Selasa, 11 Agustus 2009

BISIKAN SETAN DAN TERAPI MEMERANGINYA MENURUT IMAM AL GHAZALI

oleh : Imam Al-Ghazali

Kajian ini seputar bisikan Setan dan macam-macamnya,serta bagaimana memerangi, mengusir dan merejamnya untuk menolak segala kejahatannya.

Pertama-tama, memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan Setan dan godaan Setan, kemudian memerangi mereka dengan tiga cara:
- Pertama, Anda harus mengetahui godaan, rekayasa dan pengkhianatan Setan.
- Kedua, harus takut dengan ajakannya, sehingga hati Anda tidak bergantung dengan ajakan itu.
- Ketiga, harus melanggengkan dzikir Allah dalam hati dan lisan Anda. Sebab dzikir Allah dalam lambung Setan itu seperti makanan dalam lambung manusia (sehingga tidak ada lagi tempat untuk menggodanya).

Untuk mengetahui rekayasa godaan Setan, akan tampak pada bisikan dan macam-macamnya yang Anda kenal dalam hati Anda.

Bisikan yang mempunyai pengaruh bicara dalam kalbu hamba, membangkitkan perbuatan atau meninggalkan perbuatan. Semuanya datang dari Allah Swt., karena Dia-lah Pencipta segalanya. Dalam kaitan ini, bisikan ada empat macam:
1. Suatu bisikan yang datang dari Allah Swt. dalam kalbu hamba, sebagai bisikan awal, sehingga disebut dengan al-khatir (bisikan).
2. Bisikan yang relevan dengan watak naluri manusia, yang disebut an-nafs (nafsu).
3. Bisikan-bisikan yang datang dari ajakan Setan yang disebut was-was.
4. Bisikan yang juga datang dari Allah yang disebut ilham (inspirasi).

Al-Khatir, adalah bisikan yang datang dari Allah Swt. sebagai bisikan awal, terkadang berdimensi kebaikan dan kemuliaan serta penetapan terhadap argumentasi. Kadang-kadang bersifat buruk, yang berfungsi sebagai ujian.

Al-Khatir yang datang dari pemberi ilham tidak akan terjadi, kecuali mengandung kebajikan. Karena Dia adalah Maha Memberi nasehat dan petunjuk. Sedangkan al-Khatir yang datang dari Setan, tidak datang kecuali dengan kejahatan. Bisikan ini terkadang sepintas mengandung kebajikan,tetapi di balik itu ada makar dan pemanjaan dari Setan.

Sementara bisikan yang tumbuh dari hawa nafsu tidak bisa luput dari kejahatannya. Sepintas juga tampak baik, tidak dari segi substansinya.

Ada tiga persoalan yang harus Anda ketahui di sini
Pertama, beberapa ulama mengatakan: "Jika Anda ingin mengenal perbedaan bisikan baik dan jahat, maka perlu diperhatikan tiga masalah di bawah ini:
• Apabila bisikan itu relevan dengan Syariah, berarti baik. Jika sebaliknya, baik karena rukhsah atau syubhat, maka tergolong bisikan jahat.

• Manakala tidak diperoleh kejelasan perbedaan masing-masing, sebaiknya Anda berpaling saja, dan mengikuti perilaku orang-orang yang saleh. Jika Anda temukan kebaikan bimbingan mereka, maka ikutilah, jika tidak ada kebaikan, berarti hanya suatu keburukan.

• Apabila dengan pertimbangan demikian Anda masih belum menemukan kejelasan, selanjutnya Anda harus berpaling dari hawa dan nafsu. Di sana akan Anda temui, naluri yang menjauhi hawa nafsu, bukan rasa takut terhadap nafsu ,maka itu lah kebaikan. Sebaliknya jika yang terjadi adalah kecondongan harapan kepada Allah Swt. itulah kejahatan.


Kedua, apabila Anda ingin membedakan antara bisikan kejahatan yang bermula dari arah Setan, atau dari arah nafsu, ataukah bisikan itu dari Allah Swt., perlu Anda perhatikan tiga hal berikut:
• Jika Anda menemui bisikan yang kokoh dan tertib yang konsisten pada satu hal, maka bisikan itu datang dari Allah Swt., atau dari hawa nafsu. Namun jika bisikan itu menciptakan keraguan dan mendesak-desak, maka itu muncul dari Setan.
• Apabila bisikan itu Anda jumpai setelah Anda melakukan dosa, berarti itu datang dari Allah sebagai siksa-Nya kepada Anda. Jika bukan muncul dari akibat dosa, bisikan itu datang dari diri Anda, yang berarti dari Setan.
• Jika Anda temui bisikan itu tidak melemahkan atau tidak mengecilkan untuk zikir kepada Allah Swt., tetapi bisikan itu tidak sirna, berarti dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemahkan zikir seperti dari Setan.

Ketiga, apabila Anda ingin membedakan apakah bisikan kebaikan itu datang dari Allah Swt. atau dari malaikat, maka perlu diperhatikan tiga hal pula:
• Manakala melintas selintas saja, maka datang dari Allah Swt. Namun jika berulang-ulang, berarti dari malaikat, karena kedudukannya sebagai penasehat manusia.
• Manakala munculnya bisikan itu setelah kontemplasi ijtihad dan taat kepada Allah yang Anda lakukan, berarti datang dari Allah Swt. Jika bukan demikian, maka datang dari malaikat.
• Apabila bisikan itu berkenaan dengan masalah dasar dan amal batin, bisikan itu datang dari Allah Swt. Tetapi jika berkaitan dengan masalah furu' dan amal-amal lahiriah, berarti dari malaikat. Sebab, menurut mayoritas ahli tasawwuf, malaikat tidak mempunyai metode untuk mengenal batin hamba Allah.
• Sementara itu, terhadap bisikan kebaikan yang datang dari Setan, sebagai istidraj menuju amal kejahatan yang penuh dengan keraguan, maka Anda perlu memperhatikan dengan cermat: Lihatlah, apabila dalam diri Anda, ada bisikan dari Setan, dengan tanda-tandanya:
• Jika suatu perbuatan yang muncul dari Anda dengan penuh semangat yang membara, bukan dengan rasa takut kepada Allah Swt;
• Disertai emosi yang tergesa-gesa, bukan dengan cara yang pelan-pelan;
• Disertai rasa aman-aman saja, bukan disertai rasa khawf kepada. Allah Swt.;
• Disertai perasaan membabi buta terhadap akibat perbuatan, bukan disertai matahati (basirah).
Bisikan seperti itu, harus Anda jauhi. Sebaliknya jika bisikan itu muncul bukan seperti bisikan-bisikan di atas, berarti datang dari Allah Swt., atau dari malaikat. Saya katakan, bahwa semangat yang membara merupakan tirai bagi manusia ketika berbuat, bahkan dilakukan tanpa melihat dengan matahatinya. Dengan mengingat adanya balasan pahala, biasanya semangat seperti itu muncul (mengingat pahala adalah tirai).

Sedangkan cara pelan-pelan dan hati-hati adalah cara-cara yang terpuji. Tetapi tidak semuanya yang pelan-pelan itu terpuji, terutama dalam kondisi-kondisi tertentu.
Khawf, lebih condong pada situasi yag menuju penyempurnaan amal tersebut sesuai kebenarannya, sehingga amal tersebut diterima oleh Allah Swt.

Sementara, akibat perbuatan yang bisa dilihat dengan matahati akan disertai suatu keyakinan dalam diri Anda secara jelas, bahwa bisikan tersebut adalah petunjuk dan kebaikan. Terkadang pandangan hati bisa melihat pahala di Akhirat kelak.

Ketiga kategori di atas harus Anda ketahui dan sekaligus Anda jaga. Sebab, semuanya mengandung pengetahuan yang lembut dan rahasia yang mulia. Wa bi Allah at-Tawfiq, wa Huwa Wali al-Hidayah.


Sumber : Dikutip dari Buku, Mi'raj as-Salikin, Imam Al Ghazali


Lebak Bulus, 11 Agustus 2009 jam 22.00

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar