Rabu, 05 Agustus 2009

Anak-anak, Bersikaplah dengan Baik Oleh M. R. Bawa Muhaiyaddeen Bagikan

Cintaku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku. Mendekat dan duduklah. Setiap dari kamu melihat kepadaku dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan. Engkau harus belajar bagaimana untuk bertingkah laku dengan baik.

Pertama engkau harus memikirkan apa yang baik dan apa yang buruk, kemudian engkau harus menyingkirkan apa yang buruk dan hanya melakukan apa yang baik. Rasakan bagaimana rasa dari perbuatan baik tersebut. Dan jika seseorang melakukan suatu kebaikan kepadamu, engkau harus membalas kebaikannya kembali. Tetapi jika seseorang melakukan suatu keburukan kepadamu, cukup lupakanlah. Jangan membalas perbuatannya.

Lebih lanjut, cucuku, engkau harus selalu menghormati ibu dan ayahmu. Tidak saja harus menghormati mereka, engkau juga harus mematuhi mereka. Jika seseorang usianya sedikit lebih tua darimu, maka engkau harus memperlakukan ia seperti kakakmu. Jika seseorang usianya jauh lebih tua darimu, engkau harus menghormatinya seperti ayahmu. Jika seseorang usianya lebih muda darimu, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang dan rangkul ia di bawah sayapmu layaknya seorang adik atau anakmu. Engkau harus menghormati dia. Bahkan kepada sapi, kambing, dan binatang lainnya, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang. Melalui hidupmu engkau harus menunjukkan tiga ribu sifat-sifat pengasih Tuhan kepada setiap orang. Engkau harus melakukan kewajibanmu dan menghormati mereka yang lebih rendah sebagaimana engkau menghormati mereka yang lebih tinggi. Engkau harus melakukan ini tanpa diskriminasi dan tanpa memperhatikan status mereka di dalam kehidupan.

Kewajiban apapun yang engkau lakukan kepada orang lain, engkau harus melakukan kewajiban tersebut dengan cinta, belas kasih, kebenaran, dan dengan hati yang terbuka. Jangan melakukannya dengan mementingkan dirimu sendiri atau keterikatan, dan jangan mengharapkan imbalan. Dimanapun engkau membantu seorang anak kecil atau orang dewasa, jangan mengharapkan bantuannya kembali. Tunjukkan mereka kasih sayang, dan ketika pekerjaanmu selesai, pergilah dengan bahagia.

Engkau jangan pernah memiliki pikiran, “Aku melakukan ini untukmu, jadi apa yang bisa engkau lakukan kepadaku sekarang?” Jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu. Jika engkau menolong seseorang dan mengharapkan imbalan, maka engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri yang melakukan perbuatan egois, dan setiap bantuan, kasih sayang, atau kebenaran yang engkau berikan akan berbalik menyakiti dirimu. Hal itu akan mengumpulkan keburukan kepadamu. Jika engkau memberi pertolongan dengan cara seperti itu, hal itu adalah jahat, tidak baik. Engkau selayaknya tidak pernah berada dalam keadaan seperti itu. Imbalanmu datang dari bantuan yang engkau berikan, bukan dari orang yang engkau bantu. Adalah tanggungjawabnya, bukan tanggungjawabmu, untuk mengingat bantuan yang telah ia dapatkan. Engkau selayaknya hanya menyelesaikan pekerjaanmu kemudian pergilah. Adalah salah jika mengharapkan imbalan.

Cucuku, engkau seharusnya jangan pernah marah. Kemarahan adalah pembimbing dari dosa. Kemarahan akan membimbingmu menuju jalan dosa dan membawamu langsung ke neraka. Kebencian akan memakan kebaikanmu, kebijaksanaan sejati. Ketidaksabaran adalah musuh dari kearifanmu. Semua kemegahan itu bukanlah emas. Jangan pernah berpikir seperti itu ketika engkau melihat kebenaran. Sebuah pot emas tidak membutuhkan dekorasi, sebagaimana juga sebuah hati yang penuh dengan kebenaran. Kebenaran tidak butuh penghias.

Jika engkau memiliki kearifan sejati, engkau tidak perlu menerapkannya pada setiap tindakan. Setiap perkataan yang engkau ucapkan akan penuh dengan keindahan, cinta dan belas kasih. Kata-kata tersebut akan terasa manis dan bermartabat di setiap perkataannya. Jika kearifanmu muncul dari kebenaran, maka kearifan itu akan menjadi indah. Tidak di perlukan hiasan lagi. Jadi tidak lagi berbicara dengan kata-kata yang engkau ambil di sini, di tempat lain, atau dari bacaan pada buku-buku. Perkataanmu akan muncul secara otomatis dari dalam hatimu dan mengungkapkan kebenaran. Cukup hanya berbicara kebenaran. Tidak perlu lagi membubuhinya dan membuatnya berkesan.

Cucuku, jangan mencuri. Jangan engkau berbohong kepada kedua orang tuamu karena takut kepada mereka. Katakan kebenaran kepada mereka dengan belas kasih. Katakan, “Aku berbuat kesalahan. Tolong maafkan aku atas apa yang aku lakukan.” Pertama bermohonlah kepada Tuhan untuk memaafkanmu, lalu bermohonlah kepada kedua orang tuamu untuk memaafkanmu. Selanjutnya, mohon maaflah kepada setiap orang yang telah engkau sakiti. Jika engkau menyadari kesalahanmu dan bertobat, dosamu akan dihapus. Tetapi jika engkau tidak menyadari kesalahanmu, jika engkau tidak memohon maaf, dosa itu akan tetap bersamamu.

Jangan mengatakan sesuatu untuk menyakiti orang lain, selalu berbicara dengan belas kasih. Pandanglah orang lain dengan cinta dan kasih sayang; jangan melihat mereka sebagaimana harimau melihat. Jangan memunculkan pertengkaran dengan orang lain; cobalah untuk hidup bersama mereka dengan penuh cinta, kasih sayang, kepercayaan dan kedamaian.

Jangan pernah menyimpan permusuhan dengan orang lain di dalam hatimu. Singkirkan permusuhan dan segala bentuk sifat jahat di dalam dirimu. Jangan berpegang kepada keraguan, keraguan adalah penyakit yang parah. Buang hal itu. Buang segala bentuk kecurigaan yang engkau miliki kepada orang lain. Mereka adalah saudaramu. Hiduplah tanpa prasangka. Hal itu akan membuatmu bahagia. Hal itu akan menjadi surga bagimu.

Jangan menyakiti, menyiksa, atau menyebabkan penderitaan kepada mahluk hidup apapun. Bahkan seekor kerbau yang menarik kereta harus di perlakukan dengan penuh kasih sayang. Jangan memberi beban melebihi batas yang bisa ia angkut. Kemudian, ketika engkau di beri beban yang begitu berat bagimu, bisakah engkau membawanya? Apakah sulit bagimu? Lalu pikirkan penderitaan yang engkau sebabkan pada kerbau ketika mengangkat beban melebihi kemampuannya. Cucuku, engkau harus mengetahui kapasitas setiap tubuh dan mengetahui kapasitas keadaan seseorang. Hanya dengan begitu engkau bisa memberikannya pekerjaan yang sesuai, memperlakukannya dengan hormat, dan melindunginya.

Ketahuilah sifat-sifat pada hati setiap orang lalu layani mereka. Tetapi pertama, cobalah untuk mengetahui hatimu. Hanya dengan begitu engkau baru akan mengerti hati orang lain. Jika engkau telah mengerti hal itu, maka perkataan apapun yang engkau katakan dan kewajiban apapun yang engkau lakukan akan menjadi sebuah tanggungjawab sejati, tanggungjawab Tuhan selamanya. Jika engkau berada dalam keadaan seperti itu, kasih sayang yang engkau berikan kepada setiap orang akan menjadi kasih sayang Tuhan yang sempurna. Di dalam setiap situasi, lakukan kewajibanmu dengan pemahaman ini.

Permata indah yang menyinari mataku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku, ketika engkau pergi ke sekolah, perhatikan apa yang engkau pelajari. Jangan perhatikan apa yang orang lain perbuat. Jangan menghabiskan waktu dengan melihat hal lain. Konsentrasi pada apa yang engkau lakukan saat ini. Hanya hal ini yang seharusnya engkau pikirkan sampai engkau menyelesaikannya. Jika engkau pergi melakukan solat, konsentrasilah pada solat. Jika engkau membaca buku, konsentrasilah pada buku itu. Jika engkau memiliki pekerjaan lainnya, fokus kepada pekerjaan itu. Konsentrasi secara penuh dengan kearifanmu. Niatkan untuk melakukan apapun dalam keadaan seperti ini, dan lakukan segala sesuatu atas nama Tuhan.

Cucuku, jangan dengarkan apa yang di katakan orang lain. Jangan mendengarkan untuk mencari tahu apakah mereka membicarakan tentang engkau atau diriku. Di dunia ini begitu banyak percakapan dan begitu banyak ketidakpedulian (1). Jangan memberi telingamu kepada suara dunia, suara dari ketidakpedulian. Berikan telingamu kepada suara Tuhan. Miliki cinta atas kewajiban yang harus engkau lakukan dan berikan telingamu kepada kewajiban itu.

Permata indah yang menyinari mataku, lakukan setiap kewajibanmu dengan cara yang baik, tanpa memperhatikan pada dunia yang berada di dalam dirimu (2). Di dalam hal ini, lakukan tindakan yang tidak terbatas yang engkau lakukan setiap harinya. Ketidakpedulian, ilusi, dan setan selalu memainkannya di dalam dirimu (3). Hilangkan permainan yang terjadi di dalam. Dan lupakan mengenai permainan yang terjadi di dunia luar (4).

Cintaku, cucuku. Setiap dari kamu sebaiknya memikirkan hal ini. Selalu menyingkirkan apa yang buruk, simpan apa yang baik, dan bertingkah laku menurut yang baik. Raihlah sifat-sifat, Tindakan, dan sikap Tuhan dan singkirkan semua sifat-sifat yang lain.

Cucuku, jika engkau tumbuh di dalam keadaan dari kebaikan, engkau akan menjadi anak-anak Tuhan (5). Engkau akan hidup sebagai anak yang baik di dalam hidup ini, dan engkau akan di butuhkan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tuhan akan menerimamu sebagai anak-anak dari keimanan dan kebenaran. Engkau akan menerima kebaikan-Nya, dan melalui kebaikan-Nya tersebut engkau akan memperoleh keuntungan selamanya.

Hiduplah sebagai anak yang baik kepada segala sesuatu dan sebagai anak yang baik kepada Tuhan. Bijaklah kepada hatimu dan bijaklah kepada kearifanmu.

Cintaku, cucuku. Pikirkan hal ini dan lakukan hidupmu di dalam cara ini. Amin. Semoga Tuhan membantumu.

M. R. Bawa Muhaiyaddeen

Come to the Secret Garden: Sufi Tales of Wisdom
Artikel diterjemahkan oleh Dimas Tandayu


*********

Tambahan sedikit dari saya:

1)Diterjemahkan dari kata “ignorance”. Saya mengartikannya dengan ketidakpedulian. Maksud dari ketidakpedulian disini adalah orang-orang yang tidak perduli terhadap kebenaran. Orang-orang seperti itu disebutkan didalam Al-Quran sebagai: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS 25:73)

2) Maksudnya adalah hati tidak boleh bergantung kepada hal-hal duniawi.

3) Setan membuat diri manusia agar selalu tertarik kepada ketidakpedulian dan ilusi dari kesenangan duniawi.

4) Adalah kesenangan-kesenangan yang ada di dunia yang jika tidak disikapi dengan bijak akan menjauhkan kita dari Tuhan.

5) “anak-anak Tuhan” bukanlah suatu bentuk fisik. Metafora ini di gunakan untuk mengambarkan “rasa” dari sebuah hubungan. Hubungan Tuhan dengan hambaNya bisa di gambarkan bagaikan hubungan ibu dengan anak-anaknya. Sebagaimana seorang ibu mencintai anak-anaknya, menyayanginya, merawat, membesarkan, mengajarkan arti hidup, dll. Tuhan pun melakukan hal yang sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar