Sabtu, 04 Juli 2009

TETAP CANTIK DENGAN BERJILBAB

Mendengar kata "cantik", yang terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya, mata, hidung, dan bibir, tampak proporsional dan sedap dipandang mata. Cantik juga dikaitkan dengan kulit yang terawat baik, rambut hitam bercahaya, bentuk tubuh langsing dan gaya busana yang up to date.

Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai penyebab "ketidakcantikan" seseorang adalah JILBAB. Dengan pakaian yang Syar'i, memang bentuk tubuhnya yang langsing tidak tampak lagi. Kecantikan fisik merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikarunikan kepada beberapa saudari kita. Misalnya saja, ketika kita di berikan nikmat oleh Allah berupa harta yang sangat berharga, tentunya kita akan berhati-hati menjaga harta itu, melindunginya dari jamahan orang lain, dan hanya mempergunakannya pada saat yang benar-benar tepat. Lalu, bagaimana jika kenikmatan itu berupa kenikmatan fisik, khususnya kecantikan seorang wanita?

Mengobral kecantikan fisik pada setiap orang, seolah membiarkan barang yang amat berharga dijadikan tontonan banyak orang. Dengan begitu, status berharga pun hilang dan menjadi barang rendah dan murah, karena setiap orang akan dengan mudah menikmatinya. Beginikah yang diinginkan oleh para wanita? Lihatlah betapa emas dan berlian sangat berharga karena tidak mudah bagi setiap orang untuk memilikinya, dan betapa batu kerikil sangat tidak berharga karena semua orang bisa dengan mudah mendapatkannya bahkan tanpa melakukan pengorbanan yang berarti. Beginikah yang diinginkan oleh para wanita?

HIJAB, CANTIK DI MATA ALLAH SWT
Semua itu tidak akan terjadi jika para muslimah menuruti syari'at Allah SWT, mengenakan hijab. Berdasarkan perintah Allah, yang artinya : "Hai Nabi, katakan kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin :'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka' yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al-Ahzab: 59)

Di zaman Rasulullah SAW, para sahabiyah begitu mendengar ayat ini turun, langsung merobek selendang tebal mereka untuk di buat menjadi kerudung. Ummu salamah bercerita ketika ayat ini turun, maka wanita Anshar keluar dari rumah mereka dengan memakai kerudung, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung gagak.

BERJILBAB MENJADIKAN ANDA TETAP CANTIK
Berhijab itu cantik dimata Allah, walaupun di mata manusia pengumbar pandangan dianggap tidak kelihatan cantik. "Dengan berjilbab, saya jadi tetap cantik kan?" begitulah kiranya komentar yang tepat. tapi komentar itu bisa jadi salah besar. Lho kenapa? komentar itu bisa menjadi salah besar jika diubah menjadi, "Dengan berjilbab, kulit saya kan jadi tertutupi, tidak kepanasan, sehingga tidak menjadi coklat dan kusam. Nah saya kan jadi tambah can perubahantik."

Jika dimaknai seperti itu, amalan jilbab pun jadi sia-sia. Memang, ada muslimah yang berhijab dengan niat yang tidak benar. Salah satunya seperti di atas tadi, berhijab untuk menjaga kecantikan kulit. Ada yang berhijab untuk menutupi cacat di tubuhnya. Ada pula yang berhijab agar terkesan sebagai wanita shalihah dimata masyarakat.

Niat beramal shalih seharusnya dikembalikan ke jalan yang benar. Ingatlah sabda Nabi yang artinya : "Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan sampai pada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, ia pun akan mendapatkannya." (H.R. Bukhari dan Muslim).

SAYA BERJILBAB TAPI TETAP CANTIK, KAN?
Komentar di atas bisa saja muncul dari seorang muslimah. Sekali lagi, komentar di atas perlu dikritisi. Jika "tetap cantik" ia artikan sebagai tetap bisa tampil cantik di luar rumah dengan pakaian ketat walaupun panjang, bibir berlipstik walaupun berjilbab, maka sama tidak bolehnya dengan yang di atas tadi.

Muslimah dalam kategori tadi juga menjamur. Jilbab dalam pengertian mereka adalah yang penting pakai kerudung. Tidak peduli dengan kriteria lainnya. Jadilah mereka pengguna jilbab gaul yang kerudungnya mini, pakaiannya ketat dengan calana panjang sempit. Walaupun niatnya sudah benar karena Allah, namun jilbab yang ia kenakan itu tetap saja belum sempurna. Amal ibadah akan sempurna jika dua syarat telah terpenuhi, yaitu niatnya benar-benar karena Allah dan mengerjakannya sesuai dengan syariat.

Berikut ini ketentuan hijab yang Syar'i : Jilbab itu longgar, sehingga tidak memvisualisasikan lekuk-lekuk tubuh. Tebal -tidak tipis atau transparan, sehingga tidak kelihatan sedikitpun bagian tubuhnya, warna kulit misalnya. Tidak memakai wangi-wangian. Tidak meniru model pakaian wanita kafir. Tidak memilih warna kain yang mencolok sehingga menjadi pusat perhatian. Menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.
(snn-4/berbagai sumber/El Fata)

Dikutip (dengan sedikit perubahan) dari: Koran masjid An Nashr Sektor V edisi 3 april 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar