Rabu, 19 Agustus 2009

Cintailah Allah dan Berusahalah untuk Menggapai CintaNya

Mahabatullah (cinta kepada Allah) akan timbul manakala seorang hamba merasa begitu dekat dengan Allah, Perasaan ini akan tertanam dan tumbuh bila kita selalu taqarrub kepada Allah dengan ma’rifat yang kuat. Kita tahu dan sadar betapa Maha Kuat dan Perkasa-Nya Allah, namun betapa kasih dan sayang Dia kepada hamba-Nya. Ridla dan cinta-Nya senantiasa Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, selalu taqarrub kepada-Nya.

Allah pun cemburu ketika cinta-Nya dikhianati, yakni ketika seorang hamba lebih mengutamakan cinta kepada selain-Nya. Atau ketika hamba durhaka dan maksiat kepada-Nya. Bila kecemburuan Allah tak pernah kita hiraukan, maka akan berubah menjadi kemurkaan-Nya. Tak seorangpun yang akan sanggup menahan atau menghadapi kemurkaan Allah, Naudzubillahi min dzalik.

Kecintaan kepada Allah tidak akan ada ketulusan dan kemurnian kecuali dengan tauhid yang benar, menjadikan Allah sebagai loyalitas tertinggi dan otoritas mutlak dalam segala hal. Hal ini dilandasi dengan keyakinan kalimat thoyyibah : Laa Maalika illallah, Laa Rozaqa illallah, Laa Waliyya illallah, Laa Hakima illallah, Laa ilaaha illallah, Laa Ma’buda illallah, Laa Makshuda illallah, Lam Yakhsyaa illallah. dst.

Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan melahirkan cinta prioritas yakni menjadikan Allah, Rasul dan Jihad diatas segala cinta selainnya. Ketaatannya kepada Rasul dan Jihad fii sabiilillah dirasakan nikmat dan tenteram karena ketinggiannya cinta pada Allah. Sungguh tidak bisa dipisah antara cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah. Ketiga kecintaan tersebut merupakan satu paket yang tidak bisa dibagi-bagi.

Kecintaan kepada Allah sudah pasti harus dibuktikan dengan mencintai kalamullah atau ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (tertulis), maupun yang Kauniyah (tidak tertulis). Maka tadarus, tadzabur dan amaliyah Al-Qur’an menjadi hal yang utama. Selanjutnya ia mencintai Rasul-Nya dan Jihad fii sabiilillah.

Seorang hamba yang sangat cinta kepada Allah, ia ridla untuk berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah, shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Tawakkal dan rasa kebersamaan dengan Allah senantiasa menyertai perjalanan hidupnya. Ini semua terjadi karena cinta telah melahirkan kedamaian dan ketenteraman, cinta telah membuahkan kerelaan dan kepasrahan totalitas, cinta mendorong diri pada kesiapan berkorban. Dengan cinta lah semua cobaan jadi terasa ringan, segala beban berat menjadi nampak kecil. Namun dengan cinta pula rasa takut dan khawatir ditinggalkan yang dicintai mengharu biru perasaan. Karena itu, berjihadlah dengan cinta yang penuh kepada Allah, dan sambutlah kehadiran sang kekasih sejati di taman hati, serta penuhilah titahnya untuk mentaati Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Loyalitas Kecintaan Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan diantara manusia, ada yang menjadikan dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah : 165)

Berdasarkan ayat ini, sungguh sangat berbeda antara puncak kecintaan orang-orang beriman dan orang – orang yang kafir. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 24.

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Firman Allah ini menjelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang fasik. Allah mengambarkan orang-orang beriman puncak kecintaannya kepada 3 sasaran, yakni kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Sedangkan orang-orang yang fasik, puncak kecintaannya kepada 8 sasaran, yakni; Bapak, anak, saudara, istri, kerabat, harta berlimpah, perniagaan (maisyah), dan tempat tinggal yang disenangi. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik

Dalam mewujudkan ketulusan cinta, tidak selamanya berjalan mulus. Banyak halangan dan rintangan, rayuan dan godaan, cacian dan makian, bahkan ancaman dan intimidasi datang silih berganti. Hanya orang-orang yang ikhlas, yang dapat menikmati ketulusan cinta kepada Allah.

Kecintaan dan keta’atan kepada Allah harus juga dibuktikan dengan ta’at kepada Rasul-Nya, dan ta’at kepada Ulil Amri selama haq (benar), kemudian tanpa ragu-ragu ia beriman dan berjihad di jalan-Nya.
(QS. An-Nisaa: 59, An-Nuur: 51, Al-Hujuraat: 15)

Cinta, Terimakasih dan Ma’af

Buah dari cinta kepada Allah dapat melahirkan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Hal itu terjadi karena Islam tidak memisahkan hablu minallah dengan hablu minanas, tidak memisahkan antara aqidah (iman) dengan ukhuwwah (persaudaraan). Oleh karena itu, merawat cinta itu menjadi hal yang penting. Cinta kepada Allah dirawat dengan memprioritaskan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat-Nya serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan.

Demikian pula hubungan harmonis sesama muslim dapat dirawat denan cinta yang tulus, terima kasih dan ma’af.

Cinta, terima kasih dan maaf. Tiga kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikan dan meremehkannya. Padahal ketiga kata itu mampu membangkitkan rasa ‘penghargaan’ dan jati diri. Karena cinta, kita merasa disayangi, kita merasa hidup, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai dan dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Ridla berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah. Shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.

Begitupun juga dengan terima kasih, ada rasa penghargaan dalam ucapan itu, ada rasa penghormatan dan kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dan kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dan kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dan merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan. Islam mengajarkan, cara kita mengungkapkan terima kasih dengan ucapan: Jazaakallahu khairan (Semoga Allah membalas kebaikanmu).

Adapun maaf adalah bukti kesadaran seseorang, penenang jiwa dan aplikasi dari sikap rendah hati dan cinta kepada Allah. Tidak ada dengki dan dendam dalam ungkapan mohon maaf. Kata maaf dapat menghapus kebencian, dapat menanamkan kecintaan, dapat menghilangkan kegelisahan. Rasa bersalah dapat lenyap dengan ungkapan maaf, rasa iri dapat terkikis dengan maaf yang tulus. Kata maaf merapatkan ukhuwwah (persaudaraan), kata maaf menumbuhkan marhamah (kasih sayang).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah sosok paling ideal dalam mewujudkan cinta, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dan memaafkan. Beliau sangat mencintai keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya. Kecintaannya pada sahabat mendorong pengorbanan luar biasa di Perang Uhud, Hunain dll. Ungkapan terima kasih dan kata maaf beliau ungkapkan, kepada budak sekalipun, tidak ada gengsi dan merasa hina untuk mengungkapkan kata-kata mulia tersebut. Bila perlu Rasulullah melakukan tebusan untuk mendapat kata maaf.

Saat Futuh Mekkah terjadi, ketika sahabat berkata ” Ini hari pembalasan”, Rasulullah bersabda; Bukan, “Ini hari kasih sayang”. Maka beliau pun tidak menolak keislaman Wahsyi dan Hindun yang telah membunuh dan merobek dada Hamzah, pamannya. Sekiranya beliau pendendam, tentu tidak akan mau menerima keislaman Wahsyi dan Hindun.

Demikian pula di akhir hayatnya, beliau Shalallahu Alaihi Wasallam meminta maaf dan minta dibalas jika ada diantara yang hadir pernah disakitinya. Maka berkatalah seorang sahabat bernama Ukasah: Ya, Rasulullah, dalam suatu peperangan, aku pernah terkena pukulan olehmu, maka kini izinkan aku untuk membalasnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mempersilahkannya, Ukasah berkata ; Ya Rasulullah, waktu itu aku dalam keadaan telanjang. Maka Rasul pun membuka bajunya. Namun, begitu dimuka baju Rasulullah, Ukasah merangkul tubuh beliau dan menuturkan : Ya Rasulullah, aku mencintaimu, Maka Rasulullah bersabda : “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Rasa haru biru dan linangan air mata Rasul dan para sahabat saat itu menjadi saksi dan bukti saling mencintai karena Allah. (sumber: Sirah Nabawiyah, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam)

Sudahkah hari ini kita ungkapkan kata cinta, terima kasih dan maaf pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, adik kita, kakak kita, nenek kita, kakek kita, suami kita, isteri kita, sahabat kita, teman-teman kita, dan bahkan kepada para karyawan dan pembantu kita. Banyak cara untuk mengungkapan cinta, terima kasih dan maaf, antara lain: kejujuran pengakuan, perhatian, hadiah, senyuman dan do’a. Sudahkah kata cinta, terima kasih dan mohon maaf terucap dari lisan kita yang tulus pada orang-orang di sekitar kita?

Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta, terima kasih dan mohon maaf atau ampun, kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah, Ridla kepada-Nya dan diridlai oleh-Nya. Amiin.

Wallahu a’lam bish showwaab

Sumber: Klik di Sini
Judul Sumber: Mahabbatullah dan Aplikasinya
Diposkan oleh: indra_sl@physics.its.ac.id at 25/1/2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar