Jumat, 07 Agustus 2009

“APA HIKMAH DARI PUASA RAMADHAN?”

Hikmahnya Shaum Ramadhan adalah “Menahan diri dari yang halal”.
Untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka pada hari ini aku buka kembali catatanku, hasil ngaji di Masjid Al Azhar Jakapermai dengan Ustadz Sulaeman Zachawerus, masih melanjutkan bab Shaum Ramadhan, dengan judul “APA HIKMAH DARI PUASA RAMADHAN??” semoga bermanfaat.

Martabat insan atau kedudukan manusia itu dilihat dari sisi jiwanya, sudah bagus apa belum? Karena jiwa orang Indonesia sudah banyak yang rusak, contohnya : jadi koruptor tapi malah bangga! (masa seh…jadi koruptur kok bangga? Iya tuh…lihat aja mereka memamerkan hasil korupturnya, mobilnya dipamerkan, jam tangannya…..dlsb)

Jadi martabat insan bisa dilihat sesudah Ramadhan nanti, masuk golongan manakah kita ini ?

1. MUSLIM : adalah golongan orang-orang yang sudah meninggalkan kekafiran, contoh dulu tidak pakai jilbab, sekarang sudah mulai pakai jilbab (jilbab ini kan baru marak, baru memasyarakat beberapa tahun belakangan ini saja). Jadi kita sudah meninggalkan pembangkangan-pembangkangan terhadap Allah. Kalau kita belum pakai jilbab berarti kita masih membangkang terhadap peraturan dan perintah Allah.

2. TAUBAT : orang2 yang sudah meninggalkan kekafiran akan diangkat atau naik menjadi golongan orang yang bertaubat, jadi kedudukan orang yang bertaubat adalah orang yang bisa meninggalkan maksiat. Dosa-dosa moral itu termasuk maksiat, contohnya : pandang memandang atau senyum2 pada lelaki yang bukan makhrom, ngrumpi, gunjing menggunjing dan lain sebagainya.

3. WARO : orang yang sudah bisa meninggalkan hal-hal yang subhat (yang tidak jelas antara halal dan haram). Contoh : Mie goreng Pecenongan, Mie GM…. (lho kan sudah ada lebel halalnya pak…..) Iya tapi masih diragukan karena dikasih enzim babi….. jadi kalau masih ragu-ragu…. TINGGALKAN ! Karena yang subhat itu dekat dengan yang haram, termasuk yang makruh-makruh juga! Nah, yang makruh itu sama dengan hal-hal yang tidak perlu, contoh : nonton sinetron, jalan-jalan yang tidak perlu (jalan menuju tempat maksiat), bergerak yang tidak perlu (jalan di atas cate walk, matanya dipakai ngedipin lawan jenis), mendengar yang tidak perlu (dengerin orang ngrumpi, dengerin music yang melalaikan)

4. ZUHUT : orang yang bisa menahan diri dari yang halal (nah, ini yang dilatih dalam bulan Ramadhan). Beli baju untuk Lebaran boleh saja, tapi apakah perlu? Nah, ini juga termasuk menahan diri dari yang halal. Jadi falsafah Ramadhan itu adalah” Menahan Diri Dari Yang Halal”. Kesimpulan : yang halal saja harus ditahan, tidak boleh dikerjakan, apalagi yang haram! Jangan sampai ya….kita sudah menahan yang halal, misalnya sudah tidak makan dan minum, eh…malah mengerjakan yang haram, yaitu ngerumpi……….nonton tayangan gossip.

5. MUSYAHADAH atau MUTAQIN (orang yang bertakwa) : inilah golongan orang-orang yang derajatnya paling tinggi. Dalilnya coba baca QS 6 : 162-163.

TANDA-TANDA DOSA KITA DIAMPUNI : kalau kita sudah berada pada maqom-maqom tersebut diatas (maqom itu artinya tingkatan bukan kuburan lho!)

Bulan Ramadhan itu bulan ampunan dan bulan dikabulkannya doa-doa, maka perbanyaklah istighfar dan perbanyak berdoa.

Salah satu dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah adalah : “Ashadualla illa ha illallah, astaghfirullah as’alukal jannata wa a’udzu bika minannar”

Kapan doa tersebut dibaca ? Doa tersebut dibaca pada waktu puasa, pada waktu sedang menahan lapar dan pada saat-saat mulut kita bau karena puasa, tapi masya Allah……baunya mulut orang yang berpuasa itu kan bagaikan bau kasturi…. tahu nggak bau kasturi? Pokoknya bau yang paling wuangiiii deh….
Tapi anehnya di kita : doa tersebut malah dibaca pada waktu kenyang (pada saat shalat Tarawih).

Bacaan dzikir yang lain, baca berulang-ulang selama kita berpuasa :
Astaghfirullaah 3x
Astaghfirullaahal ladzii, laa ilaaha illaallahu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku wa-lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.

Baca doa berbuka dengan bacaan : Allahumma laka sumtu……dst boleh-boleh saja, tapi kalau dilihat arti dari doa tersebut intinya kan hanya laporan saja, belum ada doanya, mangkanya sebelum berbuka berdoalah dengan bahasa kita sendiri memohonlah apa yang kita inginkan.

Doa habis Shalat Witir : “Ya Allah Engkaulah Yang Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku”

Shalawat : memberikan salam penghormatan. Kenapa sih kita harus bershalawat? Ya….karena Allah yang suruh.
Shallu = sholat

Memobilisasi = mengumpulkan nilai-nilai kebaikan : hidupkan rasa malu, karena bangsa ini bangsa yang sudah tidak punya rasa malu.
Malu kepada Allah, malu kepada diri sendiri, malu dengan orang lain, malu karena hafalan qur’an nya gak nambah-nambah, malu kerena ilmu agamanya juga gak nambah-nambah.

Lihat dan baca QS 18:29

Iman itu harus bertambah (jangan menipis), syukur-syukur kalau stabil, mangkanya hindari maksiat.

Dalam Ramadhan ini kita harus bisa meningkatkan keimanan kita, cobalah buat daftar catatan pribadi untuk diri sendiri, untuk menilai diri kita sendiri dengan membuat table :

Tgl SW SR SM Tilawah Hafalan Bacaan Iftha ZIS
1 5 v 10v, 2x 11 v QS 2: 1-10 QS 5:1-5 Sejarah Nabi hal 1-10 v Rp. 5.000,-

Catatan :
cacat karena ngrumpi.
tgl.
2 dst.

Misalnya tanggal 1 Ramadhan, kegiatannya adalah :
Shalat Wajib (SW) : 5 waktu, ok dikerjakan semua, maka dicatat 5 v
Shalat Rawatib (SR) : 12 rakaat/hari, yg dikerjakan hanya 10 rakaat, 2 rakaat tidak, maka dicatat 10 v, 2 x
Shalat Malam/Qiyamulail/Tarawih/Tahajut (SM) = 11 rakaat, maka dicatat 11 v
Tilawah : misalnya baca Al Baqarah (QS 2 : 1-10)
Hafalan : misalnya QS 55 : 1-5
Bacaan : baca buku apa saja, misalnya tgl. 1 baca buku Sejarah Nabi ….s/d….., tgl 2 diteruskan hal…, tgl 3 bacaan politik, baca buku hadits, dlsb.
Ifthar : memberi makanan untuk berbuka puasa, mis. Tgl. 1 v, tgl. 2 x, tgl. 3 v dst.
Shadaqah : misalnya Rp. 5.000 (usahakan tipa hari)
Catatan : misalnya hari ini kemungkinan puasa kita cacat karena ngrumpi.

Nah, kalau catatan harian kita full dengan nilai tanda V semua, maka di akhir Ramadhan kita harus SUJUD SYUKUR karena kita bisa melakukan semuanya tiap hari yang artinya kita telah berhasil, tapi kalau banyak tanda x maka MENANGISLAH karena kita belum berhasil!

Mari kita coba gunakan table diatas, jadi table diatas bukan untuk anak sekolah saja kita juga bisa pakai lho…….
Cobalah……… hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.

Wah kalau disuruh menghafal susah ustadz…..! Cobalah… usahakan menghafal insya Allah bisa karena Ramadhan kita dalam keadaan suci.

Coba lihat dan baca QS 25 : 72

Rasul bersabda : “barang siapa yang tidak bisa meninggalkan omongan yang sia-sia, maka Allah tidak butuh dia menahan lapar dan hausnya”

Omongan yang sia-sia itu termasuk ghibah. Jadi ghibah itu dilarang, ada Ramadhan atau tidak tetap DILARANG.

TANYA – JAWAB :
Bagaimana Tarawih untuk perempuan, sebaiknya di masjid atau di rumah?
Tarawih untuk perempuan sebaiknya di rumah, tapi kalau mau ke masjid tidak dilarang. Kira-kira mengerti gak ya kalimat tersebut ? Jadi sesuai dengan kalimat tersebut diatas mana yang lebih baik? Ya di rumah !

Yang diperintahkan shalat berjamaah di Masjid itu laki-laki saja.

Terus…. Kalau kita shalat di rumah gak dapat pahala yang dilipatkan 27x itu doong….. ya rugi dong pak…..
Insya Allah perempuan yang shalat di rumah pahalanya sama dengan yang di Masjid, dalilnya coba baca QS 33 : 35.

Kalau perempuan mau I’tikaf bagaimana pak ?
I’tikaf untuk perempuan itu boleh, tapi ingat yang namanya I’tikaf yang benar itu adalah berdiam diri di Masjid selama 10 hari 10 malam, jadi kalau perempuan berdiam diri selama 10 hari 10 malam itu namanya apa dong…..kalau gak ngurus keluarganya?
Yang selama ini terjadi : perempuan I’tikaf hanya numpang tidur di Masjid, besoknya pulang… ya gak papa sieh… belajar I’tikaf, namanya juga I’tikaf-I’tikafan.

Perempuan beri’tikaf itu adanya setelah Rasulullah meninggal, tapi pada zaman dulu I’tikafnya di Masjid yang tertutup rapat, lha sekarang ??? Coba lihat di masjid-masjid perempuan yang I’tikaf tidak ditutup rapat sehingga laki-laki bisa lihat perempuan yang tidur sembarangan posisinya…
Jadi sekedar untuk belajar boleh….tapi tidak ada manfaatnya.

Kalau sudah shalat Tarawih apa masih perlu shalat Tahajut?
Tidak perlu, karena yang namanya Tarawih itu sama dengan Tahajut dan juga sama dengan Qiyamulail Tarawih (bahasa Ulama), Qiyamulail (bahasa Hadits), Tahajut (bahasa Al Qur’an), jadi ya lakukan salah satunya saja.
Kalau sore sudah melakukan Tarawih, malam harinya bangun gak usah Tahajut lagi… cobalah dengan ibadah yang lain…..bacalah Al Qur’an, karena bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, jangan hanya baca…cobalah baca artinya kemudian tingkatkan dengan membaca tafsirnya…supaya kepandaian kita nambah tiap harinya.

Mohon maaf apabila ada kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan.

Wassalam,
Nani Utarida.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar