Jumat, 24 Juli 2009

Banyak Jalan Menuju Neraka

Dalam Surat Al-Mudatsir ayat 42-47, Al-Qur’an bercerita tentang perbincangan di antara para penghuni surga dan neraka pada Hari Kiamat sbb :

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, 46. dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian."

Sebelumnya, pada ayat 38-41 Allah SWT berfirman :

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, Mereka saling menanya di surga, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,

Para ahli surga bertanya kepada para pendosa, “Mâ salakakum fî saqar? Apa yang membawamu ke Neraka Saqar?” Kata salaka sebenarnya berarti menempuh perjalanan. Orang yang menempuhnya disebut sâlik, sedangkan perjalannya disebut suluk.

Dalam Tasawuf, istilah suluk khusus diperuntukkan untuk orang yang menempuh perjalanan mendekati Allah SWT. Namun dalam ayat ini, Tuhan bercerita tentang suluk sebagai perjalanan yang membawa manusia kepada neraka. Jadi, terdapat dua macam suluk. Yang pertama, yang membawa kita ke surga. Contohnya terdapat dalam suatu hadits “Man salaka thâriqan yaltamisu fîhi ‘ilman, sahhalallâhu lahu thâriqan ilal jannah. Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan masuk ke surga.”

Adapun suluk yang kedua, ialah jalan yang menyebabkan kita masuk neraka.

“Suluk apa yang kamu jalankan sehingga kamu masuk neraka?” Demikian ditanyakan para ahli surga. Penghuni neraka menjawab, “Qâlû lam naku minal mushallîn. Dulu kami tidak termasuk pada golongan orang-orang yang shalat. Wa lam naku nuth’imul miskîn. Dan kami tidak memberi makan orang miskin. Wa kunnâ nakhûdhu ma’al khâidhîn. Dan kami menggunjing bersama para penggunjing” (QS. Al-Mudatsir 42-45)

Dari ayat-ayat itu kita ketahui bahwa jalan-jalan yang membawa kita ke neraka di antaranya adalah sebagai berikut;

1. Meninggalkan Shalat

Pada masa Nabi Musa as dikisahkan pada suatu senja terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidakdapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Iamelangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada !" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada berzina".

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Para ulama sepakat tentang kafirnya orang yang menentang kewajiban shalat. Namun, bagi yang meninggalkannya karena malas, terlebih lagi ia masih mengimani bahwa shalat itu amalan yang disyariatkan(wajib), ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, antara yang mengkafirkan dengan yang tidak mengkafirkan.

Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang teramat besar. Dosanya di sisi Allah SWT lebih besar daripada dosa zina, mencuri dan minum khamr.

Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah SWT dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah SWT baik di dunia maupun di akhiratnya. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim rahimahullahu, hal. 7)

Sebagian besar Ulama sepakat membedakan antara meninggalkan/melalaikan shalat dengan menjama’ shalat. Menjama’ shalat bukan termasuk kepada melalaikan shalat. Yang dimaksud dengan meninggalkan shalat adalah orang-orang yang tidak mau melakukan jama’ sehingga ia kehilangan shalatnya. Yang dimaksud dengan melalaikan shalat pun bukan orang yang mengqadha shalat, melainkan orang yang tidak mau mengqadha shalat sehingga ia tidak melaksanakan shalat sama sekali.

Saya akan kemukakan satu hadits yang berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat. Suatu hari, Fathimah as bertanya kepada Rasulullah saw, “Yâ Abâtah, apa yang akan didapatkan oleh orang yang melecehkan shalatnya, menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan?” Rasul bersabda, “Wahai Fatimah, barangsiapa yang melecehkan shalatnya menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan, Tuhan akan menyiksanya dengan lima belas perkara. Enam perkara di dunia, tiga pada saat ia mati, tiga lagi pada waktu ia berada di kuburnya, dan tiga perkara pada Hari Kiamat, ketika ia keluar dari kuburnya.”

Enam siksaan yang diberikan di dunia adalah;
1. Allah akan menghilangkan berkah dari usianya
2. Allah akan menghapuskan berkah dari rezekinya
3. Wibawa orang shaleh pun akan dihilangkan dari wajahnya
4. Amal yang dikerjakannya tidak akan memperoleh pahala
5. Doanya tidak akan naik sampai ke langit
6. Ia tidak akan memperoleh bagian dalam doa orang-orang shaleh.

Para shâlihin selalu mendoakan Kaum Muslimin dan Muslimat. Semua orang kebagian doa mereka kecuali orang-orang yang tidak shalat. Jadi, shalat itu seperti halnya kupon dalam pembagian Sembako. Walaupun setiap orang berhak atas Sembako itu, orang yang tidak punya kupon tidak akan mendapatkannya.

Adapun tiga perkara yang akan menimpa orang yang meninggalkan shalat pada waktu ia mati adalah:

1). Dia akan mati dalam keadaan sangat terhina

Kita baca dalam beberapa hadits bahwa bila kita mati, Tuhan akan menyelenggarakan semacam Upacara Penerimaan di Alam Malakut. Ribuan malaikat dikirim untuk acara itu. Untuk orang-orang yang tidak shalat, Tuhan akan mengirim malaikat-malaikat yang berwajah sangat menakutkan.

Selain itu, Allah akan mencabut nyawanya seperti orang yang menyisir bulu domba yang basah. Beda halnya dengan orang mukmin yang shalat, ruhnya akan diambil begitu mudahnya seperti keluarnya air dari dalam cerek.

Dalam Upacara Penyambutan kematian orang fasik, ruhnya akan disimpan dalam kain yang amat buruk. Ruh itu menyebarkan bau yang sangat tidak sedap sehingga seluruh arwah dan malaikat bertanya-tanya, “Ruh siapakah itu?” Malaikat yang membawanya akan menjawab, “Inilah ruh Fulan Ibnu Fulan.” Dan disebutkanlah gelaran-gelaran buruk yang diperoleh orang fasik itu di dunia. Misalnya, “Oh, inilah Fulan si Tukang Mengadu Domba.”

Tapi apabila dia adalah seorang mukmin yang shaleh, ruhnya akan diletakkan dalam sebuah kain yang diambil dari surga. Ruh itu akan menyebarkan harum yang semerbak. Para arwah dan malaikat pun bertanya, “Ruh siapakah ini?”. Dijawab, “Inilah ruh Fulan Ibnu Fulan.” Dan disebutkanlah semua gelaran-gelaran baik yang pernah ia dapatkan di dunia. “Oh, inilah Fulan. Orang yang baik, dermawan, dan sabar.”

2). Dia akan mati dalam keadaan lapar

Pada saat ia menghadapi ajal, dia akan merasakan kelaparan yang sangat luar biasa.

3). Dia akan mati dalam keadaan dahaga

Orang yang meninggalkan shalat, sekalipun ia diberi minum dari seluruh sungai yang mengalir di dunia ini, rasa hausnya tidak akan hilang pada saat ia meninggal.

Sedangkan tiga siksaan yang akan menimpa dia di alam kuburnya ialah:

i. Tuhan akan menempatkan malaikat yang kerjanya hanya akan mengganggu dia. Membuat dia takut dan mengguncangkan badannya di alam kubur.
ii. Kuburannya akan Tuhan sempitkan
iii. Tuhan pun akan menjadikan kuburannya gelap

Adapun tiga perkara yang akan menyiksanya pada Hari Kiamat adalah:
i. Orang yang melalaikan shalat akan diseret wajahnya oleh para malaikat. Pada Hari Kiamat nanti, semua makhluk akan melihatnya.
ii. Dia akan dihisab dengan hisaban yang berat
iii. Allah tidak akan memperhatikan dia pada Hari Kiamat. Tidak akan diampuni dosa-dosanya dan baginya azab yang pedih.

Nabi saw bersabda, “Tidak ada yang membedakan muslim dengan kafir itu kecuali orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja atau merendahkan dan melecehkan shalatnya.”


2. Tidak Memberikan Makanan kepada Orang-Orang Miskin

Jalan kedua untuk masuk neraka ialah dengan tidak membagikan makanan kepada fakir miskin. Islam menyebut orang yang tidak memberikan makanan kepada orang-orang miskin sebagai Pendusta Agama.

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama , itulah orang yang menghardik anak yatim , dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin ( Q.S.107 -Al Maa’uun 1-3)”,

Jadi apabila ada orang Islam rajin memberi makan kepada orang miskin tapi ia tidak shalat, maka ia akan masuk Neraka Saqar. Tapi bila ada orang Islam yang suka shalat tapi tidak pernah memberi makan orang miskin, dia pun akan masuk Neraka Saqar.

Lalu apa buktinya kalau orang yang suka shalat itu masuk Neraka justru karena shalatnya? Al-Qur’an menjawabnya dalam surat Al-Ma’un 4-6. “Celakalah orang-orang yang shalat. Yang lalai dalam shalatnya. Yaitu orang yang menjadikan shalat sebagai alat untuk memamerkan kesalehannya.” Shalat adalah alat paling efektif untuk memamerkan kesalehan dan menyembunyikan kesalahan.

Orang-orang yang bakhil mesti rajin shalatnya karena dia ingin menyembunyikan kebakhilannya itu. Menampakkan kesalehan dengan shalat ialah cara yang paling gampang, tidak perlu mengeluarkan uang.

Orang yang celaka shalatnya ialah orang yang riya shalatnya dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang dizhalimi. Dalam Al-Qur’an amal yang paling sering disebut adalah memberi makan orang miskin. Amalan membangun mesjid malah tidak ada dalam AL-Qur’an. Bahkan ada pembangunan mesjid yang dikecam dalam Al-Qur’an, yaitu pembangunan Mesjid Dhirar.

3. Menggunjing Bersama Para Penggunjing

“Wa kunna nakhûdhu ma’al khâidhîn.” Itulah jawaban ahli neraka selanjutnya ketika ditanya jalan apa yang telah mereka tempuh sampai ke Neraka Saqar. Kata nakhûdhu artinya berbicara atau mengobrol sedangkan kata ma’al khâidzîn artinya bersama orang-orang yang mengobrol. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa mengobrol dalam hal ini berarti mempergunjingkan orang lain, mengadu domba, mencemoohkan ayat-ayat Al-Qur’an -yang biasanya dilakukan oleh orang-orang munafik, menggunting dalam lipatan, menyakiti hati orang lain, atau menyebarkan desas-sesus.

Menikmati bacaan dan tontonan INFOTAINTMEN, mendengar gossip para selebritis dan memperbincangkannya adalah bagian dari jalan menuju Neraka. Semakin banyak otak dan pikiran anda diinfus dengan pergunjingan/infotainment/gossip murahan seperti yang sekarang marak di TV, jelas semakin mendekatkan anda kepada Neraka Saqar. Termasuk para Dosa yang meluruskan jalan kita ke Neraka Saqar ialah dengan melakukan obrolan-obrolan tentang perilaku dan keburukan orang lain.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kalau kita mendengar obrolan semacam itu. “Janganlah kamu duduk bersama mereka sampai obrolannya pindah kepada topik yang lain.” (QS. An-Nisâ 140)

Jika Anda melakukan itu, walaupun Anda shalat dan memberi makan orang miskin, Anda tetap akan masuk Neraka Saqar.

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa terdapat tiga tarekat atau suluk yang membawa kita ke neraka:

1) Meninggalkan shalat
2) Tidak memberi makan kepada orang miskin
3) Rajin menyebarkan desas desus, isu, dan mempergunjingkan orang lain.

Berdasar Argumentus a contrario (kebalikannya), bila anda ingin masuk Surga dan tidak masuk Neraka, maka :

1) Penuhi Perintah Shalat dan jangan pernah sekalipun anda meninggalkannya
2) Beri makanan kepada orang miskin, boleh secara langsung ataupun melalui lembaga tang amanah;
3) Tinggalkan ghibah (mempergunjingkan orang lain).dan jangan pernah menyebarkan berita yang tidak benar, desas desus dan isu dan sebagainya.

Al Qur’an menunjukan betapa banyak jalan menuju Surga dan banyak pula jalan menuju Neraka. Sekarang pilihan ada di tangan anda.

Wallahualam bissawab
Dikutip tanpa izin dari tulisan KH Jalaluddin Rakhmat dengan sedikit tambahan.

Lebak Bulus, 15 Juli 2009 jam 21.00

Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar