Rabu, 05 Agustus 2009

MENCARI KEDAMAIAN DIRI

Seorang bijak bertanya kepada muridnya, “Pernahkah kau merasakan, sedetik saja, kedamaian dari segala yang telah kau pelajari dan kejar selama ini? Dari pendidikan yang tinggi? Dari pekerjaan yang banyak dimpikan orang? Dari kedudukan yang tiada lagi di atasnya? Dari uang yang kau tanamkan di pasar modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Dari ketenaran dan pujian ribuan dan jutaan manusia?

“Sudahkah kau rasakan kedamaian di dalam dirimu? Tiada lagi kehausan dan kelaparan akan makanan dan pujian? Tiada lagi setress, ketakutan dan kekhawatiran akan sakit, kemiskinan, dan kerugian? Tiada lagi iri, benci, dan sakit hati? Hanya ada kebahagiaan, kesetaraan, dan kedamaian?”

“Tidak,” jawab sang murid.

“Jika tidak kau dapatkan kesetaraan antara segala yang bertolak-belakang, apakah ini yang disebut pembelajaran?”

“Bukan.”

“Jika tidak kau dapatkan kedamaian, apakah ini yang disebut kebijakan?”

Sang guru kemudian melanjutkan. Selama ini kau mempelajari segala sesuatu yang ada di dunia ini dan kau menemukan ketakjuban. Kau yakini bahwa itu semua akan membawa kepada keberuntungan.

Namun, “buku” yang perlu kau pelajari sekarang bukanlah buku yang seperti itu. Pelajaran yang perlu kau mengerti tidak ditemukan di buku itu. Sambungan antara insan, manusia, dan Tuhan, sambungan antara kebenaran, insan, dan Tuhan, tidak memiliki sambungan dengan segala yang telah kau pelajari sebelumnya di buku-buku dunia itu. Ada sebuah buku yang lain, sebuah buku yang sangat berharga dan misterius. Buku inilah yang harus kau pelajari. Sebuah buku yang menghubungkan insan, Tuhan, kebenaran, dan kualitas-kualitas mereka. Buku ini adalah sejarah Tuhan, yang merupakan misteri. Misteri yang berada di dalam diri manusia sejati (insan kamil). Hati manusia sejati inilah buku itu. Di dalam buku ini, kau akan bisa melihat sejarahmu dan sejarah segala sesuatu, tanpa bentuk, sebagai cahaya.

Kau sekarang harus menjadi seorang bayi. Kau harus mengenyahkan segala sesuatu yang telah kau pelajari sebelumnya. Apa yang ada di dalam hatimu, dalam qolbmu, dalam badanmu, dalam pikiranmu, dalam niatmu, dalam pandanganmu, dalam nafasmu, dalam suaramu, dalam ucapanmu, dan dalam rasamu — apapun yang kau temukan dari semua itu dan kau pikir itu bagus dan lezat, mungkin itu jabatan, status, atau kebanggaan, dan apapun yang kau pikir akan mendatangkan kebahagiaan — semua ini harus dienyahkan. Ketika kau sudah berhasil membuangnya, kemudian kau siap untuk memulai mempelajari “buku” ini. Inilah “soul psychology”. Inilah pembelajaran di dalam dirimu. Untuk pelajaran ini, buku itu ada di dalam dirimu, peta itu ada di dalam dirimu, sejarah itu ada di dalam dirimu, dan segala sesuatu yang harus kau sadari ada di dalam dirimu. Inilah mukjizat yang sebenarnya. The true story.

Mukjizat sejati adalah ketika kau bisa melihat mukjizat yang ada di dalam dirimu sendiri ini. Memahami mukjizat melalui kesempurnaanmu, melalui cahayamu, melalui ilmu (wisdom)mu, dan melalui kualitas sejati dirimu ini lah yang disebut mukjizat dari Tuhan. Ketika hadir pemahaman dan pencerahan, itulah mukjizat. Ketika mukjizat ini terlihat, kau akan paham bahwa pancaran cahaya dari dalam dirimu itu lebih kuat dari pada cahaya ribuan bintang dan bulan.

Pelajaran ini hanya bisa dipahami melalui wisdom, melalui kualitas Tuhan. Ini sebuah rahasia, yang kau tak akan bisa lihat dari luar, namun dari dalam dirimu. Aku jelaskan beberapa hal kepadamu:

Bagi kebenaran, kesalahan adalah lawannya.
Bagi kebaikan, keburukan adalah lawannya.
Bagi niat baik, niat buruk adalah lawannya.
Bagi kesabaran, kemarahan adalah lawannya.
Bagi kasih sayang, egoisme adalah lawannya.
Bagi matahari, kegelapan dan awan adalah lawannya.
Bagi siang, malam adalah lawannya.
Udara adalah lawan dari air.
Air adalah lawan dari api.
Kebenaran adalah lawan dari ilusi.

Dengan cara inilah, Tuhan telah menciptakan begitu banyak hal yang berlawanan. Tuhan telah menciptakan kebaikan dan juga lawannya. Mengapa Dia ciptakan kebaikan dan kejahatan? Agar kita bisa menghilangkan kejahatan, melakukan yang baik, dan memelihara tanaman dari tanah. Racun ular bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Gajah adalah binatang yang liar yang kuat, tetapi jika kau bisa mengubah kualitasnya, kau akan bisa membuatnya bermanfaat.

Seperti inilah, selalu ada lawan bagi segala sesuatu, yang satu kotor dan yang satu bermanfaat. Tuhan telah menciptakan hal-hal yang berlawanan ini untuk memperlihatkan perbedaan dari dua hal yang berlawanan itu. Dan manusia memiliki kesempatan untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

Inilah salah satu poin dalam pelajaran psikologi, Psikologi Tuhan. Tuhan menciptakan lawan dari setiap ciptaanNya, dan Dia juga menciptakan obat bagi segala sesuatu. Dia mengobati ketidaktahuan (kafir) dengan ilmu (wisdom). Dia obati segala sesuatu yang diciptakanNya dengan kasih sayang dan cinta.

Dia tidak memiliki lawan. Karena Dia melakukan segalanya dengan cara yang benar, maka dia tidak memiliki perbedaan, tidak ada pemisahan, tidak ada satupun yang buruk. Karena Dia jadikan yang buruk menjadi baik.

Mengapa Dia ciptakan seperti ini? Tuhan berkata, “Aku telah pelihara dengan benar keseimbangan dari segala yang berlawanan itu. Sadari bahwa bagiKu tidak ada kesalahan dalam ciptaanKu. Aku menjaga segala sesuau dalam keseimbangan. Aku telah tunjukkan kepadamu apa yang baik dan buruk, dan kamu memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Kamu bisa mengubahnya menjadi kerajaan surga. Kerajaan neraka dan kerajaan surga keduanya ada di dalam dirimu. Jika kamu memahami kerajaan neraka dan kerajaan surga di dalam dirimu, maka kamu akan bisa mengubah kerajaan neraka menjadi kerajaan surga. Jika kamu ubah apa yang buruk di dalam dirimu, kamu akan menjadi baik.

“Di dalam kerajaanKu, Aku memandang segala sesuatu itu setara. Aku tidak membuang apapun. Aku ciptakan segalanya. Aku telah ciptakan pasangan-pasangan yang berlawanan: laki-laki dan wanita, cahaya dan kegelapan, kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan. Aku telah ciptakan ini semua untuk menunjukkan kepadamu. Di dalam kerajaanKu, Aku lakukan tugasKu tanpa melihat perbedaan. Kesetaraan ada di sana. Aku telah transformasikan (apa yang buruk) [menjadi baik].

“Seperti itu, jika kamu, dengan kesetaraan, membawa ke derajat kebaikan segala kualitas buruk yang ada di dalam dirimu, ribuan alam semesta yang di dirimu, dan keterikatan kepada keburukan dan perbedaan di dirimu, maka kamu akan menciptakan sebuah kerajaan surga di dalam dirimu. Itulah surga. Jika kamu membangun kerajaanku di dalam dirimu, itulah surga. Aku telah berikan kepadamu ilmu untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan, dan Aku juga telah berikan semua kualitasKu kepadamu. Aku telah berikan kepadamu semua tugas-tugasKu. Aku telah berkata padamu untuk melakukan apa yang Aku lakukan, mengetahui apa yang Aku ketahui, memahami apa yang Aku pahami, bertindak apa yang Aku tindak, dan mewujudkan apa yang Aku wujudkan.

“Aku tunjukkan padamu bahwa kamu mampu melakukan segala yang Aku lakukan. Aku telah wujudkan kedamaian di dalam diriKu, dan kamu pun bisa mewujudkan kedamaian di dalam dirimu. Aku telah wujudkan kesetaraan di dalam diriku, dan kamu pun bisa mewujudkan kesetaraan di dalam dirimu. Aku memahami semua kehidupan dan melakukan tugasKu kepada mereka, dan mereka memujuKu. Kamu, juga, harus memahami dan melakukan tugasmu kepada semua kehidupan, dan mereka juga akan memujimu.”

Tuhan telah menunjukkan itu semua. “Jika kamu bisa melakukan apa yang Aku lakukan, jika kamu bisa meraih derajat kedamaian yang telah Aku raih, maka itulah rumahmu — kedamaian, surga. Itulah singgasanaKu, kursi keadilanKu, dan kerajaanKu. Kamu ada di kerajaan neraka, tetapi kamu harus mengubahnya menjadi kerajaan surga.”

Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat dalam. Kita harus merenungkannya, kata Sang Bijak.

Sumber :“God’s Psychology” oleh M.R. Bawa Muhaiyaddeen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar