Rabu, 05 Agustus 2009

Adab as-Suluk wa at-Tawassul ila manazil al-Muluk….by : syekh Abdul Qadir al-Jailani

1 MAKANAN HATI DAN BEKAL PERJALANAN
Ada tiga hal mutlak yang harus dipegang oleh seorang Mukmin dalam segala kondisinya:
1. Perintah yang harus dilaksanakannya,
2. Larangan yang harus dijauhinya, dan
3. Takdir yang harus diterimanya (dengan segala keridhaan).
Ketiga hal ini merupakan hal-hal minimal di mana tidak satu pun diantaranya boleh lepas dari diri seorang mukmin.
Seyogianya, ia melekatkannya pada hatinya, membincangkannya dengan nafsu dirinya, dan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dalam rangka mewujudkannya..


2. DENGAN AMAL SEGALA PENGHARAPAN AKAN TERPETIK

Syekh – Semoga allah meridhai dan meridhakannya – berujar : Ikutilah (Sunnah) dan jangan membuat-buat bid’ah! Patuhilah dan jangan melanggar! Bertauhidlah dan jangan menyekutukan!! Sucikanlah al-Haqq (Allah) dan jangan tuding keburukan kepada-Nya!! Mintalah selalu pada-Nya dan jangan pernah kau merasa jemu! Tunggu dan berharaplah, jangan kau ragu dan meragukan (belai kasih-Nya)! Bersabarlah selalu dan jangan gusar! Tegarlah dan jangan lari! Bersaudaralah dan jangan bermusuhan! Bersatulah (bahu-membahu) dalam laku ketaatan dan jangan bercerai-berai! Saling mencintailah dan jangan saling benci! Sucikanlah diri dari keburukan, jangan kau kotori dan nodai diri dengannya! Percantiklah diri dengan ketaatan kepada Tuhanmu dan jangan pernah kau menjauh dari pintu-pintu Mawla Junjunganmu! Jangan kau berpaling dari sambutan-Nya. Jangan kau tunda-tunda tobat. Dan jangan pernah bosan untuk memohon maaf dan ampunan pada Penciptamu, siang dan malam.
Semoga Dia menganugerahkan belai kasih dan kebahagiaan, menjauhkanmu dari api neraka dan memasukkanmu kedalam Surga-Nya , menyibukanmu dengan kenikmatan dan kesenangan bersama perawan2 dan perjaka di Surga(Dar as-Salam) mengekalkanmu di dalamnya untuk selamanya, menaikkanmu di atas kendaraan kuda2 putih, menghiburmu dengan bidadari dan bidadara, juga segala macam aroma kebaikan, melodi hamba2 sahaya wanita, beserta segala karunia2, kemudian mengangkat derajatmu bersama para Nabi, kaum Shiddiqin, para pahlawan syahid, dan kaum Saleh di Surga orang2 yang mulia (‘Illiyyin)…

-

3. DALAM COBAAN TERKANDUNG KEBANGKITAN RUH DN KESADARAN MATA HATI


Syekh – Semoga allah meridhai dan meridhakannya – berujar :
Jika seorang hamba ditimpa cobaan, pertama-tama cobalah ia atasi sendiri dengan usaha diri. Jika masih belumlepas, cobalah ia cari pertolongan kepada makhluk sesamanya, seperti para raja (penguasa), pejabat, bangsawan, hartawan, atau dokter ahli dalam bidang perih luka dan sakit. Jika belum sembuh juga, barulah coba ia kembali kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla dengan doa dan simpuh kerendahan hati (tangis). Selama ia masih bisa menemukan solusi pada dirinya sendiri, maka jangan lari pada sesamanya. Dan selama ia temukan solusi pertolongan pada makhluk sesamanya, tidak perlu ia rujuk pada Sang Khaliq Penciptanya ‘Azza wa Jalla. Baru ketika tak ia temukan lagi solusi pertolongan pada makhluk, maka lemparkan diri bersimpuh di hadapan-Nya sambil terus menerus memohon, bersimpuh, berdoa, menangis dam memelas dengan harap2 cemas, takut bercampur harap kepada-Nya… Sang Pencipta ‘Azza wa Jalla akan membiarkan ia letih dalam berdoa dan tidak mengabulkannya sampai ia memutuskan kaitan diri dengan sarana-sarana (duniawi). Ketika itulah Takdir berjalan didalam dirinya dan Tindakan (Allah) pun berlaku pada dirinya. Si hamba pun lebur binasa dari segala sarana dan gerak, tinggallah ketika itu ruhnya semata.
Jika sudah demikian halnya, tak ia lihat lagi apa-apa selain manifestasi Tindakan al-Haqq ‘Azza wa Jalla. Praktis, jadilah ia orang yang penuh keyakinan dan manunggal. Ia yakin bahwa sejatinya tidak ada pelaku [yang bertindak dan bergerak] kecuali hanya Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada pengerak dan pendiam kecuali hanya Allah. Juga tidak ada kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudarat, keterbukaan dan ketertutupan, kehidupan dan kematian, kehormatan dan kenistaan, kekayaan dan kemiskinan kecuali telah diatur olah tangan Kuasa Allah’Azza wa Jalla.
Jadilah ia ketika itu dihadapan kuasa Takdir, ibarat bayi ditangan perawat, mayat di tangan pemandinya, bola di lengkung tongkat penunggang kuda; membolak-balik, berubah, berganti dan menjadi; tanpa daya pengerak didalam dirinya maupun selainnya. Ia hilang dari dirinya dan melebur dalam tindakan Junjungan-Nya. Tak ia lihat apa-apa lagi selain Sang Mawla dan Tindakan-Nya, juga tak mendengar dan berpikir tentang selain-Nya.
Jika melihat, maka karena perbuatan-Nyalah ia melihat. Jika ia mendengar dan mengetahui, maka karena Kalam-Nyalah ia mendengar dan dengan ilmu-Nyalah ia mengetahui…Dengan nikmat-Nya ia terkaruniai, dan dengan Kedekatan-Nya ia terbahagiakan. Melalui kedekatan dengan-Nya ia berhias dan mulia. Hanya dengan janji-Nya ia lega dn senang. Hanya dengan-Nya ia bias merasakan ketenangan. Dengan firman-Nya ia merasa intim, dan dengan selain-Nya ia merasa muak dan mangkir. Dengan berzikir menyebut-Nya ia mencari perlindungan dan bersimpuh mendekat. Hanya dengan-Nya ia percaya diri. Kepada-Nya ia serahkan diri. Dengan cahaya makrifat-Nya ia beroleh petunjuk dan berbaju. Tentang keanehan-keanehan Ilmu-Nya ia menelaah, dn tentang rahasia-rahasia Qudrah-Nya ia mengawasi…
Dari-Nya ‘Azza wa Jalla ia mendengar dn tersadar. Kemudian pada semua itu ia memuji dan memuja, seakligus bersyuukur dan berdoa..
Bersambung…..

Sumber : Adab as-Suluk wa at-Tawassul ila manazil al-Muluk….by : syekh Abdul Qadir al-Jailani


...Setelah beberapa tahun, salah satu tarekat sufi kian menyusut. Yang tersisa hanyalah seorang syekh dan tiga orang darwisnya. Mereka tinggal di pondokan tarekat tersebut, menghabiskan waktu mereka untuk berdoa, merenung dan mengelola tanah perkebunan mereka. Keempat pria tersebut beranjak tua, mereka menjadi cemas bahwa tradisi mereka yang berharga ini akan lenyap bersama mereka.

Salah seorang darwis menyarankan agar sang syekh mengunjungi seorang rahib Yahudi setempat yang juga dikenal sebagai sosok yang amat bijaksana. “Ia juga seorang guru spiritual,” jelas sang darwis, “dan saya yakin, ia juga pernah dihadapkan kepada persoalan yang serupa.” Sang Syekh kemudian mengunjungi rahib tersebut. Sambil minum teh bersama, ia menceritakan persoalannya kepada sang rahib. Sang Rahib tersenyum dan berkata, “Aku pun memiliki permasalahan serupa. Saya sungguh tidak tahu bagaimana menarik generasi muda dari komunitas saya sendiri. Namun aku dapat memberitahu anda satu hal: Dalam suatu perenunganku, ditampakkan padaku bahwa salah satu dari kalian adalah quthb zaman.”

Dalam tasawuf, quthb yang secara literal berarti “tiang”, adalah pemimpin spiritual manusia yang tersembunyi. Akan selalu ada seorang quthb pada setiap zaman. Identitasnya hanya diketahui oleh segelintir orang suci saja. Sang Quthb menyalurkan cahaya dan kearifan dari surga ke dunia. Tanpa seorang quthb, dunia akan secara perlahan menjadi gelap dan akan hampa secara spiritual.

Sang Syekh kembali kepada darwisnya dan menceritakan kepada mereka apa yang disampaikan oleh rahib itu. Ketiganya langsung menyimpulkan bahwa pastilah sang syekhlah quthb itu. Namun kemudian mereka merenungkan, membayangkan jika sang quthb itu adalah Mehmet. Ia menjadi imam dalam sholat mereka setiap hari, dan telah hafal keseluruhan Al Quran. Atau, bisa saja quthb tersebut adalah Ahmad. Ia muadzin, dan memiliki suara yang merdu, yang selalu menjadi inspirasi bagi setiap pendengarnya. Atau, quthb tersebut mungkin juga Dawud. Ia pendiam dan bersahaja, ia selalu ada ketika orang membutuhkan pertolongan.

Kelompok kecil syekh dan darwis tersebut kemudian mulai memperlakukan satu sama lain seolah-olah tiap-tiap mereka adalah sang quthb. Cinta dan penghormatan di antara mereka menjadi semakin mendalam. Kenikmatan yang mereka rasakan sebagai sebuah kelompok kian meningkat.

Pondokan sufi tersebut terletak di atas lahan yang indah. Orang-orang banyak yang berdatangan kesana untuk sekedar berpiknik. Tak lama, suasana baru dari kelompok tersebut mulai menarik perhatian para pengunjung.

Sebagian dari mereka kemudian tinggal untuk ikut serta dalam sholat, atau dalam dzikir. Akhirnya beberapa anak muda mulai bertanya mengenai kemungkinan mereka untuk bergabung menjadi darwis.




Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD.,


6. CINTAI KEDEKATANMU DAN LEBURKAN HAWAMU
Syekh - semoga Allah meridhai dan meridhakannya - berujar : Leburkanlah dirimu dari manusia dengan hukum Allah, juga dari hawa kesenanganmu dengan perintah-Nya, dan dari kehendak dirimu dengan tindakan Allah. Ketika itulah, kau memenuhi syarat untuk menjadi wadah ilmu Allah Ta'ala.
Tanda kebinasaan dirimu dari manusia adalah keterputusan jalinan dan pergaulanmu dengan mereka, juga bolak-balikmu pada mereka, dan ketiadaan ambisi untuk ikut memiliki apa yang mereka miliki (di tangan mereka).
Tanda lenyapnya diri dari diri dan hawa kesenangan adalah meninggalkan laku peraupan dunia (takassub) dan ketergantungan pada sarana2 dalam meraih manfaat dn menolak kemudaratan. Kau tak bergerak lagi di dalam dirimu dengan dirimu, juga bersandar pada dirimu demi dirimu, tak membela diri dan memenangkan nafsu diri. Akan tetapi, pasrahkan semua itu kepada Zat yang mengurusinya pertama dan terakhir, juga yang menjadi wakil pengurusmu saat kau masih menjadi janin di dalam rahim dan saat menjadi bayi kecil yang menyusu di atas ayunan.
Adapun tanda kebinasaan kehendakmu dengan tindakan Allah 'Azza wa jalla adalah kau tak lagi menginginkan satu keinginan apa pun meski memiliki kehendak. Kau juga tak lagi memiliki tujuan pasti, dan tak terpaku pula pada kebutuhan dan cita keinginan. Sebab, saat bersama Kehendak Allah kau tidak akan menginginkan apa2 selain Kehendak-Nya, akan tetapi Tindakan Allah-lah yang mengalir di dalam dirimu. jadilah kau Kehendak dan Tindakan Allah, dengan kepasifan anggota badan, ketenanganhati, kelegaan dada, keberserian wajah, kebinaran aura batin, dan tak membutuhkan lagi segala sesuatu dan merasa cukup dengan Sang Pencipta-nya saja. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta Alam mengajarimu, membusanaimu dengan nur dan pengagungan-Nya, menempatkanmu bersama para pendahulu pemilik ilmu pertama. Dalam kondisi demikian kau selamanya terpecah belah, hingga tak bercokol di dalam dirimu segala syahwat kesenangan dan kehendak. Kau menjadi laksana sebuah bejana yang hancur lebur, yang menampung cairan atau larutan lagi. Maka jauhilah dirimu dari segala akhlak kemanusiawian. Batinmu tidak akan tenang menerima selain Kehendak Allah. Paa maqam inilah, kau akan diberi kuasa penciptaan (takwin) dan kekuatan adikodrati. Hal ini tampak seolah-olah darimu, dari lahiriah akal dan hukum, padahal sebenarnya dalam kacamata ilmu ia adalah Tindakan dan Kehendak Allah.
jika sudah demikian keadaanmu, maka kau pun masuk diakui sebagai golongan orang2 yg tertundukkan hatinya, kalangan yang mampu menundukkan kehendak2 kemanusiawian mereka, juga yang telah dilenyapkan dari diri mereka syahwat2 kesenangan alamiah dan [sebagai gantinya] menguatlah di dalam diri mereka kehendak ketuhanan (iradah rabbaniyyah) dan syahwat2 tambahan (idlafiyyah) yang disinyalir oleh Nabi Saw. dalam sabdanya "Tiga hal yang dicintakan kepadaku dari dunia: perempuan, wewangian dan dijadikannya penyejuk mataku dalam shalat." Ketiga hal ini ditambahkan pada beliau setelah beliau keluar darinya dan lenyap darinya demi mewujudkan apa yang telah diisyaratkan dimuka.
Allah berfirman (hadits Qudsi) : "Aku bersama orang-orang yang berkeping-keping hatinya demi Aku."
Allah Ta'ala tidak akan bersama dirimu sampai kedirianmu sirna bersama hasrat dan keinginanmu. Jika telah sirna dan tidak ada apa2 lagi di dalam dirimu, dan lagi kau tidak merasa aman dengan apa pun selain-Nya, maka Dia menghidupkanmu kembali hanya untuk-Nya. Dia ciptakan kehendak di dalam dirimu, lalu kau pun berkehendak dengan kehendak tersebut. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat kehendak baru sekecil apa pun, maka Allah meremukkanmu lagi,hingga kau berpatah-hati. Lalu Dia 'Azza wa Jalla akan menciptakan kehendak baru lagi di dalam dirimu, untuk kemudian melenyapkannya lagi jika masih ada sisa kehendak lagi di dalam dirimu. Dn begitu seterusnya hingga ajal menjemput dan mempertemukanmu dengan-Nya.
inilah makna firman Allah: "Aku bersama orang2 yang berkeping-keping hatinya demi Aku."
Adapun arti pernyataan: "Saat keberadaanmu di dalamnya." adalah kekukuhan dn ketenanganmu di dalamnya. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi yang disampaikan oleh Nabi Saw. : "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat2 sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya untuk ia mendengar, menjadi matanya untuk ia melihat, menjadi tangannya untuk ia mengepal pukul, menjadi kakinya untuk ia berjalan." Dalam susunan lain dituturkan: "Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku mengepal pukul, dan dengan-Ku ia berpikir."
Demikian keadaan fana', yaitu engkau melebur binasa dan kedirianmu. Jika kau telah benar2 lebur binasa dari kedirianmu dan dari makhluk, dimana makhluk hanyalah kebaikan dan keburukan, begitu juga dirimu adalah kebaikan dan keburukan, maka engkau tidak akan lagi mengharap kebaikan mereka serta menakuti keburukan mereka. Tinggalah hanya Allah sendiri sebagaimana Dia kesendirian-Nya sebelum menciptakanmu. Dan mengingat didalam Takdir Allah terkandung kebaikan dan keburukan, maka Dia pun menyelamatkanmu dari kejahatan makhluk-Nya dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikan-Nya; sehingga kau pun menjdi wadah seluruh kebaikan, sumber segala rahmat, kebahagian, kenikmatan, kecerahan, cahaya, terang-benderang, keamanan dan kedamaian.
Fana' (keleburbinasaan) adalah harapan, angan cita, target terakhir, batasan, dan jalur yg berakhir pada lajur para wali. Ia adalah sikap istiqomah yg dituntut oleh para Wali dan Abdal terdahulu agar senantiasa lebur binasa dari segala kehendak diri mereka, untuk kemudian digantikan dengan kehendak al-Haqq 'Azza wa jalla. Lalu mereka pun hanya berkehendak dengan kehendak al Haqq selamanya hingga ajal menjemput. karena inilah mereka disebut kaum Abdal.
Bagi pribadi2 mulia ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah sudah merupakan dosa, meski hal itu dilakukan dalam kondisi lupa dan alpa, serta terdesak dan kaget sekalipun. Jika dalam kondisi demikian, Allah Ta'ala pun segera menyadarkan mereka dengan kasih sayang-Nya, hingga tersadar dan ingat, lalu mereka pun berpaling dari hal itu dan memohon ampun pada Tuhan mereka 'Azza wa Jalla. Bagaimana pun, tidak ada yang maksum dari kehendak kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa suci dari hawa kesenangan, sedangkan para makhluk selain mereka dari kalangan bangsa jin dan manusia tidak maksun dari keduanya. Dalam hal ini para Wali hanya dilindungi dari hawa kesenangan, para Abdal dilindungi dari kehendak, namun mereka tidak maksum dari keduanya. Artinya bisa2 saja mereka dalam beberapa kondisi tercebur pada keduanya, namun Allah secepat kilat akan menyadarkan mereka dengan rahmat-Nya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar