Rabu, 05 Agustus 2009

Lihat: Lengkap | Ringkas * Catatan Vicky Robiyanto * Catatan Tentang Vicky Robiyanto 7. HAWA KESENANGAN ADALAH PETAKA HATI

Seri..Adab as-Suluk wa at-Tawassul ila manazil al-Muluk….by : syekh Abdul Qadir al-Jilani (Bagian 3)
Syekh - semoga Allah meridhai dan meridhakannya - berujar : Keluarlah dari nafsu dirimu dan jauhilah ia. Lepaskanlah segala kepemilikanmu dan serahkan semua pada Allah. Jadilah gerbang dipintu hatimu. Patuhilah perintah2-Nya dalam memasukkan orang2 yang memang diperintakan-Nya untuk diizinkan masuk. Dan patuhilah juga larangan-Nya untuk kau usir (jauh dari pintu hatimu).
Jangan masukkan hawa kesenangan ke dalam hatimu setelah ia terusir darinya. Pengusiran hawa kesenangan dari hati adalah dengan menentangnya dan menolak mengikutinya dalam segala kondisi. Adapun memasukkannya ke dalam hati adalah dengan menuruti kehendaknya dan menyetujuinya.
Janganlah kau berkehendak selain dengan kehendak Allah 'Azza wa Jalla. Kehendak yang kau angankan selain itu adalah rimba ketololan yg akan menghantarkan kecelakaan dan kebinasaanmu, juga kejatuhanmu di mata-Nya 'Azza wa Jalla dan keterhijabanmu dari-Nya.
Karena itu, jagalah selalu perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. pasrahkan selalu dirimu kepada-Nya dalam segala ketentuan yg telah ditetapkan-Nya. Jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. kehendakmu, hawa kesenangan, dan syahwatmu adalah makhluk-Nya. karena itu jangan sekali2 kau berkehendak diri, juga berhasrat kesenangan, dan bersyahwat tinggi agar tidak menajdi orang musyrik. Allah berfirman : "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. al-Kahf [18]:110).
Syirik tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala semata, akan tetapi termasuk laku kesyirikan adalah menurutkan hawa nafsumu, memilih sesuatu selain-Nya berupa dunia seisinya bersamaan dengan pilihan pada Allah, juga akherat seisinya, dan segala sesuatu selain-Nya. Jika kau terhanyut bermasyuk diri dengan sesuatu selain-Nya, maka berarti kau telah menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan jangan merasa diri aman, telitilah selalu dan jangan lalai, niscaya kau akan merasa tenang.
Jangan mengklaim hal atau maqam, dan jangan biarkan sesuatu dari hal tersebut terjadi. Jika kau dianugerahi atau didudukkan dalam suatu maqam, atau diperlihatkan sebuah rahasia, jangan beritahukan sedikit pun pada siapa pun. Sebab Allah 'Azza wa Jalla setiap hari berada pada dalam satu kondisi (sya'n) berubah dan berganti. Penyampaian hal itu juga akan menghalangi hubungan diri dengan hati, sehingga Dia pun akan segera menghapus lagi apa yang telah diberitahukan-Nya padamu dan mengubahmu dari apa yang kau khayalkan akan terus-menerus dan kekal selamanya dalam dirimu, sehingga kau pun akan malu pada orang yg kau beritahukan. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan beritahukan pda orang lain. Jika memang maqam atau hal tersebut kekal dan menetap terus-menerus (di dalam dirimu), maka itu adalah anugerah yang harus kau syukuri. Mohonlah taufik pertolongan pada Allah agar kau senantiasa bisa bersyukur dan semakin bersyukur. Jika beda kondisinya [maqam atau hal yang diberikan-Nya tidak kekal dan terus-menerus], maka ia adalah tambahan pengetahuan, makrifat, nur, kesadaran, dan pengajaran [ta'dib].
Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, Kami datangkan yg lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tidaklah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?" (QS. al-Baqarah[2]:106)
Jangan kau pandang lemah Takdir Allah, juga jangan kau tuduh Dia macam-macam dalam hal pengurusan dan pengaturan-Nya. Jangan pula kau ragukan janji (dan ancaman)-Nya. Teladanilah dalam hal ini Rasulullah Saw.
Memang ada penghapusan beberapa ayat dan surat yg suah terlanjur diberlakukan dalam aktivitas keseharian, dibacakan dalam mimbar2, dan termaktub di dalam mushaf2 dan lembaran. Ayat2 dan surat tersebut dihapus dan diganti dengan ketetapan lain. Dan Rasulullah Saw. pun dalam hal ini berpindah pada selainnya (hukum baru). kasus nasakh ini hanya terjadi pada teks hukum dn Syara'. Adapun dari sisi ilmu dan hal antara Rasulullah dan Allah Ta'ala, Rasul Saw. bersabda : "Hal itu dikayakan atas hatiku. Aku beristigfar memohon ampun pada Allah 70 kali dalam setiap hari."[1] Riwayat lain menyebutkan "100 kali."
Rasulullah Saw. selalu berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain, dan berganti dengan yg lain dalam menapaki tangga-tangga kedekatan dan menjejaki medan-medan kegaiban. Berubah-ubah pula di hadapannya khulu' dan cahaya-cahaya. (Kekurangan) kondisi pertama terpampang jelas setelah disusul kedahagaan dan kekurangan. Dan dari sinilah timbul kekurangan dalam pemeliharaan batasan2 dalam perpektif kerendaha hati Nabi Saw. Sehingga beliau pun langsung mengucapkan istigfar Allah. Sebab, itu adalah hal terbaik seorang hamba serta yang paling pantas (dilakukannya) dalam segala kondisi.
Istigfar mengandung pengakuan dosa dan kekurangan. dan keduanya adalah sifat seorang hamba dan segala kondisinya. Keduanya merupakan warisan bapak manusia, Nabi Adam As. pada Nabi Saw. tatkala kesucian hal-nya dikotori oleh gelap kealpaan akan ikrar dan sumpah, juga akan kehendak kekekalan di surga dan persandingan dengan Sang Kekasih Yang Maha Pemurah lagi Maha Penganugerah, serta akan masuknya para malaikat padanya(Adam) dengan hormat dan salam. Sejak itu, diri Adam menemukan kehendaknya telah berbaur dengan kehedak al-Haqq 'Azza wa Jalla, sehingga kehendak itu pun pecah berkeping-keping. Status (kesuciah)-nya pun lenyap, juga wewenang kewaliannya. posisinya pun diturunkan. cahaya-cahayanya digelapkan, dan kesuciannya terkotori. Akan tetapi, Adam langsung ditegur dn diingatkan kembali akan kesucian Sang Maha Pengasih, lalu diajari cara pengakuan dosa dan lupa. Allah mendiktekan padanya pengakuan akan kekurangan diri, sehingga keduanya berkata : "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang2 yang merugi." (QS. al-A'raf [7]:23)
Selanjutnya, turunlah kepadanya cahaya-cahaya petunjuk, ilmu2 tobat dan pengetahuannya, juga kemaslahatan yang terpendam di dalamnya yang sebelumnya masih belum ada. Lalu digantikanlah hal tersebut dengan yang lain. Datanglah juga padanya kewalian terbesar dan penempatan di dunia, kemudian di Akhirat. Dunia pun menjdi tempat tinggal baginya dan keluarganya ( setelah sebelumnya ia tingal di Surga), dan Akhirat bagi mereka adalah tempat kembali dan kekekalan.
Allah berfirman: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa padanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya." (QS. al-Baqarah [2]:106)
Teladanilah Nabi Muhammad Saw, kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam As, pilihan Allah dan anggota kekasih dalam mengakui kesalahan dan beristigfar dalam segala kondisi, juga kerendahan dan kefakiran di dalamnya. Semoga Allah menganugerahkan salawat kesejahteraan, dan salam kedamaian pda Muhammad dn keluarganya, juga para sahabatnya.

catatan kaki:
[1]. H.R. Muslim dalam Sahih Muslim.Al-Minawi menjelaskan dalam Fadlal-Qadir juzIII/1:imam Abu al-Hasan asy-Syazili menuturkan : "ini adalah ghaynanwar [cahaya-cahaya], bukan ghayn aghyar, sebab, ia senantiasa naik. Setiap kali muncul cahaya-cahaya makrifat ke dalam qalbunya (hati Rasulullah Saw), beliau pun naik ke tingkatan yang lebih tinggi, dan apa yang ada sebelumnya pun beliau anggap sebagai dosa. Dengan bahasa lain ghayn dalam hadits diatas bukanlah ghyn hijab atau kelalaian sebagaimana disalahpahami oleh banyak kalangan, akan tetapi ia kala itu ditenggelamkan oleh cahaya-cahaya tajalliyat [penampakan-penampakan] sehingga kehadirannya menghilang, maka beliau pun kemudian memohon ampunan pada Allah, atau agar Dia berkenan menutupi apa yang tidak baik atas dirinya. Sebab, setinggi apa pun seseorang jika ia terus-menerus mendapat tajalli, tentu ia akan meleleh di hadapan Wewenang Hakikat. Maka. penyatiran atas mereka merupakan rahmat atas mereka, namun hijab dan niqmah bagi kalangan awam.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar