Selasa, 11 Agustus 2009

Manusia Di Titik Nol

Seorang pria yang sukses, memiliki beberapa perusahaan, rumah mewah beserta mobil-mobil mewah, tiba-tiba merasa jenuh dalam hidupnya. Ia jenuh dikelilingi para penjilat, oknum-oknum serakah, pesaing bisnis yang menghalalkan segala cara. Ia sangat jenuh dengan kehidupannya, meski banyak orang yang justru ingin hidup seperti dia.

Suatu hari saat kejenuhannya tak tertahankan lagi, ia mengumpulkan anak-anak dan istrinya dalam satu ruangan, lalu berkata,
"Istriku, juga anak-anakku, sebenarnya telah lama aku memendam ini. Aku sungguh sangat jenuh dengan kehidupan kita. Aku sangat tidak bahagia, hidup bergelimang harta tapi jiwaku hampa, kosong. Karena itu aku berniat meninggalkan segala kemewahan ini. Siapa di antara kalian yang ingin mengikutiku? Jika salah satu dari kalian ada yang tak ingin mengikutiku, maka akan kuserahkan semua yang kumiliki ini. Bagaimana?"

Sang istri dan anak-anaknya saling memandang. Lalu sang istri berkata,
"Suamiku, sebenarnya telah lama juga aku sudah tidak tahan hidup seperti ini. Masing-masing sibuk sendiri, tak pernah berkumpul dalam ruang yang sama seperti saat ini, meski hanya sekedar sarapan. Jika kau ingin meninggalkan kehidupan mewah ini, aku akan ikut denganmu. Aku ingin ada kebersamaan lagi di antara kita. Sedangkan anak-anak, biarlah mereka memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan. Mereka sudah cukup dewasa."

Kedua putranya saling berpandangan.
"Aku ikut ayah", kata si sulung.
"Aku juga", kata si bungsu.

"Alhamdulillah...ayah telah membeli tanah jauh di pedesaan, sangat dekat dengan sumber air. Kita bangun rumah yang sederhana, kita akan berkebun, menanam padi, kita juga akan beternak, membuat tambak. Hasil-hasilnya bisa kita jual sebagian untuk membeli bahan makanan."

Beberapa hari kemudian, sang ayah mengumumkan pengunduran dirinya dari pimpinan perusahaan-perusahaannya, dan menjualnya kepada siapapun yang mau. Ia jual semua harta bendanya. Uang hasil penjualan ia sumbangkan semua kecuali sedikit ia sisakan untuk modal kebun, ternak dan tambaknya. Lalu mereka pun pindah tak membawa apapun kecuali beberapa lembar pakaian. Tak seorangpun yang tahu kemana mereka pindah.

Hingga suatu hari, ada sebuah desa yang terkenal akan swadaya masyarakatnya. Mereka memiliki pembangkit listrik tenaga air dengan alat yang sangat sederhana. Masyarakatnya bergotong-royong berkebun, berternak, menanam padi, juga memelihara tambak. Masyarakatnya menunjuk seorang lelaki sebagai pemilik tanah di kampung itu. Saat ditanya bagaimana kampung ini terbentuk, ia menjawab,
"Dulu hanya saya, istri dan anak-anak saya yang hidup di sini. Hingga pada suatu hari datanglah sebuah keluarga yang sudah jenuh dengan kehidupan kota yang penuh dengan kemunafikan. Ia khawatir dengan pengaruh buruk lingkungan terhadap anak-anaknya. Lalu kami terima mereka, bersama-sama kami bangun rumah untuk mereka. Kami ajari mereka cara hidup disini. Bersama-sama kami membangun masjid untuk tempat kami beribadah berjamaah dan tempat kami mengajarkan kemulyaan Allah dan akhlaqul karimah kepada anak-anak kami. Hingga mulai berdatanganlah keluarga-keluarga yang memiliki kejenuhan yang sama terhadap kehidupan kota. Maka seperti inilah kami semua sekarang. Disinilah agama ditegakkan, kemasyarakatan dan keadilan dipancangkan. Dan hanya disinilah kami semua merasa tenang, damai, aman dari pesona dunia, tapi merasakan hangatnya pelukan Allah, rahmatNya, rezkiNya, anugrahNya, dan kesempatan yang Ia berikan hingga kami bisa hidup seperti ini."

Akankah manusia mencapai titik jenuh dengan kehidupan dunia hingga memutuskan kembali ke titik nol, menjauh dari gemerlapnya dunia, membangun keagungan Allah, menegakkan syariat, menjaga akidah...hidup dalam naunganNya, lindunganNya dan dalam kasih sayangNya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar