Sabtu, 25 Juli 2009

Makna Dibalik Kisah Habil & Qabil

Adam dan Hawa di surga masih vegetarian. Ketika turun ke bumi, keduanya mulai mengonsumsi daging. Pembagian kerja secara seksual pun terjadi. Adam bertugas sebagai pemburu, dan Hawa sebagai peramu. Pasangan ini melahirkan anak-anak yang berpasang-pasangan, termasuk Qabil dan Habil, dengan saudara kembar perempuan masing-masing. Qabil berprofesi sebagai petani, dan Habil peternak.

Suatu hari, Adam meminta anak-anaknya menyatakan tanda syukur dan terima kasih kepada Tuhan, dengan cara berzakat dan berqurban, yang diperuntukkan kepada makhluk Tuhan yang tidak pandai bercocok tanam dan beternak. Qabil tidak terlalu menyukai perbuatan itu, dan harta persembahannya dipilih yang kurang bermutu, dengan jumlah di bawah standar.

Sebaliknya, Habil sangat menyukainya, dan harta persembahannya dipilih yang paling bermutu, dengan jumlah yang cukup. Qabil mulai iri kepada adiknya, karena harta persembahannya semuanya habis, sementara harta persembahannya sendiri tidak habis, dan menjadi busuk. Qabil juga mulai menuduh ayahnya hanya mendoakan adiknya.

Ketika anak-anak Adam-Hawa beranjak dewasa, masalah lain mulai muncul. Qabil mestinya kawin dengan adik perempuan kembar Habil, dan Habil dengan kakak perempuan kembar Qabil. Qabil menolak hukum itu, karena calonnya tidak cantik, sementara calon Habil lebih cantik. Qabil hanya menginginkan calon Habil, yakni saudara kembarnya sendiri.

Iblis kembali menjalankan perannya dengan memompakan semangat power struggle kepada anak manusia. Pikiran busuk mulai merasuk ke dalam diri Qabil. Ia mulai menumpahkan darah di permukaan bumi, seperti pernah dibayangkan malaikat (Q.S. 2:30), dengan membunuh saudara kandungnya sendiri. Qabil menyesal luar biasa, tapi semua sudah terjadi.

Qabil adalah representasi kepribadian manusia yang gagal menjadi 'abid dan khalifah. Ia prototipe orang-orang yang didikte egonya sendiri, bahkan dirinya tidak lain hanyalah onggokan hawa nafsu. Ia merupakan simbol orang-orang yang tidak mau melihat orang lain bahagia, dan merasa senang jika orang lain tersungkur.

Qabil adalah contoh bagi mereka yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Nuraninya padam, sehingga tidak mampu melihat kebenaran sejati. Hatinya tumpul, sehingga tidak dapat merasakan jerit-tangis saudaranya. Dadanya sumpek dipadati dendam dan power struggle.

Habil representasi anak manusia yang utuh, sukses sebagai 'abid dan khalifah. Ia yang berhasil mencontoh sifat-sifat Tuhan sebagaimana tersebut di dalam asmaul husna, memiliki cinta kasih yang sejati. Dadanya lapang, sehingga mampu mengakomodasikan kelemahan orang lain. Dari mulutnya selalu mengalir butir-butir mutiara yang menyejukkan. Ia yang memiliki kalbu mutmainah, sehingga terbebas dari berbagai prasangka buruk. Habil selalu memancarkan vibrasi positif di jagat raya.

Jelmaan Qabil muncul di mana-mana. Ia ada di sela-sela barisan militan reformasi, sambil menggenggam botol minuman yang dijarah dari warung kecil di pinggir jalan. Ia ikut mengenakan jaket berwarna-warni di atas panggung kampanye, sambil menghujat mati-matian orang lain. Ia ada di sela-sela deretan kursi legislatif, sambil mengalkulasi isi-isi amplop yang diperolehnya bulan lalu. Ia ada di belakang meja eksekutif, mengatur distribusi kekuasaan kepada kroninya.

Qabil juga bisa berperan sebagai seorang berpakaian dinas di jalan raya dengan buku tilang yang terselip di sepatu lars kiri. Ia ada di antara pemegang kamera yang selalu sibuk merekam aib orang lain, lalu ikut bertepuk tangan setelah korbannya terkapar bagai ayam potong. Ia yang selalu puas membangun istana di atas puing kehancuran orang lain. Ia yang ikut check in di hari Jumat siang di bungalo di sudut kota bersama seorang "daun muda". Ia yang nomor rekeningnya ada di buku agenda para rekanan. Ia yang memelihara jenggot dan serban sambil menerima order fatwa menurut kehendak sponsor. Ia yang membakar semangat warga dengan mengacungkan logo LSM sambil menjinjing tas berisi arsip-arsip proposal yang ditujukan kepada berbagai founding agency.

Jelmaan Habil ada di mana-mana. Ia jarang diungkap. Ia yang semalaman begadang mengonsep redaksi perundang-undangan yang memihak rakyat kecil. Ia yang tidak pernah membawa pulang ke rumah Tipp-Ex di kantornya. Ia yang selalu membayangkan hadis Nabi "semua daging yang tumbuh dari makanan tidak halal, api nerakalah yang akan membersihkannya", "tidak bakal diterima salat dan doa badan yang mengenakan pakaian yang tidak halal", "rantai penyiksa di kuburan tidak akan lepas sampai utang yang bersangkutan dilunasi". Ia yang membalas air tuba dengan air susu. Ia yang tangan kanannya menyumbang tanpa diketahui tangan kirinya. Ia yang menganggap suara rakyat kecil sebagai suara Tuhan. Ia yang tidak takut kesepian karena mempertahankan prinsipnya. Ia yang menjadikan dirinya contoh terhadap yang diajarkannya.

Setiap orang mempunyai potensi untuk menjadi Qabil atau Habil. Manusia ideal ialah mereka yang sejak semula mengondisikan diri sebagai Habil. Sebaliknya, manusia tercela ialah mereka sejak semula menjadi Qabil dan tidak pernah berupaya mengubah diri mejadi Habil. Bangsa yang terhormat ialah bangsa yang dipadati oleh populasi Habil. Jika populasi Qabil yang makin berkembang, maka bangsa itu berada di ujung tanduk.

Dikutip tanpa izin dari tulisan Prof. Dr. Nasaruddin Umar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar