebih dahulu mengenalkan posisi Alloh sebagai Tuhan secara Implisit, namun mengakar dalam hati sanubari manusia. Alloh mengajarkan teori revolusi ideologi melalui pendekatan sosio kultural untuk membongkar akar masalahnya, yakni IDEOLOGI THAGHUT .

VIRUS-THAGHUT MALAPETAKA HARI INI !

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisaa’ : 60)

Jika gerakan reformasi yang diharapkan dan didukung seluruh komponen bangsa dalam format NKRI tidak mampu lagi menyelesaikan krisis multidimensional bangsa Indonesia, apakah bangsa ini akan dibiarkan terkatung-katung dalam ketidakpastian tanpa tindakan-tindakan strategis yang akan menyelamatkannya. Apakah gerakan reformasi yang mulai diragukan keampuhannya akan dibiarkan bergerak tidak menentu sehingga bangsa ini menemui kehancurannya. Bahkan jika para pakar, politisi, cendekiawan dan masyarakat luas sudah menganggap reformasi mati muda, apakah kita akan membiarkan rezim penguasa berbuat semaunya tanpa tindakan yang merubah keadaan. Membiarkan rakyat menderita, membiarkan para penjahat dan koruptor berleluasa, membiarkan kehancuran bangsa adalah tindakan pengkhianatan terhadap para pahlawan yang dulu telah mengorbankan nyawa mereka untuk bangsa ini. Bahkan lebih jauhnya lagi adalah tindakan yang telah melanggar amanah Sang Pencipta yang menghendaki tegaknya keadilan, kemakmuran dan keamanan di muka bumi. Kehancuran bangsa ini tidak boleh dibiarkan karena menyelamatkannya adalah tuntutan kemanusiaan sekaligus perintah Alloh ‘Azza wa Jalla.

Apa yang terjadi pada negeri Indonesia berupa kerusakan yang menyeruak ke semua lini dan melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan menyajikan berbagai bentuk perpecahan dan konflik sepertinya telah menyelimuti jiwa-jiwa rakyatnya dan elite penguasa. Rakyat dikuasai oleh Negara yang hanya berisi ambisi pribadi, kepentingan golongan, dekadensi moral, pola penerapan keputusan yang membingungkan dan kerakusan masing-masing pihak untuk menguasai negeri ini.

Pendidikan mahal, BBM naik, harga kebutuhan pokok semakin melonjak, pengangguran bertambah karena sedikitnya lapangan pekerjaan dan tingkat upah buruh yang rendah. Sementara itu moral dan akhlak generasi mudanya terbelenggu oleh buaian narkoba, freesex dan watak hedonisme. Maka merebaklah kriminalitas, ambisi berkuasa dan kedzoliman. Terlihat jelas pada aspek interaksi sosial dengan adanya kebrutalan didalam tatanan masyarakat yang selalu bergejolak memperebutkan kekuasaan. Pada aspek hukum dengan indikator yang begitu nyata menyudutkan kebenaran pada posisi lemah-tertindas, terlihat lengkap di balik permasalahan ketidakadilan dan ketidak-berdayaan-nya lembaga peradilan dikarenakan akhlaq akademis manusianya mengadopsi hukum kolonial. Begitu pula ambruknya akhlak ummat ketika mengembangkan sains dan teknologi sebagai ambisi ekspansif bangsa dan negara karena dikemas untuk memenuhi kepentingan materialis dan individualis.

Keadaan ini akan terus turun-temurun melahirkan gejala keraguan kepada ketentuan Alloh ‘Azza wa Jalla. Gejala keraguan pada masyarakat dapat teridentitaskan melalui untaian ritus penyembahan berhala. PENYEMBAHAN BARU! BERHALA-BERHALA BARU! Penyembahan dimana aktivis-aktivis difitnah dan dipenjarakan, dikarenakan mereka berda’wah meninggikan Hukum Alloh; penyembahan dimana emosi, jalan pemikiran, cara hidup, patriotisme, nasionalisme, dinilai hanya dengan uang, kedudukan dan bintang jasa; penyembahan dimana kesenangan inderawi dipuaskan oleh sex bebas, narkotik-miras, atau tarian erotis pengugah birahi; penyembahan dimana nilai dan norma luhur bangsa dibarter dengan budaya impor imperialis; penyembahan dimana kedaulatan bangsa terjual demi keserakahan penguasa; penyembahan dimana bangsa Indonesia yang ‘katanya’ berdaulat telah terjajah kembali oleh Amerika bin zionis Yahudi laknatullah.

Jika kita kaji lebih mendasar kesatu titik bagaimana Islam memandang suatu perkara memang begitu jelas. Karena kita akan menemukan akar permasalahan yang terjadi pada ummat ini adalah akibat ideologi yang dianut ummat, Bangsa dan Negara yang menguasainya. Ideologi Ummat Islam Bangsa Indonesia yang kini dianut, bahkan diberhalakan menjadi satu acuan-rujukan berkehidupan merupakan ideologi thaghut. Ideologi yang timbul dari produk pemikiran manusia. Pro kontra, konflik horizontal, fitnah dan berbagai macam kekusutan tatanan pada kondisi ummat yang berideologi thaghut tak dapat dibendung bahkan tidak akan mungkin selesai. Tepatlah kiranya dan merupakan satu sikap revolusioner, disaat jari telunjuk Sayyid Quthb menuding ke arah penguasa Mesir ketika mereka membujuknya supaya mau menerima jabatan pada satu kementrian. Dan ia berkata: “Sesungguhnya jari telunjuk yang teracung mempersaksikan keesaan Alloh di dalam sholat ini, menolak menulis satu huruf pun untuk mengakui hukum thaghut!”. Dan jauh sebelumnya Alloh ‘Azza wa Jalla juga telah memberikan rambu peringatan pedas kepada kita semua dalam firman-Nya: Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (QS. Asy Syuura: 30).

Wa ‘l-Lahu A’lamu bi’sh-shawwabi

Billaahi Hayaatunaa walloohu Fii Hayaati ‘l-Must’adz’afiin





--------------------------------------------------
Fascism: Militeristik.
Berjouis-kapitalis: Kelas menengah rakus.
Plato: Filsuf Yunani murid Socrates, guru Aristoteles. Mahaguru Filsafat Barat.
Marxisme-Komunisme: produk pemikiran Karl Marx yang lahir tanggal 5 Mei 1818 di Trier Jerman. Marx merupakan keturunan dan seorang Yahudi. Marx muda, ketika ia masih menjadi seorang Hegelian yang membenci agama Kristen, ia bersama Freud-Ludwig Feuerbach—seorang atheis, menyatakan bahwasanya agama adalah candu masyarakat—candu yang membuat seseorang rela diperas dan ditindas. Serangan dan perlawanan kaum Marxis-Komunis tidak saja tertuju kepada mereka kaum gereja-rahib-bourjuis-kapitalis, tetapi Islam pun dihantamnya secara brutal dan irasional. Sikap formal Marxisme dan Komunisme terhadap Islam antara lain didalam Bolshaya Sovyetskaya Encyclopedia, jilid XVIII, 1953, hal. 616-619: [1] Agama Islam, sebagaimana agama-agama lainnya selalu memainkan peranan yang reaksioner, yang dilakukan oleh kelas-kelas pemeras, sebagai satu senjata untuk menindas secara rohani kaum-kaum yang membanting tulang dan dilakukan oleh penjajah asing untuk memperbudak bangsa-bangsa timur [2] Agama Islam membenarkan ketidakadilan sosial, ekonomi dan sistem pemerasan yang sedang ditegakkan [3] Al Qur’an yang dengan teguh dan tetap mempertahankan perbudakan. Untuk Marxisme-Komunisme, sangat dianjurkan membaca; Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1966, hal. 2-3; Dr. Ali Syari’ati, Kritik Islam atas Marxisme, Mizan, Bandung, 1983; Roger Garaudy, Mencari Agama pada Abad XX, Bulan Bintang, Jakarta, 1986.
Thaghut berasal dari pangkal kata thagha-yathghu-thaghwan yang berarti mengingkari atau melampaui batas. Thaghut dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang telah melampaui batas ketentuan Alloh Azza wa Jalla, dalam artian mengingkari dan menandingi apa yang telah diturunkan Alloh S.W.T. dan diajarkan Rasulullah Saw.. Thaghut dapat berarti meng-ilah-kan sesuatu selain Alloh S.W.T. atau pemujaan terhadap berhalaisme. Penjelmaan Thaghut dapat berupa; manusia munafiq-musyrik-kafir, nafsu syahwat, sistem, undang-undang, atau ideologi—pandangan hidup yang bertolak belakan kepada kehendak dan ketentuan Alloh S.W.T..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar