Selasa, 21 Juli 2009

M A R I F A T

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghoramatan yang semestinya.” (Q.S. Al-An’am:91)

Dalam sebuah tafsir dijelaskan bahwa ayat tersebut bermakna. “Mereka tidak mengenal Allah (Marifat) sebagaimana seharusnya Dia dikenal.”

Diriwayatkan dari Aisyah r..a bahwa Nabi Saw. Bersabda, “Pondasi sebuah rumah adalah dasarnya. Pondasi agama adalah pengenalan kepada Allah Swt. Yakin, dan akal yang teguh.” Aisyah lalu bertanya”Demi ayah dan ibuku, menjadi tebusanmu, apakah akal yang teguh itu?” Beliau Saw. Menjawab : “Menjaga dari maksiat terhadap Allah dan bersemangat dalam menaati Allah Swt.” (Dikeluarkan oleh ad Dailamy, dari Aisyah r.a)

Ditinjau dari segi bahasa, para ulama mengartikan ma’rifat adalah ilmu. Semua ilmu adalah disebut ma’rifat, dan semua ma’rifat adalah ilmu, dan setiap orang yang mempunyai ilmu(‘alim) tentang Allah Swt. Berarti seorang yang arif, dan setiap yang arif berarti ‘alim. Tetapi dikalangan sufi, ma’rifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah Swt., melalui Nama-nama serta Sifat-sifat-Nya dan berlaku tulus kepada Allah Swt. Dengan muamalatnya, kemudian menyucikan dirinya dari sifat2 yang rendah dan cacat, yang terpaku lama di pintu (ruhani), dan yang senantiasa I’tikaf dalam hatinya. Kemudian dia menikmati keindahan dekat hadirat-Nya, yang mengukuhkan ketulusannya dalam semua keadaannya. Memutus segala kotoran jiwanya, dan dia tidak mencondongkan hatinya kepada pikiran apa pun selain Allah ta’ala, sehingga ia menjadi orang asing di kalangan makhluk. Ia menjadi bebas dari bencana dirinya, bersih dan tenang, senantiasa abadi dalam sukacita bersama Allat Swt., dalam munajatnya.Di setiap detik senantiasa kembali kepada-Nya, senantiasa berbicara dari sisi Al-Haq melalui pengenalan rahasia2-Nya. Dan ketika Allah Swt. Mengilhaminya dengan membuatnya menyadari rahasia2-Nya akan takdirnya, maka pada saat itu ia disebut seorang ‘arif, dan keadaannya disebut ma’rifat. Jelasnya, frekuensi keterasingannya terhadap dirinya sendiri (dan seluruh makhluk yang ada) semata karena sukses ma’rifatnya kepada Allah Swt.

Para syeikh masing2 berbicara tentang ma’rifat, sesuai dengan pengalamannya sendiri dan menunjukan isyarat apa yang dating kepadanya pada waktunya.

Syeikh Abu Ali ad-Daqqad berkata, “Salah satu tanda ma’rifat adalah munculnya haibah dari Allah Swt. Barangsiapa bertambah ma’rifatnya, bertambah pula haibahnya.” Beliau juga menyatakan, “Ma’rifat membawa ketentraman dalam hati, sebagaimana pengetahuan membwa kedamaian. Jadi, orang yang ma’rifat bertambah, maka bertambah pula ketentramannya.”

Asy-Sibly berkata, “Bagi sang ‘arif tidak ada keterikatan, bagi sang pencinta tidak ada keluhan, bagi sang hamba tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Allah tidak ada tempat yang aman, dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah.” Ketika Asy-Sibly ditanya tentang ma’rifat, dia menjawab, “Awalnya adalah ma’rifat hanya bagi Allah Swt. Dan yang akhirnya adalah sesuatu yang tiada terhingga.”

Abu Hafs berkata :”Sejak diriku mencapai ma’rifat, tiada lagi kebenaran ataupun kebatilan yang memasuki hatiku.” Ucapan Abu Hafs ini mengandung kemusykilan. Mungkin sekali Abu Hafs menunjukan bahwa dalam pandangan sufi, ma’rifat menjadikan sang hamba kosong dari dirinya sendiri, karena dia dilimpahi oleh zikir kepada-Nya. Dengan demikian, tidak melihat apa pun selain Allah Swt.., tidak pula musyahadah kepada selain Allah Swt. Sebagaimanaseorang yang berakal berpaling kepada hati dan refleksi pemikirannya terhadap obyek pemikirannya, atau kondisi yang dihadapinya. Bagi sang ‘arif, semata kembali pada Tuhannya. Jika seseorang disibukkan dengan Tuhannya semata, maka dia tidak akan berpaling kepada hatinya sendiri. Bagaimana mungkin masalah tersebut memasuki hati seseorang yang tidak punya hati? Bedakanlah antara orang yang hidup dengan hatinya, dan orang yang hidup dengan Tuhannya.

Ketika ditanya tentang ma’rifat, Abu Yazid al-Bisthami menjawab dengan menyitir ayat “Sesungguhnya raja2, jika mereka memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina.” (Q.s. An-Naml: 34). Abu Yazid menyatakan, “Manusia mempunyai ihwal ruhani, bagi sang arif tidak ada. Sifat2 manusiawinya terhapus dan ke-dia-annya telah berubah menjadi ke-Dia-an lain. Pengaruhnya gaib karena factor lain diluar dirinya.”

Muhammad al-Wasithy berkata : “Ma’rifat tidak dibenarkan jika dalam diri si hamba masih ada rasa kepuasan dengan Allah Swt., dan kebutuhan terhadap-Nya.”

Dengan ucapan ini al-Wasthy memaksudkan bahwa kebutuhan dan kepuasan adalah sebagai tanda2 kesadaran jiwa pada diri si hamba dan tanda2 tetapnya sifat2nya, karena keduanya merupakan sifat2nya. Sang ‘arif terlebur dalam obyek ma’rifatnya. Bagaimana mungkin marifatnya shahih – bila kebutuhan dan kepuasan dengan-Nya masih melekat – sementara dia lebur dalam Wujud-Nya atau terserap dalam musyahadah pada-Nya, tetapi belum sepenuhnya mencapai wujud dan masih dipisahkan oleh kesadaran akan sifat apa pun yang mungkin dimilikinya? Karena alasan inilah al-Wasithy juga mengatakan, “Barangsiapa ma’rifat kepada Allah Swt, berarti terputus; bahkan bisu dan hampa.”

Nabi Saw. Bersabda “Aku tak bisa memuji-Mu sepenuhnya.” (H.r. Baihaqi) Inilah sifat2 mereka yang perspektifnya jauh. Sementara mengenai mereka yang puas dengan batasan tersebut, mereka telah banyak berbicara tentang ma’rifat dengan panjang lebar.

Ahmad bin Ashim al-Anthaky berkata “Siapa yang lebih marifat (terhadap) Allah Swt, semakin dia takut pada-Nya.”

Salah seorang sufi berkata, “Barangsiapa marifat (terhadap) Allah Swt, akan dikokohkan oleh keabadian, dan dunia seisinya terasa sempit”

Dikatakan, “Barangsiapa ma’rifat kepada Allah Ta’ala, Dia akan menjernihkan hidupnya, dan meberikan kebajikan hidup padanya. Segala sesuatu gentar kepadanya, dia sendiri tidak takut pada sesuatu pun diantara makhluk, dan dia mengalalmi sukacita yang luar biasa dengan Allah Swt.”

Ruwaym bin Ahmad berkomentar, “Marifat adlah cermin sang arif. Bila dia menatap cermin itu, tampaklah Tuhannya.”

Dzun Nun al Mishry menuturkan, “Ruh para nabi berlomba dipadang ma’rifat, dan ruh Nabi kita Muhammad Saw. Telah memenangkan arwah para Nabi – semoga Allah melimpahkan kesejateraan kepada mereka – ke taman wishaal.” Dia juga mengatakan, “Pergaulan sang arif (terhadap orang lain) adalah seperti perlakuan Allah Swt, dan dia bersabar terhadapmu karena dia meniru Akhlak Allah Swt.”

Al-Husain bin Manshur al-Hallaj berkata , “Apabila si hamba mencapai tahapan ma’rifat, Allah Swt, membisikan melalui bisikan2 dan menjaga batinnya, agar tidak dicampuri oleh bisikan yang tidak haq.” Al-Hallaj juga mengatakan, “Tanda seorang arif adalah bahwa dia kosong dari dunia dan akhirat.”

Sahl bin Abdullah mengatakan, “Pangkal marifat ada dua: Kedasyatan dan kebingungan.”

Dzun Nuun al-Mishry menegaskan, “Orang2 yang paling marifat (terhadap) Allah adalah yang paling besar kebingungannya.”

Seorang pria berkata kepada al-Junayd, “Di antara ahli marifat, ada sebagian yang mengatakan, ‘Meninggalkan setiap macam gerakan (lahiriah) adalah bagian dari kebajikan dan taqwa’.” Al-Junayd menjawab, “Mereka adalah orang2 yang mengusulkan agar meninggalkan semua amalan, yang menurut pendapatku merupakan kekeliruan besar. Pencuri dan pezina lebih baik perilakunya daripada mereka yang berucap demikian. Sebab sang arif memperoleh amal2 dari Allah Swt, dan mereka kembali kepada Allah Swt, melalui amal-amal tersebut. Seandainya aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi pelaksanaan amal kebajikan sekecil biji sawi sekalipun.”

Abu Yazid al Bistamy berkata, “Sang arif terbang dan sang zahid berjalan.” Dikatakan “Mata sang arif menangis, tetapi hatinya tertawa.”

Al-Junayd mengatakan, “Seorang arif tidak akan menjadi arif sampai dia menjadi seperti bumi: diinjak oelh orang yang baik maupun yang jahat, dan sampai dia menjadi awan:menaungi semua makhluk, dan sampai dia menjadi seperti hujan: menyirami segala sesuatu, baik yang mencintainya maupun membencinya.”

Yusuf bin Ali mengatakan “Seorang tidak akan menjadi arif sejati sampai seandainya Kerajaan Sulaiman as. Diberikan kepadanya kerajaan itu tidak memalingkan perhatiannya sekejap mata pun dari Allah Swt.”

Ahmad bin Atha menjelaskan, “Ma’rifat dibangun dengan tiga tiang : rasa gentar (haibah), malu (haya’) dan kesukacitaan (uns).”

Dikatakan, “Sang Arif memperoleh kesenangan dengan zikir kepada Allah, dan ditakuti oleh makhluyk-Nya. Dia membutuhkan Allah dan Dia membuatnya tidak butuh pada makhluk. Sang arif selalu merasa hina dihadapan Allah, lantas Allah memuliakan di hadapan makhluk-Nya.”

Abu ath-Thayib as-Samary mengatakan, “Marifat adalah munculnya Al-Haq di lembah batin melalui cahaya yang terus-menerus meamcar.”

Dzun Nuun menyatakan, “ Bagi setiap orang ada hukuman tertentu, dan hukuman bagi seorang arif adalah terputus dari zikir kepada Allah Ta’ala.”

Ruwaym berkata, “Riya’nya orang2 arif lebih utama daripada keikhlasan para murid (pencari Allah)..”

Abu Bakr Muhammad al-Warrad berkata “Diamnya seorang arif adalah paling brmanfaat, dan bicaranya aadlah paling simpati dan paling menyenangkan.”

Dzun Nuun menegaskan, “Meskipun para zahid adalah raja2 di akhirat, padahal mereka adalah paling fakirnya ‘arifin.”

Ketika ditanya tentang sifat orang arif, Abu Turab Askar an-Nakhsyaby menjelaskan, “Tak sesuatu pun mengotorinya, justru segala sesuatu menjadi bersih karenanya.”

Syaikh Abu Ali ad-Daqqad menyatakan, “Sang arif hancur dalam lautan hakikat. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang sufi, ‘marifat adalah ombak yang mebubung, naik dan turun.”

Dzun Nuun mengatakan, “Tanda seorang arif ada 3 :Cahaya marifatnya tidak meniup cahaya wara’nya; dia tidak percaya pada pengetahuan batin, apabila merusak hukum2 lahir; dan melimpahnya rahmat Allah kepadanya tidak mendorongnya untuk merobek tirai yang menutupi kehormatan Allah Swt.”

Abu Said al-Kharraz ditanya, “Apakah sang ‘arif sampai pada kondisi, dimana air mata telah kering?’ Dia menjawab, “Memang. Menangis termasuk dalam masa ketika mereka melakukan perjalanan menuju Allah Swt., Ketika mereka turun menuju lembah hakikat taqarrub, dan mengalami rasa wushul dari anugerah-Nya, tangisan itu akan sirna.”

Diambil dari Risalatul Qusyairiyah…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar