Sabtu, 25 Juli 2009

Memaknai Panggilan Azan

Kalimat-kalimat azan adalah di antara ungkapan yang paling sering dan paling banyak kita dengar setiap hari. Adalah hal yang sudah menjadi pengetahuan umum bagi seluruh umat Islam, bahwa kalimat-kalimat yang dilantunkan oleh seorang muazzin ketika azan, berarti panggilan untuk segera bangkit dan bergerak serta meninggalkan segala macam aktifitas yang bersifat duniawi dan segera menghadap Allah dengan melaksanakan shalat. Sehingga, telinga disebut âzân karena telinga adalah sumber gerakan bagi seseorang. Jika telinga yang diganggu, pastilah seseorang langsung bergerak dan bereaksi. Oleh karena itulah, Ashshabul kahfi bisa tidur nyenyak selama 309 tahun, karena Allah menutup rapat telinga mereka (al-Kahfi [18]: 11).

Namun demikian, ada satu hal yang menjadi subtansi dan tujuan utama dari seruan azan, yaitu panggilan untuk segera bergerak meraih keberhasilan, kesuksesan dan keberuntungan (al-falah). Untaian kalimat-kalimat azan sebenarnya memberikan petunjuk kepada kita, bagaimana kemenangan dan keberhasilan semestinya diraih dan dipergunakan.

حي على الصلاة حي على الصلاة
"Hayya 'alash shalaah. Hayya 'alal falaah, hayya 'alal falaah."

Seruan ini Lima kali sehari kita dengar dan terus menggema sepanjang masa yang entah kapan sirna dari muka bumi ini. Susul menyusul, saut-menyaut bergantian dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Selesai di negeri yang satu, berpindah ke negeri yang lain, berputar terus selama matahari masih terbit dan terbenam. "Mari kita shalat, mari kita raih kemenangan." Kata-kata yang amat menarik untuk dicermati.

Dengan shalat kita akan meraih kemenangan. Dengan shalat kita akan meraih kebahagiaan. Sungguh menarik! Sungguh menggiurkan! Betapa mempesona tawaran itu.

Betulkah dengan shalat akan meraih kemenangan, kebahagiaan?

Kita sebagian besar masih shalat. Kita sebagian besar masih berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah. Namun mengapa kemenangan itu tak kunjung menjadi kenyataan? Dalam teknologi tertinggal, ekonomi tergilas, budaya amblas, politik terjepit, kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagaiaan tinggal bayangan! Apa Allah SWT ingkar janji? Mari kita renungi, kita pikirkan, kita koreksi langkah-langkah yang kita tempuh selama ini, mungkin ada yang tidak beres. Janji Allah SWT pasti benar, tidak mungkin Dia ingkar, pasti kita yang salah melangkah, sehingga kekalahan demi kekalahan, derita demi derita terus kita alami. Untuk itu marilah kita coba meraih kemenangan dan kebahagiaan ini dengan manggali makna dari tahapan-tahapan adzan.


Ada tujuh kalimat yang biasa diucapkan oleh seorang muazzin dan merupakan susunan kalimat azan yang sudah popular di kalangan umat Islam; yiatu
Ungkapan pertama;

الله أكبر

ALLAHU AKBAR.

Modal utama dalam awal perlangkahan untuk berjuang adalah membesarkan Tuhan. Dengan modal inti ini kita akan merasa tenang dan tenteram. Hilang rasa takut dengan kebesaran dan keperkasaan lawan. Timbul keberanian mengahadapi penghadang, walau mereka bersatu padu membangun kekuatan yang dahsyat sekalipun.

Tidak gentar sedikitpun dengan banyaknya pasukan lawan dan canggihnya peralatan. Tidak akan bergeser meskipun musuh melabrak. Semua itu kecil dan tidak ada apa-apanya dengan kebesaran dan keperkasaan Allah swt. Semua tergilas, terkapar dan musnah bila Allah turun tangan. Apabila Allah meridhai, kita akan sukses dan menggapai apa yang kita cita-citakan. namun tidaklah mudah untuk memancing turun tangan Allah guna membantu perjuangan kita. Perlu diantara kita untuk terus memperkokoh aqidah dan persatuan, yaitu dengan pemantapan syahadat kita sebagai pondasi.

Ungkapan ini juga memberikan arahan kepada umat Islam yang hendak mencari dan mencapai kemenangan, bahwa hendaklah dia memulai gerak, aktifitas dan usahanya dengan menyebut nama Allah Yang Maha Besar. Ketika hendak memulai aktifitas, hendaklah dia mengingat bahwa ada Dzat Yang Maha Besar yang selalu akan membantu dan menolongnya dalam mencapai maksud dan tujuan itu. Memulai sesuatu dengan nama Allah dan meyakini Allah Maha Besar, akan berdampak pada munculnya rasa optimisme yang tinggi dalam diri seseorang. Sekalipun di tengah perjalanan, dia menghadapi berbagai macam bentuk hambatan dan rintangan, namun dengan keyakinan akan adanya pertolongan Allah yang Maha Besar, dia akan tetap teguh dalam mencapi tujuannya.

Ungkapan kedua;

أشهد ان لا إله إلا الله

ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH.

Persaksian ini telah diikrarkan ummat manusia kala masih berada di alam ruh. Pengakuan yang menyatakan tiada yang dipentingkan, diutamakan, dinomorsatukan, kecuali Allah. Tidak ada yang ditakuti, disegani, dipertuan, dan disembah kecuali Dia Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta ini. Dengan tauhid Rabbani yang mantap dan kokoh meneguhkan perlangkahan berikutnya dalam menggapai kemenangan. Dengan modal ini kita akan tetap istiqamah walaupun godaan, bujuk rayu, dan janji-janji masa depan yang cerah ditawarkan pihak-pihak lawan, asal mau mendukung ideologinya. Ancaman siksaan, inipun tak akan meruntuhkan keyakinan atas kebenaran yang diemban. Semua itu tidak ada artinya. Semuanya hanyalah bumbu kehidupan. Apalah artinya pangkat yang setiap saat bisa hilang? Apa artinya nyawa yang suatu waktupun akan melayang? Allah yang tetap ada, laa wujudan illallah, tetap kekal. Hanya Dia-lah yang paling diutamakan, paling dicintai, dan paling diagungkan. Aqidah Rabbani yang paling utama untuk dimantapkan, karena dengan modal ini apapun perintah atau larangan yang digariskan Allah dalam al-Qur'an akan enak saja dijalani. Segala macam bentuk ibadah yang diperintahkan Allah swt akan ditaati dengan penuh kekhusyu'-an dan keridhaan. Perintah berkorban baik harta, tenaga dan nyawa untuk berjuang di jalan Allah akan disambut dengan riang gembira. Syahadat yang kuat akan memudahkan untuk terealisasinya cita-cita.

Ungkapan tersebut juga berarti memberikan panduan kepada seseorang yang hendak memulai sesuatu agar memurnikan niatnya karena Allah, dan apapun yang dilakukannya adalah untuk tujuan ibadah. Sebab, tidak ada satupun pekerjaan yang dikerjaan manusia, kecuali bernilai ibadah. Begitulah yang ditegaskan dalam surat al-Bayyinah [98]:5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Hal ini menjadi amat penting bagi seseorang yang hendak meraih sukses, bahwa sebesar apapun usahanya jika tidak untuk niat beribadah akan bernilai sia-sia. Memurnikan niat dan tujuan untuk beribadah, akan menjadikan seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh. Karena, kalaupun kemudian usahanya mengalami kegagalan, setidaknya dia sudah mendapatkan bagian pahala dari Allah swt.

Ungkapan ketiga,

أشهد أن محمدا رسول الله

ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

Tauhid Rabbani yang mantap dan kokoh harus ditunjang dengan Tauhid Nubuah. Tanpa adanya kepemimpinan, cita-cita tidak akan tercapai.

Tauhid Rabbani akan mengantarkan untuk terbentuknya suatu jamaah, karena setiap pribadi merasakan akan kelemahan-kelemahannya, sehingga dengan dasar kesadaran atas kelemahan masing-masing individu akan melahirkan jamaah. Dalam setiap perjuangan diperlukan seorang pemimpin untuk membina, mengarahkan, memotivasi, dan mengkoordinasikan individu-individu agar tidak berjalan sendiri-sendiri, bertindak tanpa perintah, dan mengerjakan sesuatu sesuka hatinya. Dengan adanya koordinasi dan komando suatu pekerjaan akan terprogram, terencana dan terkoordinir. Inilah perlunya Nubuah, kekhalifahan, kepemimpinan, agar dalam bergerak dan melangkah selalu terpantau oleh pusat komando, yaitu seorang pemimpin atau seorang imam. Hal ini adalah 'sunnah' dicontohkan Rasulullah saw dalam memperjuangkan dan menegakkan kalimat Allah di permukaan bumi.


Ungkapan ini memberikan petunjuk kpeda manusia akan adanya sosok manusia agung dan sempurna yang mesti dijadikan contoh dan teladan. Nabi Muhammad saw. adalah sosok pekerja yang sangat sukses dalam mencapai setiap tujuan dan maksudnya. Dengan menyebutkan nama nabi Muhammad. saw, manusia diperintahkan untuk menjadikan beliau sebagai panutan, teladan dalam setiap aktifitas dan perbuatan mencapai kesuksesan. Nabi Muhammad saw. adalah pekerja yang ulet, cerdas, tangguh, sabar, ikhlas dan sebagainya.

Adalah hal yang sudah biasa bagi setiap manusia, bahwa untuk bekerja dia memerlukan contoh. Tentunya, yang mesti dijadikan contoh adalah yang terbaik dan paling sukses. Tipe sepeti itu hanyalah ada pada diri Rasulullah saw.

Ungkapan keempat,

حي على الصلاة

HAYYA 'ALASH SHALAH.
Kepemimpinan yang bagaimana yang mengantarkan kemenangan itu? Lihat dalam pelaksanaan shalat jamaah. Dalam shalat jamaah diperlukan adanya imam dan makmum, baru bisa berjamaah. Seorang imam dipilih oleh makmum dengan kriteria bahwa dia memang dianggap paling layak untuk dijadikan imam dibanding dengan yang lainnya. Dengan pengangkatan imam, konsekuensinya sebagai makmum harus mengikuti bagaimana saja imam bergerak. Imam ruku' ikut ruku', sujud ya ikut sujud dan jangan coba-coba mendahului, karena Rasul telah bersabda, "Orang yang mendahului imam, akan dibangkikan di hari akhir nanti seperti keledai." Bila gerakan atau bacaan imam salah, tegur, dan ingatkan.

Dan jangan sampai kita meninggalkan jamaah lantaran imam salah bacaan atau gerakan, karena kita akan rugi, bila lantas shalat sendiri. Si imam sendiri harus segera memperbaiki bacaan atau gerakan yang salah itu. Seorang imampun sebelum shalat dimulai, harus melihat dan merapikan shaf makmum dulu. Dalam kepemimpinan, kekhalifahan untuk memperjuangkan agama Allah pun harus demikian. Angkatlah seorang imam yang taat pada Allah dan rasulnya, ikuti kepemimpinannya dengan penuh ketaatan, ikuti komandonya jangan bertindak tanpa komando, apalagi mendahului. Seorang imam, seorang pemimpin harus siap menerima teguran bila khilaf dan menyalahi atau menyimpang dari jalan semula yang dicita-citakan, dan segera memperbaiki dan luruskan niat kembali. Jamaah jangan tinggalkan imam bila dia masih taat pada Allah dan Rasul-Nya serta mau menerima teguran bila khilaf atau menyimpang.

Merapikan barisan atau shaf merupakan tanggung jawab penuh seorang imam. Jangan ada barisan yang longgar atau tidak lurus, karena itu akan memudahkan setan dan pihak lawan untuk membikin gebrakan, melemahkan gerakan dalam pencapaian cita-cita. Lihat jangan ada jamaOah yang mulai renggang ukhuwahnya, atau sudah mulai bengkok dari niat semula, segera luruskan dan ingatkan. Bila imam mangkat atau meninggal, segera ganti oleh orang yang memang pantas menggantinya, jangan memulai gerakan dari awal kembali, karena rugi waktu dan tenaga, bila konsep yang dipegang imam yang wafat itu tidak menyalahi Qur'an dan sunnah. Perbaiki sistem, mungkin itu yang patut dilaksanakan.

Panggilan ini juga dimaknai untuk segera melaksanakan shalat memberikan arahan kepada setiap yang akan memulai sesuatu, bahwa hendaklah mengawalinya dengan ibadah; shalat. Ibadah akan mendatangkan keredaan Allah kepada seseorang, dan jika Allah sudah meredhainya tentulah semua keinginanya akan terwujud dengan sempurna dan kesuksesan dengan mudah akan diraih. Begitulah yang diingatkan Allah dalam surat al-Jum’ah [62]: 10


فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”


Di samping itu, shalat sebagai salah satu bentuk zikir kepada Allah, adalah hal yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa bagi pelakunya. Jika seseorang bekerja dengan hati yang tenang dan fikiran yang jernih, tentulah kesukesan akan mudah diraih.

Ungkapan kelima;

حي على الفلاح

HAYYA 'ALAL FALAH.

Dengan diawali suatu keyakinan penuh atas keagungan dan ke Maha Besaran Allah atas segala yang dianggap besar dan agung, membuat tekad bertambah kuat dan keberanian berlipat ganda. Ditambah dengan tauhid yang mantap dan kokoh sebagai pondasi kekuatan yang maha dasyat. Ditunjang dengan kesolidan jamaah yang dipimpin oleh seorang imam yang ketaatannya kepada Allah swt dan pengamalan sunnah Nabinya begitu luar biasa. Apalagi imam itu seorang yang patut untuk diteladani. Kemudian perlangkahan gerakan telah terprogram dengan baik, diawali dengan langkah apa, dan diakhiri apa? Itu sudah tersusun rapi. Sehingga kemenangan yang dicita-citakan akan diraih dengan gilang-gemilang, dan kesejahteraan yang diucapkan di akhir shalat, akan terealisasi dengan bukti yang nyata, bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin.

Ajakan ini adalah tujuan akhir dari usaha manusia; yaitu kesuksesan. Akan tetapi, kesuksesan ini baru akan diperoleh jika sebelumnya di awali dengan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya; memulai dengan nama Allah, memurnikan niat untuk ibadah, mencontoh yang terbaik (Rasulullah), serta mengawalinya dengan ibadah (Shalat). Jika hal itu sudah dipenuhi anda pasti sukses. Akan tetapi, setelah kesuksesan di raih, mesti diikuit oleh

Ungkapan keenam;

ألله أكبر

ALLAHU AKBAR.

Bila kemenangan telah diraih, akan timbullah berbagai macam godaan yang terkadang akan menyeret kepada kelalaian dan kelengahan yang diakibatkan oleh banyaknya kemudahan untuk meraih apa saja yang dimau. Harta, jabatan, fasilitas, wanita dan kehormatan akan mudah didapat. Sehingga patutlah diingatkan kembali dengan tahapan adzan ini, yaitu ALLAHU AKBAR.

Dialah yang besar, yang membantu dan menolong! Janganlah kemenangan yang diraih menimbulkan kebanggaan dan kehebatan, seakan-akan Allah tidak ikut serta dalam mengantarkan kebahagiaan dan kemenangan itu. Besarkanlah Allah! Agungkan Dia!

Sebagai rasa syukur. Luruskan kembali, jangan pongah dan sombong! Niat semula untuk membesarkan nama-Nya, bukan kita, bukan organisasi, lembaga, atau kelompok! Agar Allah tidak kembali memberikan kekalahan.

Dengan ungkapan Allah Maha Besar setelah meraih kemenangan, akan menyadarkan manusia bahwa kesuksesan dan keberhasilan yang diperolehnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah swt. Tidak satupun yang bisa terwujud di alam ini tanpa izin dari Allah. Pengakuan ini, akan menjadaikan manusia untuk selalu rendah hati dengan keberhasilannya, dan tidak berubah menjadi manusia yang angkuh dan sombong.

Akhir dari ungkapan azan adalah

لا إله إلا الله

LAA ILAAHA ILLALLAH.

Akhir dari perlangkahan adalah kembali kepada pemantapan tauhid. Koreksi ulang persaksian dan pengakuan pada awal perlangkahan yang penuh derita dan kesengsaraan begitu kokoh dan mantap. Apakah setelah kemenangan telah diraih, kebahagiaan didapat dan kesejahteraan telah dinikmati, masihkah Allah dinomorsatukan? Masihkah Allah diutamakan? Masihkah takut dan taat pada-Nya?

Ingatlah bahwa segala kemenangan itu jangan sampai melupakan Tuhan, karena kemenangan itu berkat bantuan dan pertolongan-Nya. "Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah." (al-Anfal: 10).

Dengan ungkapan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah setelah meraih sukses, akan menjadikan manusia sadar bahwa kesuksesan yang telah diraihnya mestilah dipergunakan kembalai untuk tujuan ibadah dan pengabdian kepada Allah. Betapa banyak, manusia yang sukses mencapai tujuannya, namun kesuksesan itu tidak banyak mendatangkan manfaat kepada manusia lain, bahkan tidak juga untuk dirinya sendiri.

Dengan ungkapan ini yang menjadi penutup kesuksesan, diharapkan bahwa setiap kesuksesan akan menjadikan pemiliknya menjadi manusia yang semakin berguna, bermanfaat serta semakin dekat dengan Allah melalui intensitas ibadahnya, baik secara kuntitas maupun kualitas.

Demikian bagaimana kita/saya memaknai sederhana dari panggilan Azan. Selamat memenuhi PanggilanNya untuk mendirikan Shalat. Wallahu alam bissawab

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum.wr.wb
Imam Puji Hartono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar