Sabtu, 01 Agustus 2009

Membongkar Ajaran Tasawuf : Ibadah yang Benar

Penulis: Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan
.: :.
MUKADDIMAH
Segala puji hanya bagi Allah semata Rabb seluruh alam, Yang telah menyempurnakan agama ini dan nikmat-Nya untuk kita, Yang telah meridhai Islam sebagai agama kita dan Yang memerintahkan kita untuk berpegang teguh kepadanya hingga kematian :
يَـأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ [آل عمران: 102]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” . (Ali-Imran: 102)

Dan itulah wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub-alaihimassalam- kepada anak-anaknya:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبَ يَـبَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ [البقرة: 132]
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan shahabat-shahabatnya semua.
Sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firmannya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ [الذاريات: 56]
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariat: 56)

Dengan ibadah, manusia akan meraih kemuliaan, kebesaran dan kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka membutuhkan Tuhannya. Manusia tidak da-pat melepaskan kebutuhannya terhadap Tuhannya walaupun sesaat, sedangkan Dia sama sekali tidak butuh kepada mereka (manusia) dan ibadahnya. Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ [الزمر: 7]
“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)-kalian” (Az-Zumar: 7)

وَقَالَ مُوسَـى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ جَمِيعاً فَإِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ [إبراهيم: 8]
“Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim: 8)

Ibadah merupakan hak Allah atas hamba-Nya dan manfaatnya akan kembali kepada mereka. Siapa yang menolak beribadah kepada Allah, dia adalah orang yang takabbur (sombong). Siapa yang beribadah kepada Allah dan (juga) beribadah kepada yang selain-Nya, dia adalah orang musyrik. Siapa yang beribadah kepada Allah semata tidak dengan apa yang Allah syariatkan, maka dia adalah pelaku bid’ah. Siapa yang beribadah kepada Allah semata dengan apa yang Allah syari’atkan, dia adalah mu’min sejati.

Ketika seorang hamba sangat membutuhkan ibadah dan tidak mungkin bagi mereka untuk mengetahui sendiri hakekatnya yang diridhoi Allah Ta’ala dan yang sesuai dengan agama ini, maka masalah ini tidak diserahkan begitu saja kepada mereka, karena itu Allah mengutus para rasul kepada hamba-hamba-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menjelaskan hakikat ibadah, sebagaimana firman-Nya :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّـغُوتَ [النحل: 36]
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “ Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut [1] itu“. (An-Nahl: 36)

وَمَـا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولِ إِلاَّ نُوْحِى إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ [الأنبياء: 25]
“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-Anbiya: 25)

Siapa yang menentang apa yang disampaikan para Rasul dan apa yang diturunkan dalam Kitab-Kitab-Nya tentang ibadah kepada Allah, kemudian dia beribadah kepada Allah semata-mata berlandaskan seleranya atau apa yang diingini hawa nafsunya atau apa yang dihias setan-setan manusia dan jin, maka dia telah sesat dari jalan Allah. Ibadah seperti itu pada hakekatnya bukan beribadah kepada Allah, akan tetapi beribadah kepada hawa nafsunya:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَـوَهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللهِ [القصص: 50 ]
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun”. (Al-Qhashash: 50)

Manusia jenis ini tergolong banyak, pelopornya adalah orang-orang Nashrani (Kristen) dan mereka yang sesat dari golongan umat ini seperti orang-orang tasawuf. Karena mereka telah menetapkan untuk mereka sendiri batasan ibadah yang bertentangan dengan apa yang Allah syari’atkan. Hal tersebut banyak mereka lakukan dalam penampilan-penam-pilan mereka. Kesesatan mereka akan semakin tampak manakala dijelaskan hakikat ibadah yang Allah syari’atkan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta penyimpangan dari hakikat ibadah yang dilakukan kalangan tasawuf saat ini.

Rambu-Rambu Ibadah yang Benar

Sesungguhnya ibadah yang Allah syariatkan dibangun di atas pondasi dan pokok yang kokoh dan baku. Dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ibadah bersifat tauqifi [2] dan harus bersumber dari musyarri’ (Yang berhak menetapkan syari’at) yaitu Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا [هود: 112]
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas”. (Hud: 112)

ثُمَّ جَعَلْنَـاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ اَّلذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَ[الجاثية: 18]
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa naf-su orang-orang yang tidak mengetahui “.(Al-Jatsiyah: 18)
Allah berfirman tentang nabi-Nya:
إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَـى إِلَيَّ
[الأحقاف: 9]
“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”.(Al Ahqaaf 9)

2. Ibadah harus dilakukan dalam keadaan ikhlas [3] karena Allah Ta’ala, suci dari pengaruh kesyirikan.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً [الكهف: 110]
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhnamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepadanya”. (Al-Kahfi: 110)

Jika ibadah tercampur dengan sesuatu kesyirikan, maka ibadah itu tidak akan bernilai. Firman Allah Ta’ala :
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: “Jika kamu memperse-kutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)

3. Dalam ibadah hendaknya yang dijadikan panutan dan sumbernya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
[الأحزاب: 21]
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”. (Al Ahzab 21)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
[الحشر: 7]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah”. (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

» مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ «[رواه مسلم]
“Siapa yang melaksanakan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (agama) kami maka dia tertolak” (Riwayat Muslim)
» مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ «[متفق عليه]
“Siapa yang mengada-ada dalam perkara (agama) kami yang bukan termasuk didalamnya maka dia tertolak”. (Muttafaq alaih)

» صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي «
[متفق عليه]
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (Muttafaq alaih)

» خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ «
[رواه مسلم]
“Ambillah kalian dariku manasik (haji) kalian” (riwayat Muslim)
Dan riwayat-riwayat lainnya.

4. Ibadah telah ditetapkan berdasarkan waktu dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Misalnya sholat. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَـوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتـباً مَوْقُوتاً

[النساء: 103]
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang beriman”. (An Nisa 103)

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَـتٌ
[البقرة: 197]
“(Masa mengerjakan) ibadah haji itu beberapa bulan yang telah diketahui”. (Al-Baqarah: 197)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ[البقرة: 185]
“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu”. (Al Baqarah 185)

5. Ibadah harus terlaksana berdasarkan cinta kepada Allah Ta’ala, merendahkan diri, takut dan harap kepada-Nya:
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهُ
[الإسراء: 57]
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (Al-Isra’: 57)

Allah berfirman tentang para nabi:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَـشِعِيْنَ
[الأنبياء: 90]
“Sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan sentiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta takut dan mereka sentiasa khusyu’ kepada kami“. (Al-Anbiya: 90)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهَ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ  قُلْ أَطِيْعُوا اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَإِنْ تَوَلَّوا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَـــفِرِيْنَ[آل عمران: 31-32]
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali-Imran: 31-32)

Allat Ta’ala telah menyebutkan tanda-tanda cinta kepada-Nya dan hasilnya. Adapun tanda-tandanya adalah mengikuti Rasulullah, ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasul-Nya. Sedangkan buahnya adalah mendapatkan cinta Allah Ta’ala, ampunan dosa dan dari rahmat dari-Nya.

6. Kewajiban ibadah tidak gugur bagi orang mukallaf (yang telah mendapatkan kewajiban), semenjak dia baligh dan berakal hingga kematiannya.

Allah Ta’ala berfirman :
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
[آل عمران: 102]
“Janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102)
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيـنُ
[الحجر: 99]
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal)”. ( Al-Hijr: 99).

Footnote :
1. Thagut adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Ta’ala
2. Maksudnya adalah bahwa ibadah sudah ditentukan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Akal fikiran tidak memiliki andil dalam penetapannya
3. Ikhlash berarti beribadah hanya untuk Allah dan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya, lawannya adalah syirik
(Dikutip dari tulisan Asy Syaikh Dr Sholeh Fauzan, judul asli حقيقة التصوف وموقف الصوفية
من أصول العبادة والدين, Edisi bahasa Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama. Diterbikan oleh Depag Saudi Arabia.

DIarsipkan di bawah: AGAMA, Firqoh, Sufi, Thoriqot & Tasawuf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar