Senin, 10 Agustus 2009

BENARKAH MEREKA ITU BERJIHAD?

Khutbah Jumat di Masjid al-Irsyad Surabaya 25-Nov-2005

Segala puji bagi Allah, kami menyanjung-Nya, meminta pertolongan, mengharap ampunan dan petunjuk kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri dan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim" [QS Ali Imron 102].

"Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama - Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" [QS An Nisa 1]

"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar" [QS Al Ahzab 70-71]

Amma ba du: Sesungguhnya sebenar-benarnya ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuknya Nabi. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah hal-hal baru (dalam agama), dan setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, disebutkan dalam shohih Bukhori, Muslim dan selainnya :
"Bahwasanya Nabi pernah suatu ketika membagikan harta rampasan kepada para sahabatnya, lalu tiba-tiba datang seseorang yang bernama Dzul khuwaisiroh At-Tamimi seraya mengatakan kepada Nabi:
"Berlaku adillah wahai Muhammad!". Mendengar ucapan itu, Rasulullah marah sambil berkata: "Celakalah engkau, jika aku tidak bisa berbuat adil maka siapa yang bisa berbuat adil ?". Sahabat Umar yang hadir pada saat itu berkata : "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk memenggal leher orang ini". Rasul pun menjawab : "Biarkanlah dia (Wahai Umar), karena dia memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian merasa sedikit sholat maupun puasanya dibanding dengan sholat dan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya".

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, inilah benih, inilah cikal bakal, inilah nenek moyang sebuah aliran sesat, sebuah kelompok sempalan yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, yang bernama Al-Khowarij. Mereka tidak pernah puas dengan pemimpin kaum muslimin, mereka selalu ingin memberontak kepada penguasa kaum muslimin, dan selalu menyebarkan aib-aib penguasa. Mereka menyeru rakyat untuk memberontak kepada penguasa dan mereka ini akan selalu muncul di setiap saat sampai akhir zaman nanti, sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi :
"Akan keluar sekelompok orang diakhir zaman nanti, mereka masih ingusan dan bodoh. Mereka membaca al-qur'an tapi keimanan mereka tidak sampai kepada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya. Dimana saja kalian bertemu mereka maka perangilah mereka, karena didalam memerangi mereka terdapat pahala bagi orang yang memerangi mereka di hari kiamat nanti". (HR.Bukhori)

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, kelompok ini selalu mengobarkan bendera jihad untuk memerangi kaum muslimin, kelompok yang menghalalkan darah kaum muslimin. Tidak ada bukti yang lebih nyata akan hal diatas ini melainkan kisah mereka ketika mereka ikut andil dalam pembunuhan seorang kholifah ar-rasyid Ustman bin Affan. Merekalah yang ikut andil dalam pengepungan terhadap rumah Utsman bin Affan. Setelah itu, mereka semakin merajalela dikala kekholifahan Ali bin Abi Tholib. Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Tholib dan para sahabatnya. Merekalah yang paling bertanggung jawab dalam pembunuhan terhadap Ali bin Abi Tholib .
Seseorang yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al-Himyari, dialah pelaku pembunuhan terhadap kholifah ar-rasyid Ali bin Abi Tholib . Pada waktu dia ingin membunuh Ali bin Abi Tholib yaitu ketika pedangnya disabetkan kepada Ali bin Abi Tholib dia sempat membaca ayat al-Qur'an.
"Tidak ada hukum kecuali hukum Allah" dan "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."
Membunuh Ali bin Abi Tholib dianggap oleh Abdurrahman bin Muljam sebagai bentuk jihad, sebagai bentuk perjuangan di jalan Allah. Subhanallah, demikianlah kesesatan kalau sudah masuk kedalam hati dan otak manusia, tidak tahu mana malam mana siang, mana kegelapan mana cahaya. Membunuh seorang kholifah ar-rosyid, membunuh seorang sahabat yang dijamin masuk surga dianggap sebagai bentuk jihad, sebagai bentuk perjuangan dalam Islam.

Oleh karena itu, kaum muslimin -rahimani wa rahimakumullah- marilah kita selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala, selalu menuntut ilmu agama ini dari sumbernya (al-Qur an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat Nabi ). Adapun slogan-slogan, semboyan-semboyan, dan seruan-seruan yang terkadang berlebelkan Islam jangan kita mudah terpengaruh. Janganlah kita tertipu, sampai kita menimbangnya diatas al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, para sahabat, para tabi in dan tabiut tabi in.

Ma asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, "Maa asbaha allaila bil baariha" alangkah miripnya kelompok-kelompok sekarang yang menghalalkan darah kaum muslimin, yang mereka melakukan teror dimana-mana, entah di Indonesia, di Saudi Arabia, di Yordania dan lain-lain dengan melakukan peledakan-peledakan, pengeboman-pengeboman dengan mengatas namakan Islam dan mereka anggap sebagai jihad. Apakah hal ini bisa dibenarkan?

Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh kaum muslimin, yang membunuh orang-orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin?
Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh wanita-wanita dan anak-anak kecil yang tidak berdosa?

Bagaimana membunuh orang mukmin bisa dikatakan jihad, sedangkan Allah berfirman:
"Barangsiapa yang membunuh orang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam dia kekal didalamnya sealama-lamanya dan Allah murka kepadanya, dan Allah melaknatnya dan Allah juga menyediakan baginya adzab yang pedih". (QS.An-Nisa : 93)
Bagaimana mungkin membunuh orang mukmin atau muslim dianggap sebagai jihad, sedangkan Nabi bersabda :
"Sungguh musnahnya dunia itu tidak seberapa dibandingkan dengan pembunuhan seorang muslim tanpa hak dan seandainya semua penduduk langit dan bumi bersatu dalam pembunuhan seorang mukmin saja, maka Allah akan memasukkan mereka semua kedalam neraka".

Bagaimana mungkin membunuh orang-orang kafir yang masuk kedalam negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dikatakan jihad, sedangkan Nabi bersabda :
"Barangsiapa yang membunuh seorang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin maka dia tidak akan mencium bau surga" (HR.Bukhori)

Bagaimana mungkin bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh perempuan-perempuan dan anak-anak kecil yang tidak berdosa, sedangkan Nabi selalu mewasiatkan kepada pasukannya pada waktu mereka berjihad dengan ucapan beliau:
"Berperanglah kalian di jalan Allah dengan menyebut nama Allah dan perangilah orang-orang yang mengkufuri Allah. Jangan kalian curang dan jangan menyincang serta jangan membunuh anak-anak kecil".

Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang memberontak kepada penguasa kaum muslimin, sedangkan Allah berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan para pemimpin kalian" (QS.An-Nisa : 59)

Ma asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, ittaqullah, bertakwalah kepada Allah, dan bertakwalah mereka yang telah terjerumus kedalam pemikiran khowarij yang menghalalkan darah kaum muslimin atau membunuh orang-orang yang tidak bersalah, yang selalu memberontak kepada penguasa kaum muslimin serta bertakwalah mereka yang mendukung, yang menyetujui orang-orang yang membuat teror terhadap kaum muslimin.

Ma asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, jihad adalah ibadah sebagaimana sholat, haji, zakat harus mengikuti dan mencontoh Sunnah Rasul . Oleh karena itulah Ali bin Abi Tholib mentafsirkan ayat dalam surat Al-Kahfi ayat 103-104 :
"Katakanlah wahai Muhammad apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya"
Ali bin Abi Tholib mengatakan itulah khowarij. Karena apa ? karena mereka melaksanakan suatu ibadah, mereka mengobarkan jihad tanpa ilmu, tanpa mengikuti sunnah Rasulullah , sehingga mereka berani mengkafirkan, mereka berani menghalalkan darah sahabat Nabi .

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, Islam tidak akan jaya selama kaum muslimin menyimpang dari ajaran agamanya. Umat Islam tidak akan pernah menjadi jaya selama mereka tidak mau kembali kepada ajaran Islam yang murni yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, yang diajarkan Nabi kepada para sahabatnya. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwasanya Nabi bersabda :
"Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian", yaitu kembali kepada aqidah yang murni, kembali kepada tauhid, kepada Sunnah Nabi, kepada metode sahabat Nabi dalam segala hal, dalam aqidah, ibadah, jihad, dalam berdakwah, dan dalam mendidik kaum muslimin.
Tapi jika kaum muslimin tidak mau kembali kepada hal tersebut, maka sekarang inilah kaum muslimin meresakan bagaimana kehinaan itu, bagaimana mereka diporak porandakan oleh orang-orang kuffar, bukan karena kekuatan mereka tapi karena kelemahan kita. Dan Allah tidak akan merubah keadaan kaum muslimin yang terhina ini sampai mereka mau merubah keadaan mereka sendiri. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah diri mereka sendiri".
Kaum muslilmin tidak akan terubah keadaannya sampai mereka mengubah aqidah mereka yang rusak, merubah aqidah mereka yang tercampur dengan kesyirikan, yang merupakan bentuk penyekutuan kepada Allah. Dan merubah diri dari berdoa kepada wali-wali yang telah mati kepada berdoa hanya kepada Allah saja. Merubah ibadah-ibadah mereka yang penuh dengan bid’ah kepada Sunnah Nabi. Dengan itulah, mereka akan menjadi mulia, mereka akan menjadi jaya, sebagaimana kejayaan yang telah diperoleh oleh para sahabat Nabi. Imam Malik pernah mengatakan :
"Tidak akan membaikkan umat ini kecuali dengan apa yang membaikkan umat terdahulu" yaitu para sahabat Nabi, yang selalu mengikuti Sunnah beliau dalam setiap hal.

Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta seluruh sahabat dan para pengikut beliau yang setia. Amma ba'du :
Saya wasiatkan kepada diri saya dan kaum muslimin semuanya untuk selalu bertakwa kepada Allah dengan mengikuti Sunnah Rasul, dengan selalu menuntut ilmu agama baik aqidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak. Karena memang tidak ada kebaikan bagi seorang muslim kecuali dengan dia tahu agamanya, dengan dia menuntut ilmu agamanya. Nabi pernah bersabda:
"Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya maka Allah akan pahamkan kepadanya agama" (Muttafaqun alaihi).

Tidak ada kebaikan kecuali bagi yang memahami agama ini dengan sebenar-benarnya, memahami agama ini sesuai dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafus sholih, pemahaman sahabat, tabiin dan tabiut tabiin.

Ma asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, pada khutbah kedua kali ini saya ingin mengingatkan kaum muslimin akan suatu hal yang sekarang sering diucapkan oleh sebagian kaum muslimin yaitu kata-kata atau istilah Asy-Syahid. Banyak di koran-koran atau di media masa dan yang lainnya kita jumpai seseorang menyatakan fulan (si B) itu syahid, (si C) itu syahid. Padahal kita tidak tahu apakah dia betul-betul berjuang di jalan Allah ? Apakah betul-betul dia telah menelusuri jejak Rasul ? Oleh karenanya, Imam Bukhari dalam shohihnya membuat suatu bab atau judul yaitu Laa yuqoolu fulanun Syahid "Tidak (boleh) dikatakan seseorang itu syahid" dan beliau berdalil dengan dua hadits, yang pertama yang artinya:
"Allahlah yang paling tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya"
kemudian hadits yang kedua kisah peperangan yang terjadi pada zaman Nabi. Nabi pada waktu itu berperang dengan orang-orang musyrikin, sebagian para sahabat mengatakan sungguh tidak ada yang lebih banyak jasanya dari pada si fulan. Kemudian Nabi mengatakan : “Dia dineraka”. Para sahabat pun terheran-heran, kenapa Nabi mengatakan hal seperti itu padahal kita melihat sendiri si fulan itu sangat berjasa, sangat berjuang di jalan Allah memerangi orang-orang musyrikin. Tidak tahunya orang tersebut ketika mau meninggal dunia membunuh dirinya sendiri.

Dari sinilah Imam Bukhari menyatakan tidak bolehnya mengatakan fulan syahid, si A atau si B itu mati syahid, karena permasalahannya ada ditangan Allah. Tidak ada yang mengetahui syahid atau tidak kecuali Allah. Kemudian hal ini dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul bari, beliau mengatakan ketika mengomentari judul bab "laa yuqolu fulanun syahid" "Tidak boleh dikatakan fulan itu syahid" : "Alal qot i fi dzalik" yaitu memastikan orang itu syahid "Illa inkana bil wahyi" kecuali kalau ada wahyu (bahwa si B atau si C syahid). Kemudian Ibnu Hajar Al-Asqolani membawakan ucapan Umar bin Khottob. Umar dalam khutbahnya pernah mengatakan : "Kalian mengatakan dalam peperangan kalian, fulan (si B) itu syahid dan fulan (si C) itu meninggal dalam keadaan syahid, Janganlah kalian mengatakan seperti itu, akan tetapi ucapkanlah (secara global) seperti yang dikatakan oleh Rasulullah : "Barangsiapa yang mati di jalan Allah atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid"

Oleh karena itu ikhwani fillah, maasyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, jangan kita mudah mengatakan fulan syahid, orang itu syahid, orang itu termasuk syuhada atau orang itu telah bertemu dengan Allah disyurga-Nya, dan telah bertemu dengan bidadari.

Oleh karena itulah, aqidah Ahlus sunnah wal jamaah sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Ath-Thohawiyah dalam aqidah thohawiyyah beliau mengatakan : "Kita hanya bisa berharap bagi orang-orang yang berbuat baik dari kalangan orang-orang yang beriman agar Allah mengampuni dosa-dosanya dan agar Allah memasukkannya kedalam surga dengan rahmat-Nya. Tapi kita tidak bisa menjamin dan kita tidak bisa mengatakan dia itu di surga".

Inilah aqidah Ahlus sunnah wal jamaah, tidak boleh memastikan dia mati syahid, dia masuk surga atau masuk neraka. Kita hanya bisa berharap semoga yang berjuang di jalan Allah dia bisa masuk surga dan kita mengharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Sekali lagi, kembalilah kepada Ahlu sunnah wal jamaah, kepada pemahaman salafus sholih agar kita tidak tersesat dan tidak tergelincir dimana-mana. Dan janganlah kita tertipu dengan slogan-slogan yang ada, jihad fisabilillah atau sekarang banyak istilah film-film Islami, musik Islami, semua ditempelkan kepada Islam. Dan juga sekolah Islami yang terkadang banyak menghancurkan Islam dari dalam tanpa mereka sadari. Lihat hakekatnya, lihat apakah sesuai dengan Sunnah, sesuai dengan metode para salafus sholeh atau tidak!

Ma asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-"Assunnah safinatun najah" Sunnah Nabi (dan metode para sahabat) adalah jalan keselamatan, barangsiapa yang menyimpang darinya maka dia akan binasa.

(Ditulis Oleh: Ustadz Abu Abdirrahman bin Thayyib, Lc)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar