Jumat, 07 Agustus 2009

Pengalaman Ruhani Seorang Ustadz :"Ternyata Saya tidak Lebih Dulu ke Surga"

Pada suatu ketika, tiba-tiba Saya tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun saya tetap merasa sendiri dan ketakutan. Saya masih bertanya dan terus bertanya dalam hati, tempat apa ini?, dan buat apa semua manusia dikumpulkan di tempat ini ?. Mungkinkah, ah ... saya tidak mau mengira-ngira lebih jauh.

Rasa takut yang menggelutiku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Saya langsung menggigil, tubuh saya seketika terasa lemas, mata saya tegang mencari perlindungan dari seseorang yang mungkin telah saya kenal.

Saat itu kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Saya baru sadar, inilah hari penentuan,hari di mana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup di dunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Saya semakin takut.Rasa-rasanya belum pernah saya ketakutan seperti saat itu.debar di dalam dada semakin kencang. Mengingat amal-amal baik saya di dunia. Mungkinkah saya tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan ... Ah saya tidak melanjutkan pikiran saya.

Waktu itu saya dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang Menguasai Hari Pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di Surga yang indah. Lagi-lagi dada berdebar keras, ada keyakinan bahwa nama saya pastilah salah satunya yang termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang saya sedekahkan selama ini. Terlebih lagi, sewaktu di dunia saya dikenal sebagai juru dakwah atau orang biasa memanggilku dengan Ustadz atau Pak Ustadz. Dalam hati saya berguman"Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Saya masih beranggapan bahwa nama saya ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah- ibadah dan perbuatan-perbuatan baik yang telah saya lakukan selama di dunia. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah SWT melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad SAW masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat putri Rasulullah Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga Rasulullah SAW lainnya. Dibelakang mereka kulihat sahabat-sahabat utama Rasulullah waktu beliau masih hidup.

Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang saya tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Saya juga menyaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Nabi Muhammad SAW menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Saya terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya saya kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim dari Panti Asuhan sebelah rumahku yang tidak pernah saya perhatikan. Anak-anak itu selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara di rumahku sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

Subhanallah, itu mas Parmin tukang mie dekat kantorku," saya terperangah melihatnya melenggang ke surga. Mas Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kirimkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Mas Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie itu lebih baik di mata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." . Tiba-tiba aku merasa malu sekali saat itu. Kata-kata orang disebelahku menyindir saya, karena mas Parmin bekerja untuk kebahagiaan orang lain, sementara saya, semua keringat semata untuk keperluan diri sendiri saja.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku di balik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak kehadirannya."

Masya Allah ... murid-murid pengajian yang saya bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jama'ah masjid- masjid tempat biasa saya berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kamu, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara," jelasnya lagi.

Saya semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Saya mulai kesal, saya ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia saya banyak melakukan ibadah, saya banyak bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan saya ke surgaMu."

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi saya ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, di balik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, dan tidak berbekas untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jama'ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering saya anggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, saya sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, di mata ALLAH SWT saya tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga saya tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

Tiba-tiba Jam dinding berdentang tiga kali. Saya tersentak bangun dan, Astaghfirullah..., ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.

Terima kasih ya Allah, karena mimpi yang ENGKAU anugertahkan, pumpung masih ENGKAU beri kesempatan, saya bertekad untuk lebih tunduk dan patuh padaMU, lebih ikhlas dengan segala KetetapanMU dan lebih ikhlas dalam beramal serta lebih sering membersihkan hatiku yang ternyata kotor, takabur, sombong dan ujub atas amal-amalku.

Alhamdulillah ya ALLAH, Engkau ingatkan aku, meski lewat mimpi, sehingga masih cukup waktuku untuk bertobat, beristighfar, meminta maaf kepada orang-orang yang selama ini pernah saya sakiti dan dzalimi, beramal saleh, memenuhi seluruh perintah-perintah-MU dan menjauhi larangan-larangan yang telah ENGKAU tetapkan.

Ya Allah, saya ingin lebih dulu ke surga dari mereka.


*) Kisah ini boleh jadi hanya rekaan, karena memang tidak ada sumbernya yang jelas. Namun demikian semoga kisah ustadz ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amiin

Semoga Bermanfaat.

Lebak Bulus, 7 Agustus 2009, jam 22.00

Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar